Polemik ‘tidak ada teater musikal di Indonesia’ – Bagaimana perkembangan pertunjukan seni ini dari masa ke masa?

Sumber gambar, TEATER KOMA
Klaim bahwa "tak ada teater musikal di Indonesia" memicu perdebatan di media sosial. Pelaku industri dan pengamat seni pertunjukan menegaskan teater musikal telah ada di Indonesia, bahkan jauh sebelum teater musikal kontemporer lahir. Bagaimana sejarah teater musikal di Indonesia?
Dalam sebuah wawancara dengan dua aktor yang membintangi film musikal Wicked, pembawa acara menyebut film musikal tidak terlalu populer di Indonesia karena "tidak ada teater musikal" di negara ini.
Pemeran teater musikal yang berbasis di Jakarta, Nisa Haryanti, mengatakan meski teater musikal hanya dinikmati segmen pasar tertentu, namun industri teater musikal sudah ada sejak lama di Indonesia.
Menurut Nisa, teater musikal Indonesia memiliki ciri khas yang tidak selalu terpengaruh dari Teater Broadway—teater populer di Amerika Serikat yang menjadi rujukan teater di negara-negara lain.
Di sisi lain, komposer dan pakar etnomusikologi, R. Franki S. Notosudirdjo, berargumen pementasan tradisional di Indonesia sudah memiliki “unsur teater musikal yang sangat kuat”.
Lantas, seperti apa sejarah teater musikal di Indonesia? Apakah benar pertunjukan seni ini cenderung terlalu tersegmentasi di kalangan tertentu?
Akar dan sejarah teater musikal di Indonesia
Komposer dan pakar etnomusikologi R. Franki S. Notosudirdjo yang dikenal dengan nama populer Franki Raden, mendeskripsikan teater musikal sebagai seni pertunjukan yang memadukan unsur musik, teater dan tari.
Merujuk deskripsi ini, kata Franki, seni pertunjukan tradisional seperti wayang orang, ludruk dan langendriyan, memiliki elemen teater musikal kendati bentuknya berbeda dengan teater musikal kontemporer.
“Kalau kita mau gunakan istilah teater musikal secara umum, ada yang namanya langendriyan dalam tradisi Jawa. Wayang wong (orang) pun begitu.”

Sumber gambar, Getty Images
Mengutip Tempo.co, beberapa catatan kuno seperti Prasasti Mantyasih (904 M) dan Prasasti Wimalasmara (930 M) menyebut pertunjukan ini dengan istilah Jawa Kuno, "hatapukan" atau "matapukan" dan "awayang wang".
Periode prasasti tersebut membuktikan bahwa kesenian ini sudah ada sejak zaman Mataram Kuno dan hanya dihadirkan bagi kalangan istana.
Pada era Mangkunegaran I (1760) dan Hamengkubuwono I (1750-an), wayang orang dihidupkan kembali sebagai ritual kenegaraan dan untuk merayakan upacara-upacara penting.
Pada abad ke-19, seni pertunjukan ini keluar tembok istana dan menjadi pertunjukan komersial.

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.
Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

Perbedaan utama langendriyan dan wayang orang, kata Franki, adalah langendriyan banyak menggunakan lantunan tembang macapat (puisi tradisional Jawa) dalam narasinya, sementara wayang orang menggunakan penuturan sehari-hari.
Memadukan tarian, akting dan nyanyian, langendriyan mengisahkan epos Ramayana dan Mahabarata, atau kisah pewayangan lainnya.
Senada, Rangga Riantiarno dari Teater Koma menilai wayang orang memiliki unsur teater musikal.
“Wayang orang itu ada menyanyinya juga,” ujar Rangga, putra dari pendiri Teater Koma, mendiang Nano Riantiarno.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Berbeda dengan Franki yang menyamakan teater musikal dengan opera, Rangga berargumen aturan opera “lebih jelas”.
“Opera jelas: hampir 90% dialognya dinyanyikan. Hampir semua bahkan. Hampir 100% dialog dinyanyikan,” ujar Rangga.
“Kalau teater musikal masih ada dialog, tetapi tidak ada aturan yang baku berapa persen nyanyian dan dialognya.”
Profesor Yudiaryani, pengajar Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menyebut porsi seni peran dalam opera lebih sedikit karena penyanyi opera terkadang lebih memperhatikan produksi nada-nada indah daripada membuat kata-kata yang komunikatif.
Dalam bukunya, Melacak Jejak Pertunjukan Teater: Sejarah, gagasan, dan produksinya yang terbit pada 2019, Yudiaryani berpendapat teater musikal di Indonesia biasanya bersumber pada tradisi yang membutuhkan kekhususan seni suara dan seni tarinya, seperti pertunjunkan seni ketoprak.
Ketoprak yang berasal dari Jawa Tengah juga memiliki unsur nyanyian. Dibawakan dengan bahasa lokal, seni pertunjukan ini menarasikan kisah dari pewayangan, sejarah, dan cerita rakyat. Tidak jarang ketoprak disebut opera jawa.
Adapun ludruk, yang berasal dari Jawa Timur bersifat jenaka, memuat sindiran sosial, dan interaktif juga memiliki unsur nyanyian khas yang disebut jula-juli.

