'Saya mencari putri saya di antara puing-puing yang hangus' - anak-anak jadi korban serangan udara militer Myanmar

serangan udara di Myanmar

Sumber gambar, Win Zaw

Keterangan gambar, Soe Nandar Nwe adalah satu satu anak yang tewas dalam serangan udara di desanya. Dia ingin menjadi seorang guru

"Bumi berguncang," kata peternak sapi bernama Win Zaw, mengenang pagi yang cerah minggu lalu, ketika dia mendengar sebuah pesawat militer mendekat, yang disusul sebuah ledakan.

Tak pernah terpikir olehnya bahwa desanya - Pa Zi Gyi di timur laut Myanmar – dihantam serangan.

Ketika dia menelepon istrinya, dia mendapat informasi bahwa militer telah mengebom tempat penduduk desa sedang berkumpul, berpesta menyantap mi kari, nasi, dan daging babi.

Putri mereka yang berusia tujuh tahun, Soe Nandar Nwe, ada di antara mereka yang hadir.

Win Zaw mengatakan dia bergegas ke lokasi serangan dan mencoba mencari putrinya di antara korban-korban serangan itu.

"Saya mencari putri saya dalam asap, mencari di antara puing-puing yang hangus. Yang ada di pikiran saya hanya menemukannya."

Dia mencari tanda-tanda dari pakaian favorit putrinya - gaun putih bermotif bunga yang dia kenakan hari itu.

Namun, dia tidak menemukan jejaknya. Win Zaw juga tidak menemukan ibu mertuanya yang sedang bersama putrinya saat bom jatuh dan meledak.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Penduduk desa mengatakan kepada BBC, sebuah jet militer menjatuhkan bom di tempat orang-orang berkumpul untuk makan. Kemudian sebuah helikopter tempur menembaki desa tersebut selama 20 menit.

"Saya masih tidak percaya," kata Win Zaw. "Bagaimana mereka bisa melakukan ini pada anak-anak kecil yang tak berdaya dan rentan?"

Baca juga:

Dua tahun setelah kudeta yang menjerumuskan Myanmar ke dalam perang saudara, penguasa militer negara itu meningkatkan serangan udara untuk mengurangi perlawanan hingga benar-benar menjadi abu.

Serangan Selasa lalu, yang menewaskan 168 laki-laki, perempuan, dan anak-anak, termasuk yang paling mematikan sejauh ini.

Tahun lalu, militer menyerang sebuah sekolah, membunuh beberapa anak, dan pada akhir bulan yang sama, pemboman di sebuah konser menewaskan sekitar 50 orang.

Antara Februari 2021 hingga Januari 2023, setidaknya telah terjadi 600 serangan udara oleh militer, menurut analisis data BBC dari kelompok pemantau konflik Acled (Armed Conflict Location and Event Data Project).

Perang saudara telah merenggut ribuan nyawa, menelantarkan sekitar 1,4 juta orang, dan menyebabkan hampir sepertiga penduduk negara itu membutuhkan bantuan kemanusiaan.

PBB mengatakan rezim bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

Serangan-serangan tersebut menargetkan desa-desa yang dianggap bersekutu dengan perlawanan, yang kini terdiri dari kelompok etnis bersenjata; jaringan milisi sukarelawan lokal yang dikenal sebagai Pasukan Pertahanan Rakyat atau PDF; dan Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) yang diasingkan, yang dibentuk setelah kudeta.

Rezim mengatakan secara khusus menargetkan Desa Pa Zi Gyi karena telah membuka kantor administrasi untuk PDF lokal, yang berafiliasi dengan NUG.

serangan udara di Myanmar

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Serangan itu menghancurkan desa Pa Zi Gyi.

Kehadiran kantor PDF dan pesta untuk merayakan pembukaannya merupakan tanda perlawanan masyarakat yang tidak dapat diterima.

Namun, bagi Soe Nandar Nwe, itu hanyalah sebuah kesempatan untuk memamerkan gaun bunga favoritnya.

Malam sebelumnya dia memberi tahu ayahnya betapa bersemangatnya dia untuk hadir di acara itu.

