Siapa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang baru?

Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images
- Penulis, BBC News Persian
- Waktu membaca: 5 menit
Mojtaba Khamenei ditetapkan oleh Majelis Ahli sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan media pemerintah Iran.
Dalam pernyataan yang dibacakan penyiar stasiun televisi nasional, Majelis Ahli menegaskan bahwa proses penunjukan pemimpin tidak terhenti meski negara berada dalam situasi perang dan menghadapi ancaman langsung dari musuh.
Mereka juga menyebutkan bahwa serangan bom terhadap kantor Sekretariat Majelis Ahli—yang menewaskan sejumlah staf serta anggota tim keamanannya—tidak menghentikan upaya lembaga itu.
Majelis Ahli merupakan badan ulama beranggotakan 88 orang yang berwenang memilih pemimpin tertinggi.
Setelah membacakan pernyataan tersebut, penyiar kemudian menyerukan, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Khamenei adalah pemimpin."
Stasiun penyiaran nasional Irib serta kantor berita semi-resmi Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC turut menyiarkan pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menyambut penunjukan Mojtaba Khamenei.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut Mojtaba Khamenei sebagai "ahli hukum yang mumpuni, pemikir muda, dan sosok paling memahami isu-isu politik serta sosial."
IRGC juga menyatakan "rasa hormat, pengabdian, dan ketaatan" kepada Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa para anggotanya "siap untuk patuh sepenuhnya dan berkorban demi menjalankan perintah ilahi Pemimpin Tertinggi."

Sumber gambar, Tasnim News Agency
Berbeda dengan sang ayah, Mojtaba Khamenei selama ini memilih berada di balik layar. Dia tidak pernah menduduki jabatan pemerintahan, tidak pernah berpidato di depan publik, maupun memberi wawancara. Hanya segelintir foto dan rekaman video dirinya yang beredar.
Meski begitu, desas-desus mengenai pengaruh Mojtaba sudah lama beredar. Ia disebut sebagai "penjaga gerbang" menuju ayahnya.
Informasi diplomatik Amerika Serikat yang dibocorkan WikiLeaks pada akhir 2000-an bahkan menggambarkannya sebagai "kekuatan di balik jubah". Dia juga sosok yang dianggap "pemimpin tangguh dan cakap" di dalam rezim, menurut kantor berita Associated Press.

Sumber gambar, EPA
Namun, terpilihnya Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi berpotensi menimbulkan kontroversi.
Republik Islam Iran lahir pada 1979 setelah menggulingkan monarki. Salah satu pemahaman dalam gerakan itu adalah pemimpin tertinggi harus dipilih berdasarkan kedudukan religius dan rekam jejak kepemimpinan, bukan lewat garis keturunan.
Ali Khamenei sendiri hanya pernah berbicara secara umum mengenai masa depan kepemimpinan Republik Islam. Dua tahun lalu, seorang anggota Majelis Ahli menyebut Khamenei menolak gagasan Mojtaba sebagai kandidat. Tetapi sang pemimpin tidak pernah menanggapi spekulasi itu secara terbuka.
Lalu, siapa Mojtaba Khamenei?
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota di timur laut Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara keluarga Khamenei. Pendidikan menengahnya ditempuh di Sekolah Alavi, sebuah lembaga pendidikan keagamaan di Teheran.
Pada usia 17 tahun, Mojtaba sempat beberapa kali bertugas di militer selama Perang Iran-Irak. Konflik berdarah yang berlangsung delapan tahun itu semakin memperdalam kecurigaan rezim terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat, yang saat itu mendukung Irak.
Pada 1999, Mojtaba melanjutkan studi agama di Qom, kota suci yang menjadi pusat penting teologi Syiah. Menariknya, ia baru mengenakan pakaian ulama pada periode ini.
Keputusan untuk menekuni studi keagamaan pada usia 30 tahun dianggap tidak lazim, karena biasanya dilakukan sejak muda.
Sebelum terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba masih berstatus sebagai ulama tingkat menengah.

Sumber gambar, West Asia News Agency Via Reuters
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah media dan pejabat yang dekat dengan lingkaran kekuasaan di Iran mulai menyebut Mojtaba Khamenei dengan gelar "Ayatollah", sebuah titel ulama senior.
Pergeseran ini dipandang sebagian pengamat sebagai upaya untuk meningkatkan legitimasi religius Mojtaba.
Dalam tradisi studi keagamaan, gelar "Ayatollah" serta kemampuan mengajar kelas tingkat lanjut dianggap sebagai indikator tingkat keilmuan dan pengetahuan seseorang. Status tersebut juga dipandang sebagai salah satu syarat penting dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi.
Namun, ada preseden serupa. Ali Khamenei sendiri dengan cepat dipromosikan menjadi "Ayatollah" setelah ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi kedua Iran pada 1989.
Tuduhan ikut campur
Nama Mojtaba Khamenei pertama kali mencuat ke perhatian publik pada pemilihan presiden 2005, yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad, seorang populis garis keras.
Dalam surat terbuka kepada Ali Khamenei, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut campur dalam proses pemungutan suara melalui jaringan Garda Revolusi (IRGC) dan milisi Basij—yang disebut menyalurkan dana kepada kelompok religius demi mendukung kemenangan Ahmadinejad.
Empat tahun kemudian, tuduhan serupa kembali muncul. Pemilihan ulang Ahmadinejad pada 2009 memicu gelombang protes besar-besaran yang dikenal sebagai Gerakan Hijau. Sebagian demonstran bahkan meneriakkan slogan menolak kemungkinan Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Mostafa Tajzadeh, kala itu wakil menteri dalam negeri, menyebut hasil pemilu sebagai "kudeta elektoral". Ia kemudian dipenjara selama tujuh tahun, yang menurutnya terjadi atas "kehendak langsung Mojtaba Khamenei".
Dua kandidat reformis, Mir-Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi, dijatuhi hukuman tahanan rumah setelah pemilu 2009.
Pada Februari 2012, menurut sumber Iran yang dikutip BBC News Persian, Mojtaba sempat bertemu Mousavi dan mendesaknya untuk menghentikan aksi protes.

Sumber gambar, Getty Images
Banyak pihak memperkirakan Mojtaba Khamenei akan melanjutkan garis kebijakan keras ayahnya. Sebagian juga meyakini, seorang pria yang kehilangan ayah, ibu, dan istrinya akibat serangan udara AS-Israel kecil kemungkinan akan tunduk pada tekanan Barat.
Namun, tantangan besar menantinya: memastikan kelangsungan Republik Islam sekaligus meyakinkan publik bahwa ia sosok tepat untuk membawa negara itu keluar dari krisis politik dan ekonomi.
Rekam jejak kepemimpinannya sejauh ini masih minim, dan persepsi bahwa republik berubah menjadi sistem turun-temurun bisa semakin memperdalam ketidakpuasan masyarakat.
Mojtaba diyakini akan menjadi target nyata. Menteri Pertahanan Israel sebelumnya menegaskan, siapa pun pengganti Khamenei akan menjadi "sasaran yang tak terbantahkan untuk dieliminasi."


























