Presiden Sudan Selatan tandatangani kesepakatan damai

Presiden Salva Kiir

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Presiden Salva Kiir akhirnya menandatangani kesepakatan damai di ibukota Juba.

Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, menandatangani kesepakatan damai dengan kelompok pemeberontak setelah mendapat ancaman sanksi dari PBB.

Saat upacara penandatanganan di ibukota Juba, dia mengatakan punya 'catatan' tentang bagaimana perundingan dilakukan dan beberapa pasal dalam kesepakatan.

Pemimpin kelompok pemberontak, Riek Machar, sudah menandatangani kesepakan pekan lalu namun Presiden Kiir masih menolak.

<link type="page"><caption> PBB sebelumnya menyatakan siap ‘beraksi sesegera mungkin’</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150826_dunia_sudan_pbb" platform="highweb"/></link> jika Presiden Kiir tidak menandatangani kesepakatan damai dengan pemberontak.

Presiden Salva Kiir

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Amerika Seriakt tidak mengakui catatan yang disampaikan Presiden Salva Kiir.

Kesepakatan ini diharapkan akan mengakhiri perang saudara yang brutal dan Machar kembali menjabat wakil presiden.

Perang antara pasukan kedua pemimpin itu selama 20 bulan belakangan menyebabkan sekitar 2,2 juta orang mengungsi dari rumahnya di negara termuda di dunia ini, yang memisahkan diri dari Sudan pada tahun 2011.

Amerika Serikat menyambut baik kesepakatan dan menegaskan tidak 'mengakui catatan apapun' yang diangkat Presiden Kiir.

Dalam pernyatannya, Penasehat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Susan Rice, mengatakan untuk mencapai perdamaian abadi dibutuhkan 'komitmen dan ketetapan hati dari semua pihak yang berkonflik'