Claude Cahun, seniman transgender yang mendahului zamannya

Kita hidup di dunia ketika Caitlyn (sebelumnya bernama Bruce) Jenner terpilih menjadi Woman of the Year dan istilah ‘jenis kelamin netral’ serta ‘trans’ mulai masuk menjadi bahan pembicaraan makan malam.
Ketika tokoh Patsy dari seri TV popular Absolutely Fabulous mengungkapkan diri sebagai transgender, tidak seorangpun yang terkejut.
Perbincangan tentang sifat gender dan jati diri terus terjadi sepanjang sejarah dan pandangan kita berubah dari waktu ke waktu. Di National Gallery London, Anda dapat melihat potret Chevalier d’Eon, seorang diplomat trans dan tentara yang diterima sebagai wanita di Inggris abad ke-18 dan akhirnya menjadi selebriti.
- <link type="page"><caption> Pelucutan pakaian pengacara Cina punya gaung lebih kuat di dunia keadilan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/07/160709_vert_cul_pengacara" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sepuluh gedung pemerintah paling menarik</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/07/160703_vert_cul_bangunan" platform="highweb"/></link>
Bagi saya, potret ini mendahului dan bahkan mirip dengan pembuat tembikar transgender pemenang Turner Prize, Grayson Perry, yang kehidupan dan pekerjaannya membuat kita mempertanyakan pandangan tentang jenis kelamin.
Seniman lain yang mendobrak tabu adalah Claude Cahun, yang lahir sebagai Lucy Schwob di Nantes, Prancis, di tahun 1894. Dia seringkali tidak diperhatikan, meskipun pemikirannya jauh ke masa depan. Karyanya mempertanyakan peran gender di masyarakat yang kaku.
Sebagai Yahudi transgender dan lesbian -dia dan saudara tiri perempuannnya menjadi sepasang kekasih, Cahun mirip berita utama Daily Mail, koran Inggris beraliran konservatif. Di tahun 1920-an dan 1930-an, Cahun membuat serangkaian potret diri dipuji David Bowie sebagai 'benar-benar gila'.
Dia sepertinya 100 tahun lebih maju, karena itulah Anda mungkin belum pernah mendengarnya.
Cahun menggambarkan dirinya sebagai 'netral' atau diri di luar pengelompokkan jenis kelamin pada umumnya. Nama barunya cukup menunjang. Claude adalah satu dari sejumlah nama Prancis yang dapat digunakan wanita dan pria dengan ejaan dan pengucapan yang sama.

Sumber gambar, Jersey Heritage
Tetapi Cahun seringkali dilihat dalam pandangan transgender, yang lahir sebagai perempuan secara biologis dan menampilkan kemaskulinan. Dalam otobiografinya, Disavowals, dia menulis, ”Kocok kartunya. Maskulin? Feminin? Bergantung kepada keadaan. Netral adalah satu-satunya gender yang selalu cocok untuk saya.”
Meskipun dia tegas menolak pengelompokan, sulit untuk memisahkannya hidupny dari karya seninya, yang sangat terpusat dengan gagasan tentang identitas.
Bukan obyek
Cahun adalah bagian dari kelompok Surealisme yang terkenal akan kecenderungan melihat ke depan dan mempertanyakan norma. Jika kita memikirkan Surealisme, maka kita berpikir tentang Dali dan jam melelehnya, yang menetes dalam pemandangan yang mirip es krim yang mencair, atau sebuah lukisan tidak masuk akal dari Rene Magritte maupun karya Andre Masson yang dihasilkan lewat pengaruh narkoba.
Tetapi Cahun mengkaji diri manusia melalui potret diri sensual dalam berbagai kostum, mulai dari yang sangat maskulin dengan baju angkat berat sampai ke tokoh Red Riding Hood yang pemalu. Karyanya dipandang mendahului Cindy Sherman.

Sumber gambar, jersey heritage
Tetapi seniman zamannya yang paling mirip adalah Marcel Duchamp, yang menciptakan Rrose Sleavy untuk berpose dalam foto Man Ray.
Dalam Potret Diri dari sekitar tahun 1920-an, Cahun mencukur rambut, terlihat sekarat, lemah, dan sakit -seperti korban kamp Auschwitz yang selamat. Dia melihat ke depan dengan mulut marah, jadi bukan ke arah orang yang melihat, agar tidak dijadikan obyek. Dia tidak bergender, tidak berjenis kelamin.

