Simposium 1965: Negara terlibat dalam peristiwa 1965

Rekomendasi simposium akan disusun oleh tim perumus.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Rekomendasi simposium akan disusun oleh tim perumus.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 3 menit

Simposium tragedi 1965, yang telah berakhir Selasa (19/04) malam, menyimpulkan adanya keterlibatan negara dalam peristiwa kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh anggota atau simpatisan PKI pada pasca September 1965.

"Kita mengakui aksi horizontal dalam tragedi 1965, namun demikian kita harus mengakui keterlibatan negara," kata Sidarto Danusubroto, penasihat panitia simposium 1965 yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden, saat membacakan refleksi hasil simposium, Selasa malam.

Setelah ditutup secara resmi, peserta dan panitia simposium tragedi 1965 menyanyikan lagu Padamu Negeri. Sebagian dari mereka terlihat terharu, terutama setelah mendengarkan pidato penutupan Sidarto tersebut.

Menurut Sidarto, tragedi 1965 telah menyebabkan pembunuhan dalam jumlah besar.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Menurut Sidarto, tragedi 1965 telah menyebabkan pembunuhan dalam jumlah besar.

Dalam pidatonya, Sidarto lantas mengharap agar semua pihak berbesar jiwa dalam memandang adanya praktik pelanggaran HAM yang melibatkan negara.

Menurutnya, tragedi 1965 telah menyebabkan pembunuhan dalam jumlah besar, belasan ribu orang dipenjara, dibuang, disiksa, tanpa proses pengadilan atau diberi kesempatan pembelaan diri.

  • <link type="page"><caption> Peristiwa 1965 'isu yang sangat emosional' bagi sejumlah Ormas Islam</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160418_indonesia_1965_ormas" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Penyangkalan pembunuhan massal di Simposium 1965</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160418_indonesia_simposium1965" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Simposium 1965 dibuka tanpa 'permintaan maaf'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160418_indonesia_simposium65_dibuka" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Simposium 65 diharapkan 'membangun rekonsiliasi'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160417_indonesia_simposium_65" platform="highweb"/></link>

Sidarto mengatakan rekomendasi simposium akan disusun oleh tim perumus, tetapi dia mengharap agar simposium merekomendasi rehabilitasi umum kepada korban kekerasan 1965.

"Saya sangat mengharapkan agar simposium ini memberikan rekomendasi untuk diambil langkah-langkah segera berupa rehabilitasi umum bagi korban HAM," ungkapnya.

Diharapkan simposium dapat berlangsung di daerah-daerah tanpa intimidasi.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Diharapkan simposium dapat berlangsung di daerah-daerah tanpa intimidasi.

Di hadapan peserta simposium, Sidarto juga menuntut agar stigma negatif kepada korban dihentikan.

Dia juga meminta agar simposium dapat berlangsung di daerah-daerah dan pemerintah harus menjamin kegiatan itu dapat berlangsung tanpa intimidasi kelompok lain.

'Harus dikawal'

Usai penutupan simposium, salah-seorang korban '65, yang dikenal pula sebagai sastrawan, Putu Oka Sukanta menyambut positif hasil simposium karena negara telah memberikan ruang kepada para korban.

Tetapi dia menganggap masih dibutuhkan waktu panjang untuk menyelesaikan masalah ini. "What next? Itu harus digarap lagi. Selangkah demi selangkah, tidak bisa instant, tidak bisa. Ini masalah pembentukan bangsa baru dengan paradigma baru, cara berpikir baru," kata Oka.

Korban kekerasan 1965, Ilham Aidit, dapat memahami bahwa tidak semua tuntutan korban bisa dipenuhi.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Korban kekerasan 1965, Ilham Aidit, dapat memahami bahwa tidak semua tuntutan korban bisa dipenuhi.

Namun demikian dia mengatakan, agar tim perumus harus menjaga kelanjutan proses rekomendasi ini.

"Dia harus dikawal sampai melahirkan satu tindakan kongkrit, bukan hanya konsep, yang mengarah hidup setara di dalam perbedaan," tandasnya.

Adapun korban kekerasan 65 lainnya, Ilham Aidit, putra bungsu Ketua Komite Pusat PKI, DN Aidit, dapat memahami bahwa tidak semua tuntutan korban bisa dipenuhi oleh pemerintah.

"Ini baru pintu pertama, karena menyelesaikan masalah HAM masa lalu, itu pekerjaan panjang," kata Ilham.

Bersikap realistis

Menurut Ilham, "Kita sadar bahwa tidak semua tuntutan kita bisa dipenuhi, ya seperti permintaan maaf, sudahlah akan kita lupakan. Tetapi rehabilitasi rasanya sudah pantas diberikan."

Sementara, sejarawan Baskoro Wardaya mengatakan masyarakat harus mengawal hasil simposium, walaupun mereka juga diminta bersikap realistis.

Tim panitia berjanji akan menyelesaikan rumusan hasil simposium 1965 sebelum menyerahkan laporan berikut rekomendasi simposium kepada pemerintah.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Tim panitia berjanji akan menyelesaikan rumusan hasil simposium 1965 sebelum menyerahkan laporan berikut rekomendasi simposium kepada pemerintah.

"Pada saat yang sama kita harus realistis terhadap situasi politik, sosial, kultur. Kalau itu menyangkut ganti rugi, itu juga harus sesuai kondisi keuangan negara. Semua itu harus dipertimbangkan," kata Baskoro.

Tim panitia berjanji akan menyelesaikan rumusan hasil simposium 1965 sebelum menyerahkan laporan berikut rekomendasi simposium kepada pemerintah, sehingga dapat dijadikan pijakan Presiden Joko Widodo dalam menyelesaikan tragedi kemanusiaan 1965.