Aliansi Uni Eropa, Afrika, Karibia dan Pasifik untuk loloskan kesepakatan iklim

Sumber gambar, AFP
Uni Eropa telah membentuk aliansi dengan 79 negara Afrika, Karibia dan Pasifik dalam usaha akhir untuk mendorong tercapainya kesepakatan dalam <link type="page"><caption> konferensi perubahan iklim COP21 di Paris</caption><url href=" Filename: http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/11/151130_dunia_iklim_holland" platform="highweb"/></link>, Prancis.
Aliansi baru ini telah menyetujui posisi bersama mengenai sejumlah aspek yang paling memecah belah dalam kesepakatan yang diusulkan.
Mereka mengatakan kesepakatan Paris harus bersifat mengikat secara hukum, inklusif dan adil, serta ditinjau setiap lima tahun.
Uni Eropa akan membayar 475 juta euro (Rp7,1 triliun) untuk mendukung aksi-aksi iklim di negara-negara mitra sampai dengan tahun 2020.
Aliansi ini juga setuju bahwa isi kesepakatan Paris harus menyertakan "transparansi dan sistem akuntabilitas" untuk mengikuti kemajuan negara mengenai ikrar mereka untuk iklim, dan berbagi tentang praktik terbaik.
Sangat penting
Perundingan yang tengah diadakan di Le Bourget, Prancis, telah menunjukkan tanda-tanda kemajuan sejak perumusan isi kesepakatan disetujui oleh semua pihak pada hari Sabtu (5/12).
Pengumuman dari Uni Eropa ini kemungkinan akan mendorong peluang tercapainya kesepakatan.
"Sangatlah penting bahwa pada tahap negosiasi ini, 79 negara dari Afrika, Karibia dan Pasifik serta 28 negara Eropa telah bersatu untuk memperjuangkan tercapainya kesepakatan yang sangat ambisius dalam konferensi perubahan iklim," kata komisaris iklim Uni Eropa Miguel Arias Canete.
"Kami memandang sangat penting untuk bersatu dalam posisi ini. Dulu kami bersatu di Durban (2011) dan kini kami bersatu juga."









