Simposium 1965, PKI, dan 'dendam masa lalu'

protes di jakarta

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Protes anti-komunisme di Jakarta menjelang Simposium 1965.

#TrenSosial: Berbagai komentar tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali mengemuka bertepatan dengan Simposium 1965 yang untuk pertama kalinya diadakan oleh pemerintah, guna menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di masa lalu.

Simposium di Jakarta yang sempat diprotes oleh sejumlah orang dengan spanduk antara lain bertuliskan, "Tolak PKI dan komunisme gaya baru," dibuka oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukkam) Luhut Panjaitan.

Kata dengan tagar Simposium 1965 sempat populer di media sosial dan berbagai komentar yang masuk antara lain menyangkut PKI.

Akun atas nama Erdi Son melalui Facebook antara lain menyebut ,"Semoga tidak terjadi yang namanya golongan PKI ... generasi modern," sementara Eko Al menulis, "PKI mau bangkit lagi...dan akan hancur lagi."

  • <link type="page"><caption> Kisah para eksil 1965: yang dibui tanpa jeruji</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150928_indonesia_lapsus_eksil_bui" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Menunggu puluhan tahun untuk tetap jadi WNI</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/10/150928_indonesia_lapsus_eksil_praha" platform="highweb"/></link>
  • Ikuti <link type="page"><caption> Facebook</caption><url href="Https://id-id.facebook.com/bbc.indonesia" platform="highweb"/></link> dan <link type="page"><caption> Twitter</caption><url href="https://twitter.com/bbcindonesia" platform="highweb"/></link> BBC Indonesia

Sejarawan Bonnie Triyana menyatakan cara pandang orang Indonesia menyangkut komunisme dibentuk pada zaman Presiden Suharto dan sulit untuk hilang.

protes komunis

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Sejumlah pengunjuk rasa lain membawa bendera PKI yang dicoret.

"Cara pandang orang Indonesia hampir sepenuhnya dibentuk bagaimana rezim Suharto melihat komunisme. Ketakutan itu tak punya dasar karena mereka tak ada pengetahuan sejarah yang berimbang," kata Bonnie.

'Jangan ada lagi dendam masa lalu'

"Ini terjadi selama 30 tahun dan tak mudah mematahkan itu," tambahnya.

Namun ia mengatakan pada era internet seperti sekarang banyak fakta yang dengan mudah didapatkan untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejarah.

Sementara itu Deputi Menko Polhukam, Agus Barnas, mengatakan gagasan mengadakan Simposium 1965 ini adalah "agar spirit bangsa ini melihat ke depan dan jangan ada lagi dendam masa lalu dibawa ke generasi berikutnya".

Menyangkut protes dan juga komentar terkait PKI, Agus mengatakan, "Mungkin mereka belum memahami sepenuhnya simposium ini. Kita harapkan simposium in menghasilkan pemahaman yang sama sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai..."

Sejumlah komentar lain melalui Facebook juga mengangkat tentang kesalahpahaman di masa lalu.

Randi Kusuma antara lain yang menulis, "Semoga saja tidak timbul salah paham dan penafsiran. Semua tragedi pasti membawa dampak dan korban ... tapi bukan berarti harus membuka luka lama" sementara Syfruddin Uddin mengatakan, "Sejarah itu cari kejelasan."