Unjuk rasa di Tunisia menolak kepulangan jihadis

Sumber gambar, Reuters
Sekitar 1.000 warga Tunisia menggelar unjuk rasa di ibu kota Tunis, Minggu (08/11), untuk menolak kepulangan para jihadis dari Suriah, Irak, dan Libya.
Para pengunjuk rasa yang membawa bendera Tunisia antara lain memekik: 'Tidak untuk kepulangan teroris' maupun: "Semua orang Tunisia menentang terorisme'.
Sejumlah orang lainnya membawa foto-foto aparat keamanan yang tewas dalam perang melawan kaum ekstrimis di perbatasan.
Pemerintah Tunisia mengatakan sekitar 3.000 warganya pergi ke kawasan perang dan sekitar 800 di antaranya sudah pulang kembali. Sementara PBB memperkirakan jumlah warga Tunisia yang melakukan jihad di luar negeri mencapai 5.000 jiwa.
"Warga Tunisia perlu diyakinkan oleh politik nyata yang membuat jelas bahwa para kriminal tidak diizinkan untuk pulang," kata seorang pengunjuk rasa, Shahnez Mili, kepada kantor berita AFP.

Sumber gambar, Reuters
Penyerang Berlin adalah warga Tunisia
Dalam beberapa pekan belakangan, pihak berwenang Tunisia sudah menangkap belasan terduga jihadis dalam operasi untuk melawan ekstrimisme di negara itu.
Upaya melawan ekstrimisme ditingkatkan setelah warga Tunisia, Anis Amri, dipastikan sebagai pelaku serangan di sebuah pasar Natal di Berlin, 20 Desember 2016, yang menewaskan 12 orang.
Amri tewas ditembak oleh poisi di Milan, Italia, empat hari setelah serangan.

Sumber gambar, EPA/MOHAMED MESSARA
Para pengamat mengatakan ada kekhawatiran bahwa serangan baru-baru ini atas kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Suriah dan Irak akan menyebabkan lebih banyak lagi yang akan pulang.
Tunisia menghadapi beberapa serangan kaum militan yang mematikan, dengan korban jiwa tentara, polisi, penduduk sipil, maupun turis asing.
Salah satu serangan adalah di pantai dekat kota wisata, Sousse, pada Juni 2015 yang menewaskan sedikitnya 39 orang. Sebelumnya, Maret 2015, serangan bersenjata di dekat gedung parlemen di ibukota Tunis, menewaskan 22 orang dan 20 adalah wisatawan asing.









