Apakah Jason Bourne layak ditunggu?

Sumber gambar, Universal Pictures
Jason Bourne terlahir kembali. Hampir satu dekade setelah The Bourne Ultimatum, Matt Damon dan penulis-sutradara Paul Greengrass bertemu lagi untuk menggarap film Jason Bourne, mata-mata hebat CIA yang mengalami amnesia.
Karakter itu terlahir dari novel Robert Ludlum dan film pertamanya, The Bourne Identity, yang disutradarai oleh Doug Liman.
Namun seri tersebut kini identik dengan Damon dan Greengrass dan saat seseorang membuat film Bourne lain - seperti, The Bourne Legacy, dengan Jeremy Renner - rasanya seperti mendengar versi karaoke dari sebuah lagu yang klasik. Maka Jason Bourne pun terasa seperti reuni sebuah band.
Sejak terakhir kali kita bertemu Bourne, dia hidup dalam persembunyian sebagai petinju tangan kosong. Mengecewakan Bourne tak menggunakan kemampuannya yang fenomenal untuk hal lain yang lebih produktif, tapi dia trauma dengan pengalamannya sebagai pembunuh dalam operasi rahasia yang dicuci otaknya.
Bahwa penonton berkesempatan melihat Damon yang sangat berotot tanpa baju atasan, saya yakin, adalah bonus yang tak direncanakan.
Keberadaan Bourne yang tak terpantau itu terganggu ketika rekan lamanya di CIA, Nicky Parsons (Julia Stiles) melacaknya untuk memberitahu informasi baru terkait masa lalunya yang kelam.
Bourne cukup tergoda untuk menyelidiki lebih lanjut, namun penyelidikannya membuat marah direktur CIA (Tommy Lee Jones, yang memberikan wibawa senioritas dan pengalaman kaya taktik yang diberikan oleh Brian Cox, Chris Cooper, David Strathairn dan Albert Finney dalam film-film sebelumnya).
- <link type="page"><caption> Kuburan laut yang mengerikan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160608_vert_cul_flotila.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Apa yang membuat mobil Aston Martin Rp6,5 M ludes?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_aut/2016/07/160712_vert_aut_astonmartin_zagato.shtml" platform="highweb"/></link>
Dia percaya bahwa Bourne harus ditangani oleh seorang pembunuh bernama The Asset (Vincent Cassel, yang memang seorang aset), sementara letnannya yang tajam (Alicia Vikander) yakin bahwa Bourne bisa diyakinkan kembali untuk bergabung dengan mereka.
Sama seperti sebelumnya. Sekali lagi, Bourne berpindah-pindah dari satu kota Eropa yang abu-abu dan keras ke kota lain dengan kecepatan tinggi. Sekali lagi, dia hanya setengah langkah lebih maju dari lawan-lawannya.
Dan sekali lagi, Greengrass menata aksi itu dengan kesegeraan yang mengganggu indera, menggunakan kamera handheld dan lewat penyuntingan cepat yang membuat penonton merasa mereka bisa terserempet peluru atau terkena pukulan kapan saja.
Gaya Greengrass yang kacau dan membuat penonton terlibat itu banyak ditiru sejak The Bourne Supremacy, yang memperbarui genre agen rahasia pada 2004, tapi tak ada yang mampu menyamai kemampuannya membangun sebuah adegan perkelahian yang sangat cepat dan tertata bagian-bagiannya, tapi juga bisa diikuti.
Untuk menunjukkan pada para penirunya bagaimana dia melakukannya, Greengrass menaruh bagian pertama filmnya di tengah demonstrasi anti-pemerintah di Athena - dan kepercayaan dirinya dalam mengorkestrasi adegan kekacauan itu menakjubkan.
Dan sekali Anda melihat Bourne menembus kerumunan demonstran dan polisi anti-huruhara di kota yang penuh asap dan gas air mata, Anda tak akan mampu menonton ulang adegan bodoh kejar-kejaran mobil 007 di Spectre, melewati Roma yang kosong, tanpa tersenyum.
