Unjuk rasa Iran: 'Tak akan kembali', hari ke-100 protes warga

Protesters in Tehran (01/10/22)

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Unjuk rasa di Iran dimulai di wilayah Kurdi, lalu menyebar ke penjuru negeri.
    • Penulis, Parham Ghobadi
    • Peranan, BBC Persia
  • Waktu membaca: 4 menit

Seratus hari berlalu sejak protes dimulai, dan unjuk rasa ini menjadi gerakan anti-pemerintah terlama di Iran. Setidaknya rekor ini terjadi sejak 1979 saat revolusi Iran. Aksi unjuk rasa yang meluas telah mengguncang rezim, tapi ada harga besar yang harus dibayar rakyatnya.

Lebih dari 500 demonstran termasuk 69 anak-anak tewas, menurut laporan Kantor Berita Aktivis untuk Hak Asasi Manusia (HRANA).

Dua demonstran dieksekusi mati, dan setidaknya 26 lainnya menghadapi nasib yang sama, di mana Amnesty Internasional menyebutnya sebagai "pengadilan abal-abal".

Meskipun unjuk rasa pernah terjadi di Iran sebelumnya - sekali di 2017 sampai awal 2018, dan lainnya terjadi pada November 2019 - tetapi unjuk rasa kali ini unik, karena melibatkan orang-orang dari pelbagai lapisan masyarakat dan perempuan.

Mereka yang mengambil peran utama melalui slogan "Perempuan, Kehidupan, Kemerdekaan".

Sejumlah selebriti di Iran mengambil langkah yang tak dapat diputar ulang untuk mendukung unjuk rasa, membuat mereka ditangkap atau diasingkan.

Taraneh Alidoosti, seorang artis terkenal Iran, telah ditahan di penjara Evin yang terkenal kejam. Ia ditahan setelah mengutuk eksekusi mati terhadap seorang demonstran muda.

Sebelumnya, dia mempublikasi foto dirinya tanpa menggunakan jilbab - hal yang diwajibkan pemerintah - sambil menggenggam spanduk bertuliskan slogan pengunjuk rasa.

"Saya pernah bekerja dengan Taraneh untuk empat film, dan sekarang dia dipenjara karena haknya mendukung rekan senegaranya, dan menentang hukuman yang tidak adil," Asghar Farhadi, sutradara Alidoosti dalam film pemenang Oscar The Salesman, menulis di Instagram.

"Kalau menunjukkan dukungan seperti ini dianggap kriminalitas, berarti puluhan ribu orang yang ada di negeri ini adalah kriminal," tambah Farhadi.

'Ancaman pembunuhan'

Artis Iran lainnya yang terkenal dan sudah meninggalkan negaranya, Pegah Ahangarani berkata kepada BBC Persia: "Kedua belah pihak telah diradikalisasi, rezim terlibat dalam penumpasan ini, dan orang-orang di industri film menanggapinya.

"Iran tak bisa kembali ke masa sebelum Mahsa Amini," merujuk pada perempuan Kurdis Iran yang tewas dalam penahanan polisi moral pada 16 September dan memicu unjuk rasa.

Lainnya adalah Hamid Farrokhnezhad, seorang aktor terkenal Iran yang sudah pindah ke AS awal bulan ini.

Ia menyebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei sebagai "diktator", membandingkannya dengan Franco, Stalin dan Mussolini.

Woman at pro-Iranian protest rally in Mexico City (19/12/22)

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, "Perempuan, Kehidupan, Kemerdekaan" menjadi slogan dari pengunjuk rasa.

Ali Karimi, salah satu mantan pemain sepak bola terkenal di Iran, yang semula tinggal di Dubai, juga mendukung aksi unjuk rasa. Dia mengatakan badan intelijen Iran mengancam membunuhnya, yang membuatnya harus pindah ke Amerika Serikat.

Karimi sekarang menjadi salah satu kritikus paling lantang terhadap rezim Iran melalui akun Instagramnya yang memiliki 14 juta pengikut.

Mantan pesepak bola Iran lainnya, Ali Daei. Toko perhiasan dan restorannya ditutup oleh pengadilan Iran setelah ia mendukung unjuk rasa secara terbuka.

Hal yang membedakan unjuk rasa kali ini dari sebelumnya, salah satunya, adalah kemunculan penggunaan bom molotv oleh para demonstran.

