Piala Dunia 2022: Pria Iran ditembak di bagian kepala saat merayakan kekalahan timnasnya sendiri

Keterangan video, Pengunjuk rasa menari dan membunyikan klakson mobil di Teheran setelah tim sepak bola tersingkir dari Piala Dunia.
    • Penulis, David Gritten
    • Peranan, BBC News
  • Waktu membaca: 4 menit

Seorang pria dilaporkan dibunuh oleh petugas keamanan di bagian utara Iran saat pengunjuk rasa anti-pemerintah secara terbuka merayakan kekalahan timnas mereka di Piala Dunia.

Kalangan aktivis mengatakan Mehran Samak ditembak di bagian kepala setelah membunyikan klakson mobilnya di Bandar Anzali pada Selasa Malam.

Rekaman video dari kota lainnya menunjukkan kerumunan bersorak dan berdansa di jalan-jalan, sebagai tanda perayaan kegagalan timnas Iran di Piala Dunia.

Banyak warga Iran menolak mendukung timnas sepak bola mereka di Qatar, karena menganggapnya mewakili pemerintah Republik Islam.

Iran

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty

Keterangan gambar, Pendukung timnas Iran menonton laga tim negaranya melawan AS di sebuah acara nonton bareng di Teheran.

Media yang berafiliasi dengan pemerintah menyalahkan adanya kekuatan musuh, baik di dalam maupun di luar Iran karena memberikan tekanan kepada para pemain timnas sehingga mereka kalah 1-0 dari Amerika Serikat pada laga penentuan grup.

Para pemain timnas Iran tidak menyanyikan lagu kebangsaan mereka pada pertandingan pertama, sebagai ekspresi nyata solidaritas dengan pengunjuk rasa. Saat itu Iran dikalahkan Inggris 6-2.

Tapi pada laga selanjutnya berbeda lagi. Lagu kebangsaan Iran dinyanyikan timnas pada pertandingan melawan Wales.

Timnas Iran menang 2-0, dan dilanjutkan dengan pertandingan penuh nuansa politik melawan timnas AS.

Iran

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty

Keterangan gambar, Sejumlah suporter timnas Iran menonton laga penentuan tim negaranya melawan timnas AS di acara nonton bareng di Teheran.

Sejumlah pengunjuk rasa melihat lagu kebangsaan yang dinyanyikan timnas Iran sebagai bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan masyarakat.

Di sisi lain, ada juga laporan yang menyebutkan timnas mendapat tekanan kuat dari otoritas Iran.

Baca juga:

Konflik politik yang tak berkesudahan di Iran dimulai 10 minggu lalu setelah kematian perempuan 22 tahun, Mahsa Amini saat menjalani penahanan polisi moral di Tehran.

Mahsa dituduh melanggar aturan tata cara penggunaan jilbab.

Pihak berwenang menanggapi apa yang mereka gambarkan sebagai "kerusuhan" dengan tindak kekerasan di mana kelompok hak asasi manusia Iran yang berbasis di Norwegia mengatakan setidaknya 448 orang tewas, termasuk 60 anak-anak.

Lebih dari 18.000 lainnya dilaporkan telah ditangkap.

Mehran Samak

Sumber gambar, Social media

Keterangan gambar, Kalangan aktivis mengatakan Mehran Samak ditembak pasukan keamanan setelah menekan klakson mobilnya sebagai tanda protes.

Mehran ditembak saat dia menekan klakson mobilnya di kota Laut Kaspia, Bandar Azali pada Selasa malam untuk merayakan kekalahan timnas sepak bola Iran.

Para pelayat terdengar meneriakkan "Kamu najis, kamu tak bermoral. Tapi saya perempuan merdeka" - sebuah slogan yang kerap diteriakan pengunjuk rasa.

Pasukan keamanan Iran membantah membunuh pengunjuk rasa damai.

Suporter Iran

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty

Keterangan gambar, Menyaksikan laga timnas negaranya melalui layar lebar, sebagian suporter Iran tak kuasa menutupi ekspresinya.

Video lainnya menunjukkan pria dan wanita merayakan kekalahan timnas Iran dalam Piala Dunia di Tehran, dan sejumlah kota di bagian barat laut yang didominasi suku Kurdi.

Puluhan demonstran dilaporkan tewas dalam beberapa minggu terakhir di sana, ketika pasukan keamanan meningkatkan tindakan kekerasan.

Dalam rekaman dari kota asal Mahsa Amini yaitu Saqqez, puluhan orang terlihat bersorak dan melambai-lambaikan syal di alun-alun utama sebelum menyalakan kembang api.

Hentikan X pesan, 1
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 1

1px transparent line

Sementara di Kermanshah dan Marivan, orang-orang meneriakkan "Perempuan, hidup, kemerdekaan" - salah satu slogan utama dari pengunjuk rasa.

Kelompok HAM Kurdi, Hengaw melaporkan setidaknya 30 orang ditembak, dan terluka oleh pasukan keamanan saat perayaan berlangsung di Marivan, Sanandaj, Kermanshah, Saqqez, Ilam dan Bukan.

Di Tehran, mahasiswa di Universitas Imam Sadiq berkumpul di luar aula asrama dan meneriakkan "Matilah yang tidak terhormat" - kata sifat yang digunakan pengunjuk rasa untuk melawan pasukan keamanan.

Kata ini juga diteriakkan suporter ke timnas mereka sendiri di stadion saat pertandingan Iran melawan Inggris.

Ada juga konfrontasi antara pendukung oposisi dan pendukung pemerintah di luar Stadion Al Thumama, di Qatar, usah pertandingan Selasa (29/11).

Wartawan Denmark, Rasmus Tantholdt merekam sejumlah pria yang membawa bendera Iran, mendorong seorang pria yang menggunakan kaos bertuliskan "Perempuan, hidup, kemerdekaan" dalam bahasa Inggris.

Hentikan X pesan, 2
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 2

1px transparent line

Saat ditanya tentang perlakuan pendukung timnas Iran yang melakukan protes di Qatar, badan sepak bola dunia, FIFA, mengatakan pihaknya terus "bekerja sama dengan negara tuan rumah untuk memastikan penerapan penuh yang terkait dengan aturan dan protokol yang disepakati".

Suporter Iran

Sumber gambar, Matthew Ashton/Getty

Keterangan gambar, Ekspresi fans timnas Iran usai tim kesayangannya ditekuk tim AS di Piala Dunia Qatar.

Media yang bersekutu dengan pemerintah di Iran memuji tim nasional sepak bola meskipun mereka gagal masuk kualifikasi 16 besar Piala Dunia.

Surat kabar konservatif Farhikhtegan mengatakan "Kami bangga dengan Iran", sementara media Pengawal Revolusi-harian Javan, mengatakan timnas sudah "memenangkan pertandingan sesungguhnya: pertandingan yang menyatukan hari rakyat".

Sebelum pertadingan, kantor berita garis-keras Tasnim menolak laporan CNN.

Dalam laporannya, CNN mengutip pernyataan sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya, bahwa Pengawal Revolusi telah mengancam keluarga dari pemain timnas Iran dengan "penjara dan penyiksaan" jika mereka tidak "berkelakuan baik".