Bourne, Jason Bourne
Tapi, meski Jason Bourne membuat Anda tegang, sulit untuk menghapus perasaan bahwa film ini tak memuaskan seperti film-film sebelumnya. Sebagian, hanya karena masalah hukum ekonomi kepuasan yang semakin berkurang. Greengrass dan Damon (dan, Liman, meski perannya sedikit), telah menajamkan formula film-film Bourne dengan sangat positif.
Mereka tahu elemen mana yang harus dimiliki oleh Bourne untuk membuatnya berbeda dari film-film thriller mata-mata lain yang ada di pasaran. Sisi negatif dari ketajaman ini adalah tak banyak ruang bagi mereka untuk bermanuver.
Tak mungkin Bourne melompati tebing dengan ski, atau naik ke pesawat luar angkasa, atau minum vodka Martini dengan dialog genit. Mereka tak membolehkan Bourne melakukan hal-hal yang tidak dilakukan di The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatum - dan tak mungkin lagi dia melebihi apa yang dilakukannya di film-film sebelumnya.
Setelah dua film yang layak memiliki titel “supremasi” dan “ultimatum” di judulnya - bisa dibilang begitu - lanjutannya akan terlihat kurang mengesankan dari yang pernah kita tonton.
Kadang pengulangannya akan membuat kita merasakan kekonyolannya. Contohnya, bukankah konyol ketika CIA masih terus memburu Bourne, tugas yang mereka awali di The Bourne Identity 14 tahun lalu?
Mengingat banyaknya uang, tenaga kerja dan teknologi futuristik yang mereka miliki di film tersebut, seharusnya Bourne sudah ditangkap sekarang - tapi kini mereka menghabiskan banyak uang dan menabrak sekian banyak orang tak berdosa dalam upaya memburu Bourne. Sangat tidak perlu. Tidakkah akan lebih masuk akal jika mereka berkonsentrasi mengejar teroris misalnya?

Tapi masalahnya dengan Jason Bourne bukan hanya soal familiaritas yang berbuah kemalasan. Ada hal-hal lain yang menunjukkan bahwa reuni band tak berarti mereka memainkan lagu dengan nada yang sama.
Satu hal, Greengrass menggunakan lebih banyak formula film mata-mata lebih banyak daripada sebelumnya: ada lebih banyak jargon, unggahan komputer dengan kecepatan absurd, dan lebih banyak adegan seseorang melihat foto di layar dan memerintahkan, “perbesar!” lalu foto kabur bisa secara ajaib menjadi tajam.
Sepertinya Greengrass mencoba untuk membuat dua film bersamaan. Salah satunya tentang Bourne dan identitasnya, sama seperti sebelumnya. Tapi yang lain tentang konspirasi cyber dengan teknologi tinggi yang tak berhubungan dengan Bourne.
Aneh bahwa nama lengkap Jason Bourne menjadi judul film, karena Bourne di sini hanya menjadi karakter pendukung, dengan waktu tampil yang lebih singkat, dengan kedalaman karakter yang berkurang, dan dialog yang juga lebih sedikit. Mungkin seharusnya film ini diberi judul “Chasin’ Bourne” (Mengejar Bourne).
Plot lain yang tak berhubungan dengan Bourne melibatkan kerjasama gelap CIA dengan pengusaha Silicon Valley (Riz Ahmed) yang layanan jejaring sosialnya lebih populer daripada gabungan Facebook, Instagram dan Twitter. Kisah yang terinspirasi oleh Wikileaks dan Edward Snowden ini sudah sering muncul di banyak film.
Toh rencana jahat tokoh antagonis ini melibatkan “pengawasan dalam spektrum luas - mengawasi semua orang, setiap saat.” Bukankah itu yang direncanakan Blofeld di Spectre? Ada sesuatu yang salah ketika sebuah film Bourne telat setahun daripada Bond.









