Keluarga penumpang AirAsia QZ8501 tuntut tanggung jawab

Waktu membaca: 1 menit

Keluarga salah satu penumpang pesawat AirAsia Indonesia, yang jatuh dalam penerbangan dari Surabaya ke Singapura pada Desember 2014, meminta maskapai penerbangan memberikan tanggung jawab lebih besar.

Permintaan itu, kata Dwijanto -ayah dari Bhima Wicaksono- salah seorang penumpang, dilandasi fakta yang diungkap oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) bahwa pesawat AirAsia QZ8501 jatuh karena retakan solder pada modul elektronik sistem kemudi yang menimbulkan masalah terjadi empat kali dan karena tindakan pilot dalam mengatasi persoalan.

"Karena isu sebelumnya bukan karena ada kerusakan, karena faktor alam, awan itu ya, kumulonimbus. Ternyata setelah ada penjelasan dari pihak keselamatan penerbangan transportasi kok begitu," kata Dwijanto dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

"Tentunya pihak AirAsia harus mempertimbangkan lagi, mempertimbangkan kepada para korban bahwa ini betul-betul kesalahan dari AirAsia yang cukup fatal ini."

Soerjanto Tjahjono

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono memeragakan gerakan pesawat AirAsia ketika mengalami masalah.

Hingga berita ini diturunkan BBC Indonesia belum berhasil mendapatkan komentar dari AirAsia Indonesia, namun sebelumnya <link type="page"><caption> Direktur Eksekutif AirAsia Tony Fernandes</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151201_indonesia_airasia_knkt" platform="highweb"/></link> sudah menyatakan bahwa jatuhnya pesawat Airbus A320 itu menjadi pelajaran.

Lewat akun Twitter, Fernandes menulis, "Banyak yang bisa dipelajari untuk AirAsia, pembuat pesawat, dan industri penerbangan."

AirAsia

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pengangkatan puing-puing pesawat sempat terhambat gelombang tinggi dan cuaca buruk.

Bagi Dwijanto, sudah sepatutnya AirAsia kini memberikan tanggung jawab lebih besar walaupun ia belum tahu apa bentuknya. Sejauh ini ia juga belum tahu apakah akan mengajukan gugatan atas dasar hasil penyelidikan KNKT.

"Ya tentunya kita akan konsolidasi dengan para korban yang lain bagaimana ini. Sudah jelas-jelas pesawat tidak dalam keadaan sempurna kok nekat diterbangkan. Kok nggak diservis dulu," tanya Dwijanto.

Sementara itu seorang juru bicara Airbus mengatakan, "Airbus baru saja menerima laporan akhir kecelakan. Kami sekarang mempelajari isi laporan."

Pesawat AirAsia dengan nomor QZ8501 jatuh dalam rute Surabaya-Singapura pada 28 Desember 2014. Seluruh 162 orang di dalam pesawat tewas dan hanya 106 jasad yang berhasil ditemukan.