Rusia peringatkan risiko 'perang proksi' di Suriah

Pertemuan Wina yang mencari solusi atas perang Suriah melibatkan negara-negara yang mendukung kelompok pemberontak dan pendukung pemerintahan Presiden Assad.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Pertemuan Wina yang mencari solusi atas perang Suriah melibatkan negara-negara yang mendukung kelompok pemberontak dan pendukung pemerintahan Presiden Assad.

Rusia mengingatkan risiko munculnya "perang proksi" di Timur Tengah setelah AS mengatakan mereka akan mengirimkan kekuatan khusus ke Suriah.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa langkah ini menunjukkan <link type="page"><caption> pentingnya kerjasama antara Amerika Serikat dan Rusia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151020_dunia_rusia_as_suriah" platform="highweb"/></link>.

Pejabat AS mengatakan bahwa "kurang dari 50" tentara akan "melatih, memberi masukan, dan membantu" kekuatan oposisi untuk melawan kelompok militan ISIS.

Ini akan menjadi pertama kalinya tentara AS beroperasi secara terbuka di Suriah.

Lavrov mengatakan bahwa AS sudah memutuskan untuk melakukan langkah "unilateral dan <link type="page"><caption> tanpa melibatkan ke kepemimpinan Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151029_dunia_suriah" platform="highweb"/></link>".

Menurutnya, "Saya yakin bahwa baik AS maupun Rusia tidak ingin ini menjadi semacam perang proksi tapi buat saya, jelas, bahwa situasi ini menekankan pentingnya kerjasama militer antar-negara."

Dia berbicara setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dan duta PBB untuk Suriah Staffan de Mistura di Wina.

"Pada dasarnya, peran kami, dan strateginya, untuk membantu kekuatan lokal, tapi apakah kemudian itu membahayakan tentara AS? Jelas saja, tak perlu lagi ditanyakan," kata Menteri Pertahanan AS Ash Carter pada wartawan.

Tentara khusus AS akan dikirim ke Suriah untuk "melatih, memberi masukan, dan membantu" kekuatan oposisi atau pemberontak Suriah melawan ISIS.

Sumber gambar, US ARMY

Keterangan gambar, Tentara khusus AS akan dikirim ke Suriah untuk "melatih, memberi masukan, dan membantu" kekuatan oposisi atau pemberontak Suriah melawan ISIS.

Dia tidak menutup kemungkinan pengiriman lanjutan tentara khusus ke kawasan tersebut, jika misi pengiriman pertama dianggap sukses.

Selama lebih dari setahun, kekuatan koalisi pimpinan AS sudah melakukan serangan melawan ISIS yang mengendalikan sebagian besar Suriah utara dan sebagian Irak.

Amerika Serikat baru-baru ini menghentikan upaya melatih tentara pemberontak Suriah dan memilih untuk menyediakan senjata dan peralatan langsung pada pemimpin pemberontak.

Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan bahwa Presiden Obama ingin memberi bantuan tambahan buat pejuang pemberontak Suriah yang sudah menunjukkan kesuksesan di medan perang.

"Kini ada kekuatan oposisi yang moderat sekitar 72km di luar Raqqa (kawasan yang dikuasai ISIS)," katanya. "Presiden siap untuk mengintensifkan elemen-elemen yang menunjukkan hasil."

Earnest menambahkan, "Ini adalah strategi yang lebih intensif yang disebut (Obama) setahun lalu."

Pertemuan di Wina pekan ini <link type="page"><caption> untuk pertama kalinya melibatkan Iran</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151028_dunia_iran_suriah" platform="highweb"/></link> dan bertujuan membahas perbedaan antara AS dan sekutunya yang mendukung kelompok pemberontak dan sekutu penting pemerintah Suriah yaitu Rusia dan Iran.