Palestina-Israel: Mengapa es krim Ben & Jerry's penting bagi pendukung dan penentang boikot?

A man buys Ben & Jerry's ice cream in Jerusalem

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ben & Jerry's adalah salah satu merek es krim paling besar di dunia.
    • Penulis, Emre Azizlerli
    • Peranan, BBC World Service

Es krim seharusnya memberikan sensasi segar dan enak, tetapi di Israel, es krim membuat situasi memanas.

Produsen es krim AS Ben & Jerry's membuat marah pemerintah Israel setelah memutuskan untuk menarik diri dari Tepi Barat dan Yerusalem Timur - wilayah Palestina di bawah pendudukan Israel.

Di wilayah-wilayah ini tinggal sekitar 600.000 orang Yahudi, di permukiman yang telah dibangun dan diperluas Israel sejak perang tahun 1967.

Ben & Jerry's mengatakan jika mereka terus berdagang di sana, langkah itu 'tidak konsisten dengan nilai-nilai mereka'.

baca juga:

Pemukim masih bisa mendapatkan rasa favorit mereka dari Ben & Jerry's di Israel, jika mereka masih menginginkannya, karena perusahaan mengatakan operasinya akan terus berlanjut.

"Sekarang kita tahu es krim mana yang TIDAK boleh dibeli," ujar mantan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di akun Twiter.

Tetapi seberapa besar dampak yang dapat dihasilkan dari langkah seperti itu?

Children wave Israeli flags during a gathering in the settlement of Mehola in the occupied West Bank

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Terlepas dari kritik internasional, Israel memperluas permukiman di Tepi Barat

Seberapa khawatir Israel?

Seth Frantzman, yang menulis di Jerusalem Post, meyakinkan para pembacanya bahwa orang Israel tidak perlu khawatir dengan boikot internasional.

Menurut Frantzman, perusahaan teknologi Israel mengumpulkan "sekitar US$10 miliar hanya dalam lima bulan pertama tahun 2021".

"Jika 'boikot' seperti ini," tulisnya, "orang bertanya-tanya seperti apa Israel tanpa boikot."

Namun, suasana hati pemerintahan Israel tak seperti itu.

Perdana Menteri Naftali Bennett mengatakan mereka akan mengambil 'tindakan tegas' yang memiliki "konsekuensi berat, termasuk hukum".

Bila pemerintah Israel tampak khawatir, kalangan aktivis di Palestina justru merayakannya.

Mereka melihat langkah perusahaan es krim ini sebagai langkah penting ke arus utama Barat.

"Ini sangat besar," tulis akun resmi Kampanye Solidaritas Palestina. "Gelombang sejarah sedang berbalik."

Seberapa penting es krim?

A Palestinian boy leaves a store that had erected a poster calling people to boycott Israel in east Jerusalem

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Palestina mengatakan boikot adalah cara tanpa kekerasan untuk menekan Israel untuk mengakhiri pendudukan

Ben & Jerry's adalah merek yang kuat.

Perusahaan itu membuat salah satu es krim paling populer di pasar internasional, dengan penjualan di seluruh dunia lebih dari US$1 miliar (Rp14,5 triliun).

Perusahaan itu dimulai sebagai bisnis kecil independen yang didirikan oleh dua sahabat Yahudi-Amerika, tetapi berkembang pesat dan akhirnya dibeli oleh Unilever.

Di AS, Ben & Jerry's diakui oleh banyak orang sebagai simbol Amerika liberal.

Perusahaan ini secara aktif mendukung hal-hal progresif seperti kesetaraan ras, perubahan iklim dan hak-hak LGBT.

Selama masa jabatan Donald Trump, perusahaan ini merilis rasa 'Pecan Resist' sebagai kritik terhadap kebijakan mantan presiden itu.

Alex Kane, seorang penulis untuk Jewish Currents, sebuah situs berita Yahudi yang berbasis di AS, percaya bahwa keputusan untuk menghentikan penjualan produk Ben & Jerry di permukiman Israel "memiliki implikasi lebih besar bagi perdebatan di AS daripada implikasi material yang sebenarnya di Israel- Palestina".

"Ini menunjukkan di antara kaum liberal, semakin tidak ada keinginan untuk terlibat dalam pendudukan," cuitnya.

