Kudeta Myanmar: Lebih dari 40 anak-anak dibunuh oleh militer, 'mereka menembak dan memukulnya'

Pengunjuk rasa menggelar "aksi diam" di Yangon pada tanggal 24 Maret setelah seorang bocah tujuh tahun ditembak mati di Mandalay.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pengunjuk rasa menggelar "aksi diam" di Yangon setelah seorang bocah tujuh tahun ditembak mati di Mandalay.

Setidaknya 43 anak-anak dibunuh oleh personel Angkatan Bersenjata Myanmar sejak kudeta militer pada 1 Februari, menurut lembaga sosial Save the Children.

Save the Children mengatakan Myanmar mengalami "situasi yang mengerikan", dan korban meninggal termuda adalah bocah berusia tujuh tahun.

Total korban meninggal dunia mencapai 536 orang, kata organisasi pemantau.

Utusan Myanmar untuk PBB memperingatkan adanya risiko "pertumpahan darah yang tak dapat dihindari" ketika penumpasan semakin sengit.

Peringatan tersebut dikeluarkan menyusul pertempuran sengit antara tentara dan gerilyawan etnik minoritas di wilayah perbatasan.

Kekacauan di Myanmar bermula dua bulan lalu, ketika militer mengambil alih kendali negara menyusul kemenangan telak Liga Nasional untuk Demokrasi (LND) pimpinan Aung San Suu Kyi.

Ketika puluhan ribu orang tumpah ke jalan-jalan menentang kudeta, militer menggunakan meriam air untuk membubarkan massa.

Keterangan video, Hari paling berdarah di Myanmar: Lebih dari 100 orang tewas, termasuk anak-anak

Sesudah seminggu, respons yang ditempuh militer berubah. Mereka kemudian menggunakan peluru karet dan peluru tajam.

Sebagian korban dibunuh di rumah

Hari yang paling banyak memakan korban adalah Sabtu (27/03) ketika lebih dari 100 orang dibunuh.

Para saksi mata mengatakan tentara bersenjata menyerang warga secara membabi buta di jalan-jalan, dan sebagian korban bahkan dibunuh di rumah mereka sendiri.

Keluarga dari bocah tujuh tahun Khin Myo Chit mengatakan kepada BBC bahwa ia dibunuh oleh polisi ketika berlari ke arah ayahnya dalam penggerebekan di rumahnya di Mandalay pada akhir Maret.

"Mereka mendobrak pintu untuk membukanya," kata kakaknya, May Thu Sumaya, 25. "Ketika pintu terbuka, mereka menanyakan kepadanya apakah ada orang lain di rumah."

Ketika dijawab tidak, mereka menuduhnya berbohong dan mulai menggeledah rumah, lanjutnya.

Saat itulah Khin Myo Chit berlari ke arah ayah mereka untuk duduk di pangkuannya. "Kemudian mereka menembak dan memukulnya," kata May Thu Sumaya.

Pemakaman Tun Tun Aung, yang dibunuh di Mandalay, Myanmar

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pemakaman Tun Tun Aung, remaja yang dibunuh di Mandalay.

Korban lain dari kelompok umur anak adalah seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang diyakini ditembak di dalam rumah atau di dekat rumah di Mandalay, dan seorang anak berusia 13 tahun yang ditembak di Yangon ketika sedang bermain di jalan.

Lembaga sosial Save the Children memperingatkan bahwa jumlah jumlah anak-anak yang terluka dalam bentrokan kemungkinan juga tinggi, dan memberikan contoh kasus seorang bayi satu tahun yang dilaporkan kena tembakan peluru karet pada mata.

Dikatakan Save the Children bahwa kekerasan tersebut berdampak pada kesehatan mental anak-anak karena mereka mengalami ketakutan, kesedihan dan stres.

"Anak-anak menyaksikan kekerasan dan horor," kata Save the Children.

"Jelas Myanmar tidak lagi aman bagi anak-anak."

Hingga kini penguasa militer pimpinan Jenderal Senior Min Aung Hlaing belum memberikan tanggapan atas jatuhnya korban di pihak anak-anak.

Kekerasan yang terjadi di negara itu telah dikecam masyarakat internasional.

Berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, menjatuhkan sanksi kepada para pemimpin kudeta dan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan militer.

Sementara itu, pemimpin sipil yang digulingkan Aung San Suu Kyi dikenai dakwaan lebih lanjut, bersama dengan empat politikus lain, menurut pengacaranya, Min Min Soe, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Dijelaskan, Suu Kyi dijerat dengan undang-undang rahasia negara keluaran zaman penjajahan.

Ia telah dikenai dakwaan mempunyai walkie-talkie secara ilegal, melanggar pembatasan Covid-19 dalam kampanye tahun lalu, menerbitkan informasi yang mungkin "menimbulkan ketakutan atau kekhawatiran".

Menurut Min Min Soe, Suu Kyi yang dihadirkan dalam sidang dari tahanan, mungkin tidak tahu apa yang terjadi di luar.

"Jika melihat apa yang terjadi pengadilan kemarin dan hari ini, kami tidak bisa mengetahui apakah Ibu tahu situasi di luar, atau tidak. Mungkin ia tahu, mungkin juga tidak."

Map of Myanmar showing Mandalay, Nay Pyi Taw and Yangon