KNKT: kerusakan sistem kemudi penyebab utama kecelakaan Airasia

Sumber gambar, Reuters
Komisi Nasional Keselamatan Transportasi KNKT menyatakan komponen yang cacat pada merupakan "faktor utama" penyebab kecelakaan AirAsia yang terjadi di laut Jawa, demikian hasil investigasi yang diumumkan pada Selasa(01/12) ini.
Hasil penyelidikan besar pertama menemukan bahwa tindakan yang dilakukan oleh kru untuk merespon kerusakan juga memberikan kontribusi terhadap kecelakaan tersebut.
Pesawat jenis Airbus A320-200, yang jatuh dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura itu, hilang kontak setelah 40 menit terbang dari bandara Juanda.
Penerbangan QZ8501 yang jatuh pada akhir Desember 2014 lalu menewaskan 162 penumpang dan kru.
Laporan itu merupakan hasil investigasi yang berlangsung sekitar satu tahun.
Penyelidik menekankan kesalahan pada kerusakan sistem kontrol kemudi.
Pilot kemudian merespon peringatan yang berlangsung selama empat kali dengan memasang lagi sistem yang menyebabkan sistem autopilot mati dan mereka kehilangan kontrol atas pesawat.
Pesawat AirAsia hilang kontak dengan Menara Pengatur Lalu Lintas Udara ATC di Jakarta, dalam perjalanan ke Singapura dari Bandara Juanda Surabaya, pada Minggu (28/12) pagi.
Pesawat mengangkut 162 penumpang dan kru, sebagian besar warga negara Indonesia, satu WN Inggris, Malaysia dan Singapura, serta tiga orang Korea Selatan, serta satu kru orang Prancis.
Setelah pencarian selama beberapa bulan, berhasil mengangkat dan mengidentifikasi korban. KNKT menyebutkan faktor cuaca buruk yang banyak disebut-disebut sebelumnya.









