Konferensi Perubahan Iklim di Paris diperpanjang

Laurent Fabius dan Ban Ki-moon

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Menlu Prancis Laurent Fabius dan Sekjen PBB Ban Ki-moon mengumumkan perkembangan konferensi kepada wartawan.

Para perunding dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris berencana menyelesaikan agenda pada hari Sabtu (12/12), atau sehari lebih panjang dari waktu yang direncanakan.

Upaya untuk mencapai kesepakatan hari Jumat menemui jalan buntu sehingga memaksa adanya perpanjangan waktu.

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan negosiasi ini merupakan yang "paling kompleks, sulit tapi sangat penting bagi kemanusiaan".

Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius yang memimpin perundungan merasa optimis dengan jalannya perundingan.

"Kami hampir tiba di ujung jalan, dan saya optimis," katanya.

Konferensi ini memasuki putaran akhir utuk mencoba mengamankan kesepakatan global yang akan merancang strategi bersama jangka panjang untuk menghadapi perubahan iklim.

Sekalipun demikian, masih ada beberapa isu yang belum terselesaikan.

Tidak mengejutkan

Banner

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Berbagai pesan yang dipasang di ruang publik sehubungan dengan Konferensi Perubahan Iklim.
Bahan bakar fosil

Sumber gambar, epa

Keterangan gambar, Kampanye selama konferensi untuk meminta diakhirinya pemakaian bahan bakar fosil.

Para peserta konferensi yang disebut COP21 ini masih bekerja menyusun kata-kata yang akan digunakan dalam dokumen yang menjadi capaian penting itu.

Jika kesepakatan tercapai, maka penerapannya akan dilakukan pada tahun 2020.

Para pengamat mengatakan penundaan kesepakatan ini tidak mengejutkan karena para perunding mencoba mencari kesepakatan yang akan mengarah pada perubahan jangka panjang dalam perekonomian dunia.

Beberapa pegiat tak puas pada rancangan kesepakatan hari Kamis, menyebutnya tak mencerminkan "keadilan iklim".

"Negara kaya punya tanggung jawab untuk memastikan kesepakatan yang adil bagi semua, tak hanya bagi mereka," kata Adriano Campolina dari ActionAid.