Empat orang ditahan dalam kasus penemuan kuburan massal di Thailand

Thailand

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Perbatasan Thailand merupakan rute yang dilewati oleh Muslim Rohingya.

Tiga warga Thailand dan satu orang warga negara Myanmar ditahan di Thailand atas dugaan kasus perdagangan manusia, setelah penemuan kuburan massal.

Kuburan, yang berisi 26 jenazah, ditemukan pekan lalu di sebuah kamp yang terlantar di wilayah perbatasam Malaysia.

Rute perbatasan ini biasa digunakan oleh Muslim Rohingya yang menghindari hukuman di Myanmar ( yang sebelumnya dikenal sebagai Burma).

Para pejabat yakin puluhan jenazah tersebut merupakan imigram yang ditahan di kamp oleh pelaku perdagangan manusia yang berupayan meminta tebusan.

Polisi mengatakan <link type="page"><caption> warga Thailand ditahan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/05/150504_thailand_penangkapan_rohingya" platform="highweb"/></link> pada Senin (04/05) termasuk pejabat lokal dari provinsi Songkhla - lokasi tempat penemuan kuburan massal - dan dua aparat desa.

Kelompok HAM menuduh para pejabat dan polisi lokal mengetahui atau terlibat dalam perdagangan manusia.

Warga Myanmar yang ditahan bernama Soe Naing, yang dikenal sebagai Anwar. Dia merupakan 'tokoh sentral yang menjalankan kamp dan meminta tebusan," jelas wakil komandan polisi Anuchon Chamart kepada kantor berita AFP.

Tersangka lain - yang juga pejabat lokal - masih diburu oleh polisi.

Banyak korban ditemukan di kamp diduga akibat penyakit atau kelaparan. Seorang pria ditemukan dalam keadaan hidup mengatakan kepada media Thailand akan ada kuburan massal di area tersebut.

Setiap tahunribuan orang menjadi korban perdagangan lintas negara Thailand dan Malaysia.

Terutama Muslim Rohingya yang menggunakan rute tersebut untuk melarikan diri dari hukuman dan kekerasan sektarian di Myanmar.

Pada 2012, lebih dari 200 orang tewas dan ribuan orang mengungsi setelah kekerasan terjadi antara penganut Buddha dan Muslim di Myanmar. Sejak peristiwa itu, kekerasan anti-Muslim banyak terjadi.

Pada Desember, PBB meloloskan resolusi yang mendesak Myanmar untuk memberikan akses kepada Rohingya untuk menjadi warga negara mereka, banyak diantara mereka yang tidak memiliki kewarganegaraan.