Sumber gambar, Getty Images
Dari Betawi, ada yang disebut sebagai lenong yang mirip ludruk dari sisi kejenakaan dan punya unsur nyanyian dan musikal.
Di luar pulau Jawa, ada randai dari Sumatra Barat, makyong dari Riau, mamanda dari Kalimantan Selatan, mamuli dari Sulawesi Selatan, ma’badong dari Sulawesi Utara.
Selain itu masih ada dulmuluk dari Palembang dan Arja dari Bali. Kecak dari Bali juga memiliki unsur nyanyian.

Sumber gambar, Kompas.com
Mulai abad ke-17 hingga abad ke-20, pengaruh dari format teater benua Eropa mulai masuk ke Indonesia dan dipertunjukkan untuk bangsawan.
“Pada saat itu, beberapa kelompok teater yang dikenal antara lain Komedi Bangsawan, Komedi Stamboel, Miss Riboet Orion, dan Opera Ja’far Turki,” ujar pengamat dan jurnalis teater, Rakaputra Paputungan.
Rakaputra menyebut Komedi Stambul memiliki format iringan musik dan nyanyian dan banyak dipengaruhi nuansa Timur Tengah dan kisah 1001 malam.
Franki Raden menyebut ada pula kelompok Dardanella yang mulai tampil pada 1926.

Sumber gambar, Getty Images
Walau pada akhirnya grup Dardanella menanggalkan unsur musik dan nyanyian, kelompok itu juga sempat masuk ke sejarah opera Indonesia.
Franki menyoroti sosok Thomas Stamford Raffles, yang berperan penting dalam pembangunan gedung teater pertama di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1800-an.
Franki menyebut pementasan pada saat itu bukan dilakukan oleh orang Indonesia—dan konsumennya pun kalangan kolonial Belanda dan Eropa yang tinggal di Batavia.
“Tapi itu di Indonesia dan itu untuk mementaskan teater musikal," katanya.
Bagaimana teater musikal modern berkembang di Indonesia?
Rangga Riantiarno mengenang bagaimana sang ayah, Nano Riantiarno, sempat mengunjungi berbagai tempat di Indonesia ketika pertama kali mendirikan Teater Koma.
Dari situ, Nano Riantiarno mulai mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang terinspirasi pementasan rakyat dan tradisional.
“Ada nyanyinya, ada aktingnya, ada interaksi dengan penontonnya, ada tari-tarinya juga,” ujar Rangga.
Era Dardanella dan Miss Riboet Orion pun turut menginspirasi naskah pertunjukan Teater Koma yang bertajuk Opera Primadona dan pertama kali dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada 1988.
Karya Nano Riantiarno itu menceritakan persaingan antara kelompok Opera Miss Ketjubung (plesetan dari nama Opera Miss Riboet Orion) dan Opera Gardanela (plesetan dari nama Opera Dardanella).
“Bentuk [Opera Primadona] ini ada nyanyi-nyanyinya. Ceritanya tentang primadona baru, Kejora, yang dicemburui Miss Ketjubung,” ujar Rangga.
Opera Primadona dipentaskan kembali pada 2001 di Teater Tanah Airku dengan Ratna Riantiarno, istri Nano dan ibunda Rangga, memerankan Miss Ketjubung.
Adapun aktris Ine Febriyanti berperan sebagai Kejora.
Rangga yang menyebut Teater Koma sebagai “penjaga lapak teater” mengakui penonton justru bingung ketika menyaksikan pertunjukan di teaternya yang tidak ada unsur musikalnya.
“Entah kenapa ekspektasinya itu,” ujar Rangga.