"Saya tidak pernah memanggil putri saya dengan namanya, selalu memanggilnya dengan sebutan kesayangan ayah. Dan dia mencintai saya."

Salah satu hal favorit yang kerap mereka lakukan adalah bersepeda bersama. Putrinya duduk di kursi belakang sambal memeluknya.

Malam itu, Soe Nandar Nwe bersikeras untuk tidur di sisi ayahnya.

Ingatan terakhirnya tentang putri kesayangannya itu adalah ketika dia menciumnya sebelum berangkat kerja keesokan paginya. Waktu itu putrinya masih tidur.

Win Zaw mengatakan putrinya adalah gadis pintar yang ingin menjadi guru.

''Dia senang membantu teman-temannya belajar. Kami ingin dia tumbuh dan mencapai hal-hal besar untuk negara karena negara kami sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit."

Win Zaw membayangkan pulang ke rumah pagi itu disambut musik keras karena desa itu bahkan belum pernah merayakan pesta pernikahan sejak kudeta tahun 2021, yang menggulingkan pemimpin terpilih Myanmar Aung San Suu Kyi.

Seharusnya Win Zaw yang mengantar putrinya ke pesta itu, tetapi Soe Nandar Nwe sangat bersemangat untuk pergi sehingga dia datang lebih awal dengan diantar ibu dan neneknya.

Mereka berada di dalam pandal atau tenda darurat di tengah kemeriahan saat penyerangan dimulai.

Itu adalah serangan udara pertama di Pa Zi Gyi meskipun kawasan Sagaing, yang merupakan rumah bagi beberapa perlawanan paling sengit terhadap pemerintahan militer, telah menjadi sasaran beberapa serangan semacam itu.

Petani Ye Naing juga kehilangan kedua orang tua dan putrinya yang berusia tiga tahun Hnin Yu Wai dalam serangan udara tersebut.

serangan udara di Myanmar

Sumber gambar, Dokumentasi keluarga

Keterangan gambar, Hnin Yu Wai berumur tiga tahun saat menjadi korban tewas dalam serangan udara.

Pagi itu sebelum serangan menghantam, Ye Naing membantu putrinya mengoleskan thanakha atau cat wajah yang terbuat dari kulit pohon, yang biasa dipakai ketika perayaan.

Dia termasuk salah satu dari banyak anak yang berkumpul untuk pesta perayaan itu sebelum pergi ke sekolah karena makanan yang disajikan telah menjadi barang mewah di negara yang dilanda kekerasan.

Bom jatuh tepat saat anak-anak sedang makan, kata Ye Naing, yang menderita luka akibat pecahan peluru.

"Putri saya bahkan tidak sempat menghabiskan semangkuk kecil nasi," katanya. "Anak saya pasti tidak sempat minum secangkir air."

"Hari itu, rasanya seperti akhir dunia atau lebih buruk dari itu. Tapi saya tidak takut. Ini biadab dan tidak manusiawi. Selama mereka menindas dan membunuh orang yang tidak bersalah saya akan melawan, bersama rakyat,” katanya.

Ye Naing berkata putrinya adalah kesayangan warga desa karena dia ramah dan bijaksana.

Ketika putrinya melihat dia lelah setelah seharian bekerja, dia akan meminta ibunya untuk memberikan air dan makanan ringan.

Hampir setiap satu dari 200 rumah tangga di Pa Zi Gyi kehilangan orang yang dicintai hari itu.

Penduduk desa mengatakan beberapa orang yang selamat meninggalkan rumah mereka dan bersembunyi, takut akan terjadi lebih banyak serangan.

Yang lainnya ketakutan mendengar suara keras, seperti mesin sepeda motor.

"Kami hanya petani miskin. Jangan hanya melihat kami dibunuh. Berapa banyak lagi nyawa tak berdosa yang harus dikorbankan sebelum Anda mengambil tindakan?" kata WinZaw.

Untuk Jenderal Min Aung Hlaing, pemimpin pemerintahan militer, dia berkata: "Saya tidak akan pernah memaafkannya."