Menurut aktivis Palestina yang memimpin gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), langkah itu bukan hanya pendudukan tapi disertain dengan apartheid.

Mereka menuntut boikot terhadap Israel secara keseluruhan, bukan hanya di permukiman, mengambil inspirasi dari gerakan anti-apartheid yang menargetkan Afrika Selatan di masa lalu.

Israel menolak tuduhan apartheid, dan BDS menjawab dengan pernyataan keras.

Seperti yang dikatakan jurnalis Ben-Dror Yemini, "BDS adalah ancaman bagi keberadaan Israel."

Apa yang terjadi dengan seruan boikot di Afrika Selatan?

Anti-apartheid demonstrators in the UK clash with police following a rugby match with a South African team in 1969.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Para pengunjuk rasa anti-apartheid di Inggris ini bentrok dengan polisi pada tahun 1969 setelah acara olahraga dengan Afrika Selatan

Pada tahun-tahun menjelang berakhirnya pemerintahan minoritas kulit putih pada tahun 1994, boikot internasional terhadap barang dan jasa Afrika Selatan terjadi, memaksa banyak perusahaan untuk menarik bisnis mereka keluar dari rezim apartheid.

Langkah ini adalah kampanye akar rumput yang pada 1980-an memaksa supermarket untuk melarang produk Afrika Selatan, menekan bank-bank untuk menarik bisnis mereka dari negara itu, dan mengisolasi Afrika Selatan dari acara budaya dan olahraga internasional.

Seruan internasional untuk boikot pertama kali dicetuskan pada tahun 1959 di sebuah pertemuan di London, dengan Julius Nyerere - calon presiden Tanzania - yang berbicara kepada orang-orang Inggris, dan mengatakan bahwa mereka tidak "meminta sesuatu yang istimewa".

"Kami hanya meminta Anda untuk menarik dukungan Anda dari apartheid dengan tidak membeli barang-barang Afrika Selatan," tambahnya.

Saat ini, para aktivis Palestina bertujuan untuk membangun momentum serupa di Barat.

Butuh beberapa dekade bagi gerakan anti-apartheid untuk mendapatkan momentum, tetapi begitu khalayak Barat arus utama memulai boikot, dampaknya terhadap Afrika Selatan terbukti efektif.

Di dunia sekarang ini, jaringan media sosial membantu menyebarkan berita lebih cepat, sesuatu yang sepenuhnya disadari oleh generasi muda aktivis Palestina.

Pemerintah Israel menuduh BDS antisemitisme, dan mereka yang menentang gerakan boikot juga bekerja keras.

Sebelum es krim: Airbnb

A bed and breakfast in a Jewish settlement in the West Bank advertised on

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Rumah di pemukiman Yahudi di Tepi Barat ini diiklankan di Airbnb

Sebelum Ben & Jerry's, Airbnb menyatakan pada 2019 bahwa mereka akan menghapus semua daftar sewa properti yang terletak di dalam pemukiman Yahudi di Tepi Barat.

Human Rights Watch, yang menyebut Israel sebagai negara apartheid, menyambut baik pengumuman itu sebagai "terobosan".

Namun, lima bulan kemudian, Airbnb membatalkan keputusannya.

Direktur Kampanye Solidaritas Palestina Ben Jamal yakin perusahaan itu mundur di bawah tekanan dari Israel dan organisasi pro-Israel.

Di AS, lebih dari 30 negara bagian telah mengesahkan undang-undang anti-BDS.

Aturan itu adalah undang-undang atau perintah eksekutif yang menghukum bisnis, organisasi, atau individu yang terlibat dalam boikot terhadap Israel dan permukiman Israel.

Duta Besar Israel untuk AS, Gilad Erdan, telah mengirim surat kepada gubernur negara-negara bagian ini, meminta agar mereka memberi sanksi kepada Ben & Jerry's atas keputusannya untuk menghentikan penjualan di pemukiman.

Para kritikus undang-undang anti-BDS mengatakan menegakkannya akan menjadi pelanggaran kebebasan berbicara.

Babak berikutnya dalam konflik es krim antara pendukung dan penentang boikot Israel tampaknya akan terjadi di ruang sidang AS.