Iran selenggarakan pemilu pertama sesudah pencabutan sanksi

Pemilu Iran

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Sekitar 65 juta pemilih menjalankan hak mereka di Iran.

Jutaan warga Iran melakukan pemungutan suara pada pemilu yang diselenggarakan hari Jumat (26/02), yang merupakan pemilu pertama sesudah pencabutan sanksi terhadap negara itu.

Mereka memilih anggota parlemen dan anggota Majelis Ahli, sebuah dewan ulama yang akan memilih pemimpin tertinggi Iran.

Kelompok reformis berharap bisa memperkuat pengaruh mereka di kedua lembaga yang selama ini didominasi oleh kelompok konservatif.

Hasil dari pemilu ini mungkin bisa mempengaruhi peluang presiden Hassan Rouhani, dari kelompok reformis, untuk terpilih lagi pada tahun 2017.

Pemilu parlemen akan memilih 290 anggota untuk masa jabatan empat tahun dari sekitar 12.000 calon yang terdaftar.

Para pemilih juga akan memilih 88 anggota Majelis Ahli untuk masa jabatan delapan tahun.

Hassan Khomeini

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Hassan Khomeini (tengah), cucu dari pemimpin revolusi Iran Ayatollah Khomeini memasukkan surat suara.

Anggota Majelis ini kemungkinan juga akan memilih pengganti bagi Ayatollah Khamenei, yang saat ini berusia 76 tahun dan kondisi kesehatannya meburuk.

Tempat pemungutan suara dibuka pukul delapan pagi waktu setempat dan ditutup pukul enam sore, dengan 65 juta orang yang berhak memilih.

Menurut wartawan BBC Persia, ekonomi merupakan isu utama dalam pemilu ini.

Dengan dicabutnya sanksi negara-negara Barat, para pemodal mulai kembali ke Iran dan muncul harapan tinggi bagi perbaikan kehidupan sehari-hari di sana.

Hasil pemilihan Majelis Ahli diharapkan bisa didapat setelah akhir pekan.

Sementara pemilu parlemen diperkirakan akan diteruskan ke putaran kedua pada bulan April mendatang.