Bom botol berisi bahan bakar ini digunakan untuk melawan basis milisi Bajij dan Hawza, atau sekolah agama untuk ulama Muslim Syiah.

Menepak sorban

Generasi Z Iran berada di garis terdepan dari unjuk rasa ini, menentang aturan agama yang ketat dan memunculkan tren baru seperti membakar jilbab.

Tren lain di antara demonstran muda ini disebut sebagai "menepak sorban" - menyelinap di belakang ulama Muslim Syiah, menepak sorbannya hingga jatuh, lalu kabur.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

Arshia Emamgholizadeh, pria 16 tahun, ditangkap di kota Tabriz akhir bulan lalu, dengan tuduhan "menepak sorban"

Dia ditahan selama 10 hari sebelum akhirnya dibebaskan. Dua hari kemudian, dia bunuh diri, hal yang keluarganya yakini adanya masalah saat ia diperlakukan dalam penjara.

Selama penahanan, Arshia dipukuli dengan pentungan dan diberikan pil yang tidak diketahui, kata seorang sumber yang dekat dengan pihak keluarga kepada BBC Persia.

Pihak berwenang Iran bukan hanya menindak demonstran, tapi juga menggunakan mayat mereka yang meninggal di dalam tahanan atau dibunuh sebagai posisi tawar untuk membungkam keluarga korban.

Khawatir dengan ancaman itu, saudara laki-laki dari demonstran yang meninggal, kemudian mencuri mayat korban dari kamar jenazah, dan membawanya dengan berkendara berjam-jam, kata seorang sumber kepada BBC Persia.

Anggota keluarga korban lainnya, mengatakan mereka menemukan tanda penganiayaan pada mayat korban berusia 23 tahun, Hamed Salahshoor yang meninggal di tahanan. Hal ini mereka ketahui setelah mengangkat jenazahnya yang sudah dikubur paksa sejauh 30 kilometer dari rumah mereka.

Eksekusi mati dan penyiksaan

Sejauh ini, dua pria telah dieksekusi mati setelah dinyatakan bersalah atas masalah keamanan nasional yang tidak jelas terkait dengan unjuk rasa. Hal ini dikutuk oleh kelompok HAM sebagai kegagalan besar keadilan.

Banyak dari mereka yang terancam hukuman mati, mengaku disiksa.

Jaringan HAM Kurdistan, sebuah organisasi non-pemerintah, mengatakan seorang penyanyi rap keturunan Kurdi-Iran, Saman Yasin yang diancam hukuman mati, melakukan upaya bunuh diri pada Selasa. Kelompok ini sebelumnya mengatakan Yasin disiksa saat di tahanan.

Dalam sebuah rekaman audio yang diperoleh BBC Persia, seorang binaragawan amatir berusia 26 tahun, Sahand Noormohammadzadeh diduga telah menjadi target sejumlah penyiksaan psikologis di penjara. Bentuk penyiksaan di mana korban dibuat merasa bahwa eksekusi matinya sedang berlangsung tapi tidak dilakukan.

Sahand Noormohammadzadeh holds a medal he won for bodybuilding

Sumber gambar, Sahand Noormohammadzadeh

Keterangan gambar, Sahand Noormohammadzadeh, seorang binaragawan, mengatakan dirinya tidak bersalah di pengadilan akhir bulan kemarin.

Noormohammadzadeh dijatuhi hukuman mati November lalu setelah dia dinyatakan bersalah atas tuduhan "kebencian terhadap Tuhan" (menurut hukum Iran sebagai "menimbulkan keresahan publik" dengan senjata api).

Dia dituduh memblokir lalu lintas di jalan raya dengan merobohkan pagar selama aksi protes pada 23 September. Tuduhan yang sudah ia bantah.

BBC Persia juga memperoleh foto rontgen dari seorang ahli radiologi yang dipenjara. Foto tersebut menunjukkan tiga tulang iganya patah, dan menusuk ke dalam paru-parunya.

Dr Hamid Ghare-Hasanlou dinyatakan bersalah atas tuduhan "korupsi di Bumi", sebuah kejahatan yang akan membawanya pada hukuman mati.

Seorang sumber mengatakan kepada Amnesty Internasional bahwa Dr Ghare-Hasanlou menjadi sasaran penyiksaan dan perlakuan buruk untuk mendapatkan "pengakuan" yang dipaksakan.

Keterangan video, Watch: The secret diaries of women protesting in Iran