Kapal pengungsi Sri Lanka segera diberangkatkan dari Aceh

Sumber gambar, JunHa
Pemerintah Indonesia akan segera memberangkatkan kapal berisi puluhan pencari suaka etnis Tamil dari Pantai Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, tanpa memberi penampungan di daratan.
Kapal yang memuat 44 pengungsi etnis Tamil itu, menurut Kepala Imigrasi Banda Aceh, Herry Sudiarto, tengah diperbaiki mesinnya.
“Begitu mesin kapal selesai diperbaiki, rencananya hari ini (Jumat, 17 Juni 2016) akan dilepas ke lautan. Bahan bakar akan diberikan,” kata Herry kepada BBC Indonesia.
- <link type="page"><caption> Kapal pengungsi etnis Tamil menepi di pantai Aceh </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160613_indonesia_kapal_tamil_aceh_lhoknga" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kapal 44 pengungsi Srilanka masih terdampar di Aceh </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160613_indonesia_pengungsi_srilanka" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Indonesia dan Australia bentuk mekanisme tangani pengungsi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160323_indonesia_bali_process" platform="highweb"/></link>
Ketika ditanya apakah ada instruksi dari pemerintah pusat untuk menampung para pengungsi di daratan, Herry menepis.
“Perintahnya kan memberi bahan bakar, memperbaiki mesin, dan memberi pengobatan supaya mereka bisa melanjutkan perjalanan,” ujar Herry, merujuk Pulau Christmas di Australia sebagai tujuan para pengungsi.

Sumber gambar, JunHa
Pada Rabu (15/06), Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, untuk memberikan izin mendarat kepada para pengungsi etnis Tamil asal Sri Lanka, yang terdampar di Pantai Lhoknga.
Lepaskan tembakan
Sementara itu, sebagaimana dilaporkan wartawan Aceh, Junaidi Hanafiah, sebanyak enam perempuan pengungsi melompat dari atas kapal ke pantai, pada Kamis (16/06).
“Mereka menangis, memohon-mohon bantuan dokter untuk pengobatan dan terpal untuk berlindung dari hujan,” kata Junaidi.
Namun, kata Junaidi, aparat keamanan yang mengawasi para pengungsi seketika melepaskan satu tembakan peringatan ke udara. Para perempuan itu diperintahkan untuk kembali ke kapal.

Sumber gambar, JunHa
Masih dituturkan Junaidi, masyarakat sekitar yang menyaksikan juga diperingatkan untuk tidak mendekat dan membantu para pengungsi.
Tindakan pemerintah Indonesia disesalkan lembaga Amnesty International. Dalam pernyataan yang diterima BBC Indonesia, lembaga itu meminta pemerintah Indonesia mengizinkan para pengungsi etnis Tamil untuk mendarat dan bertemu dengan para staf Badan Pengungsi PBB (UNHCR).
“Orang-orang ini telah menjalani sebuah perjalanan yang panjang dan sulit. Sekarang ketika mereka telah mencapai daratan di Aceh, mereka harus diizinkan untuk mendarat dan bertemu dengan staf UNHCR,” menurut Josef Benedict, Direktur Kampanye Amnesty International untuk Asia Tenggara dan Pasifik.
Amnesty International mengaku sangat khawatir bahwa pihak berwenang Indonesia mungkin akan menghalau balik perahu tersebut ke perairan internasional.
“Kami meminta pihak berwenang Indonesia untuk mengadopsi sebuah kebijakan yang konsisten dalam kasus-kasus semacam ini. Tahun lalu Indonesia mendapatkan banyak apresiasi karena menyediakan bantuan-bantuan yang sangat dibutuhkan kepada para pengungsi dan migran selama krisis perahu di Laut Andaman. Akan menjadi suatu ketidakadilan yang besar jika orang-orang yang mencari perlindungan internasional ditolak untuk mengajukan hak-hak mereka untuk meminta suaka di Indonesia,” menurut Josef Benedict.
Kepada BBC Indonesia, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, mengatakan Indonesia akan melakukan koordinasi dengan UNHCR dan Organisasi Migran Internasional (IOM) untuk penanganan para pengungsi selanjutnya.









