Dua kerangka ditemukan di Thailand

thailand kamp

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pemberantasan perdagangan manusia di Thailand dilanjutkan ke gunung Khao Kaew, Thailand Selatan, sementara dua mayat baru ditemukan.

Pejabat Thailand menyatakan mereka menemukan dua kerangka manusia yang kemungkinan besar terkait dengan <link type="page"><caption> penemuan 26 mayat minggu lalu</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150504_thailand" platform="highweb"/></link>.

Gubernur Provinsi Phang Nga, Manit Rattanasenee, menyatakan kedua kerangka manusia itu berada di sebuah kamp yang ditelantarkan.

Salah satu dari kerangka itu ditemukan dalam keadaan terikat di sebuah pohon.

Phang Nga terletak beberapa ratus kilometer dari lokasi sebelumnya di Provinsi Songkhla, dimana 26 mayat ditemukan di sebuah kuburan dangkal.

Provinsi ini terletak di pantai dan diketahui sebagai salah satu jalan masuk yang digunakan untuk menyelundupkan orang-orang etnis Rohingya yang mengungsi dari Myanmar karena ancaman keamanan.

Kedua kerangka ini diduga kuat adalah orang dari etnis Rohingya yang diselundupkan ke Thailand.

Perdagangan manusia

Bulan Juni tahun lalu Thailand, bersama Malaysia, mengalami penurunan dalam peringkat mereka ke peringkat terendah dalam menangani perdagangan manusia.

Thailand sudah menetapkan rencana aksi untuk mengeluarkan diri dari daftar hitam itu, tapi temuan dari AP <link type="page"><caption> memperlihatkan keterlibatan kapal mereka</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/04/150403_trensosial_benjina_am" platform="highweb"/></link> dalam mempekerjakan warga negara Myanmar, Kamboja dan Laos sebagai buruh, bahkan budak.

"Kami akan terus mencari, karena ini berarti para penyelundup manusia itu masih berkeliaran dan membawa orang-orang yang diselundupkan itu bersama mereka," kata Mayor Jendral Amphon Buarubporn, kepala polisi Provinsi Songkhla yang ikut serta dalam pencarian ini ke gunung Khao Kaew bersama dengan wartawan.

Banyak pihak yang mengkritik turunnya pejabat penting dan media itu hanya aksi kehumasan saja, dan bukan langkah pembasmian yang sesungguhnya.