Sumber gambar, TEATER KOMA
Pada1970-an dan 1980-an, Rangga menyebut ayahnya mulai mendapat inspirasi karya-karya luar negeri seperti Jesus Christ Superstar dan Cats dari Andrew Lloyd Webber.
Beberapa referensi lain dari Indonesia pada periode 1970-an yang disebut-sebut menjadi cikal bakal teater musikal di Indonesia antara lain Opera Ken Arok dan Opera Kecoa, serta Orexas karya Remy Silado.
Baik Opera Ken Arok maupun Orexas, menurut Franki Raden, terinspirasi dari gaya rock opera Jesut Christ Superstar yang meledak pada era itu.
Franki juga menyebut Untukmu Indonesiaku! (1980) karya Guruh Soekarnoputra, sebagai salah satu drama musikal yang ada pada era itu.
Rangga menambahkan Operet Bobo yang diproduksi Majalah Bobo mulai 1988 dan dikhususkan untuk penonton anak-anak juga memiliki unsur musikal.
Bagaimana perkembangan musikal di era 2000an?
Di ranah industri sinema, film-film musikal mulai hadir di Indonesia melalui debut Tiga Dara pada 1957.
Pengamat dan jurnalis teater, Rakaputra Paputungan, menyebut film yang disutradarai Usmar Ismail dan dibintangi Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indiatri Iskak itu menjadi hit kala itu.
“[Film itu] menyelamatkan rumah produksinya, Perfini, dari hutang,” ujar Rakaputra.
Lama kemudian, ketika film Petualangan Sherina dirilis Miles Production pada 2000, film musikal kembali hadir di Indonesia.
Setelah itu, mulai bermunculan karya teater musikal di Indonesia seperti Onrop yang disutradari Joko Anwar dan Musikal Petualangan Sherina yang terinspirasi dari film dengan judul sama.
Franki mengeklaim drama musikal Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel Andrea Hirata yang debut pada Desember 2010 sebagai pemicu teater musikal yang ada di Indonesia saat ini.

Sumber gambar, Antara Foto
Mira Lesmana, produser Musikal Laskar Pelangi, mengatakan dalam jumpa pers tahun 2010 bahwa pihaknya memang menerapkan format musikal seperti teater musikal di West End, London, dan di Broadway, New York.
Namun, Mira sebagaimana dikutip Kompas.com menyebut Musikal Laskar Pelangi tetap memasukkan unsur lokal Indonesia dan Melayu.
Pendapat senada diungkap Rangga Riantiarno.
Walaupun “benih-benih musikal” teater musikal modern sudah ada pada 1980-an, Rangga menyebut drama musikal Gita Cinta dari SMA (2010) yang diadaptasi dari novel karya Edy D. Iskandar, dan Onrop serta Laskar Pelangi menjadi “fondasi pegiat teater musikal” saat ini.
Meski begitu, Franki menegaskan yang dimaksud “fondasi” dalam hal ini adalah “fondasi pasar”.
“Jangan bilang ini fondasi karya. Yang benar fondasi pasar. Baru terbuka lagi fondasi pasar musikal,” ujarnya.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Menanggapi komentar yang mempertanyakan eksistensi teater musikal, Franki menganggap ini sebagai pemicu agar lebih banyak orang berkarya.
Sementara Rangga Riantiarno mengaku selama ini teater musikal di Jakarta "kurang terekspos".
"Sampai sekarang, di Jakarta pun yang isinya delapan juta orang, mencari 5.000 penonton itu tidak mudah,” ujarnya.
Diakui Rangga, diperlukan waktu lama untuk membuat teater musikal dikenal luas di Indonesia.
“Seperti kita melihat kuntum bunga berbunga, memang waktunya yang enggak sebentar. Toh, akhirnya musikal ‘berbunga’ pada tahun 2010 meski benih-benihnya sudah ada tahun 1980-an,” ujarnya.
Pemeran teater musikal yang berbasis di Jakarta, Nisa Haryanti, mengatakan sudah muncul beberapa komunitas teater musikal yang produktif seperti Jaksical dan Jakarta Performing Arts Community (JPAC).
"Sekarang bagaimana caranya supaya industri teater musikal ini bisa lebih banyak lagi dikenal orang-orang," ujar Nisa yang sempat ambil bagian di beberapa produksi lokal seperti Petualangan Sherina dan Cek Toko Sebelah.
Di Yogyakarta, Prof Yudiaryani mengatakan pemerintah provinsi setempat dengan dana istimewa Yogyakarta terus mengembangkan bentuk pertunjukan tradisi di antaranya melestarikan teater musikal.
Lalu apakah teater musikal di Indonesia akan senantiasa tersegmentasi?
Yudiaryani mengungkapkan secara akademik, teater musikal telah menjadi prodi vokasi di jurusan teater dua tahun yang lalu.
Dia menambahkan, semua bentuk seni pertunjukan teater, termasuk teater musikal seharusnya terus didefinisikan ulang dan dipraktikkan secara baru dengan selera masa kini.
"Sehingga kasus penyanyi yang kurang memahami teater musikal tidak akan keliru dengan definisinya," ujar Yudiaryani.