Sumber gambar, Jersey Heritage
Kemudian ada juga foto terkenal Cahun dari tahun 1928, ketika dia memakai jubah yang cocok untuk Philip the Bold salah seorang keluarga kerajaan Prancis- tetapi dihiasi topeng. Pesannya adalah untuk mengingatkan bahwa jati diri adalah buatan, yaitu topeng yang dipakai seseorang.
“Di balik topeng ini, ada topeng lainnya,” tulis Cahun. Kita bahkan bisa melihat karyanya sebagai pandangan terhadap ras, karena dia seringkali membalikkan warna dan memainkan kontras.
Rambutnya dicukur dan dia memegang kerah sepertinya sedang berusaha menoleh dari pandangan Anda, dengan kulitnya tampak lebih gelap cermin di dekatnya, yang memperkuat keragaman jati diri dan peran yang kita mainkan.
Hiasan
Meskipun foto Cahun dipusatkan pada dirinya, ada banyak hal lain di dalamnya.
Cahun bukanlah jenius penyendiri seperti kebanyakan seniman. Dia bereksperiman dengan jati diri, gender, dan tubuh dalam karyanya sejak usia muda. Tetapi siapa yang menekan tombol kamera dan menciptakan foto yang membingungkan ini?
Claude Cahun dan Marcel Moore adalah saudara perempuan tiri dan kekasih. Mereka bekerja sama untuk menghasilkan karya seni. Mereka bertemu saat masih anak-anak. Dan saat orangtua mereka menikah, keduanya sudah jatuh cinta.
Pada era tahun 1920-an mereka bergaul di kalangan Surealis di Paris dan tahun 1937 pindah ke Jersey, di lepas pantai Normandy. Saat pulau itu diinvasi Jerman tahun 1940, mereka mendukung Resistance, membuat dan menyebarkan propaganda anti-Nazi secara rahasia. Kedua wanita ini tertangkap, dipenjara dan dihukum mati, tetapi kemudian diselamatkan tentara Sekutu yang membebaskan Jersey pada tahun 1945.
Kehidupan dan pekerjaan Cahun menakjubkan, tetapi mengapa dia tidak begitu dikenal?Kemungkinan karena pemikiran dan dunianya merupakan suatu misteri bagi kita, terutama karena terjadi di masa lalu. Sama seperti orang lain kita hanya mengenal kulit luarnya dan dia masih menyembunyikannya diri i balik kamera.
Agar suatu cerita menarik perhatian umum, kita harus merasa ada keterkaitan. Di masa lalu, bukan demikian halnya.

Sumber gambar, Jersey Heritage
Tetapi ketika Miley Cyrus meneriakkan gender netral dan serial televisi seperti Orange is the New Black menyambut peran transgender, mungkin tibalah saatnya. Claude Cahun dapat menjadi seniman yang cocok untuk zaman sekarang. Dia mengguncang landasan dan bersama-sama tokoh lain dalam sejarah, membantu untuk menanam bibit pemikiran yang mempertanyakan dua jenis gender.
Claude Cahun mengusung pemikiran kelenturan gender jauh sebelum tagar atay hashtag zaman sekarang muncul. Cahun mengeksplorasi jati dirinya, bukan menyimpulkannya.
Akademisi dan sejarahwan dengan bebas bergerak di antara kata ganti gender dalam tulisan mereka tentang seniman ini dan bahkan sampai sekarang kita masih mengkajinya, masih menjelajahinya.
Mungkin, daripada memikirkan Cahun sebagai ikon transgender, kita seharusnya melihat Cahun sebagai seorang ahli kimia; yang menemukan banyak hal dan selalu berubah.
<italic>Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di <link type="page"><caption> Claude Cahun: The trans artist years ahead of his time</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160629-claude-cahun-the-trans-artist-years-ahead-of-her-time" platform="highweb"/></link> di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></italic>.









