Konflik Sudan Selatan, anak-anak bertahan sendiri

Anak di penampungan PBB, Juba
Keterangan gambar, Sebagian anak ditampung PBB, tetapi banyak lainnya bersembunyi di daerah-daerah terpencil.

Ribuan anak-anak kemungkinan terpisah dari keluarga mereka akibat kekerasan terbaru di Sudan Selatan, kata badan bantuan.

Lembaga sosial Save the Children mengatakan banyak anak bertahan hidup sendiri di daearah-daerah terpencil.

Beberapa di antara mereka menyaksikan orang tua mereka dibunuh menyusul pertempuran yang pertama kali pecah dua pekan lalu dan kemudian menyebar ke banyak wilayah Sudan Selatan.

"Dalam waktu tiga hari saja, kami mendaftar 60 anak di satu tempat di Juba yang telah terpisahkan dari keluarga mereka karena konflik," kata Helen Mould dari Save the Children.

Sejauh ini lembaganya belum bisa menjangkau seluruh daerah yang dilanda kekerasan sehingga belum bisa mengetahui kondisi yang sebenarnya di lapangan.

Meskipun banyak orang berlindung di kompleks-kompleks penampungan yang didirikan PBB atau di komunitas penampung di daerah-daerah aman, banyak warga lainnya termasuk anak-anak bersembunyi di daerah rawa.

Mereka tidak mempunyai tempat berlindung dan terpaksa meminum air yang ada.

Lebih dari 121.000 orang telah melarikan diri dari rumah mereka ketika pertempuran berkobar dan banyak keluarga terpisah ketika menyelamatkan diri, kata Save the Children.

<link type="page"><caption> Konflik berawal dari sengketa kekuasaan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/12/131225_southsudan.shtml" platform="highweb"/></link> antara pemimpin pemberontak Riek Machar dan Presiden Salva Kiir tetapi kemudian menyebar menjadi konflik antaretnik.

Etnik Dinka, etnik asal Presiden Kiir, berhadapan dengan etnik Nuer, kelompok asal Machar.