Pelucutan pakaian pengacara Cina punya gaung lebih kuat di dunia keadilan

Sumber gambar, WU LIANGSHU
Pemandangan ini sering ditampilkan, dipraktikkan dalam waktu tak terhitung di atas papan altar yang retak dan ditorehkan di atas kanvas dalam sejarah seni.
Objeknya adalah figur yang dikorbankan, pakaiannya dilucuti oleh otorita yang ringan tangan berjiwa binatang, figur itu lalu diadili.
Namun dalam contoh kasus kali ini, gambarnya tidak berasal dari zaman pertengahan atau ikon Kristen Renaissance dan tak digantung pula di dinding museum, gereja atau katedral di Barat.
Tapi foto digital pengacara Cina, yang diduga diserang oleh polisi pada awal Juni di hadapan panel hakim di suatu pengadilan distrik, dengan cepat menjadi berita di platform berita online dan ramai dibicarakan di media sosial.
Para pembaca dibuat terkejut melihat kekejaman yang terjadi di dunia keadilan.
- <link type="page"><caption> Pakaian pengacara Cina dirobek-robek dalam sidang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160609_trensosial_pengacara_cina" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Puluhan pengacara ditangkapi di Cina </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160609_trensosial_pengacara_cina" platform="highweb"/></link>
Foto itu dijepret di Nanning, Guangxi, tak lama setelah pengacara yang bernama Wu Liangshu diberitahu bahwa permohonannya untuk mengajukan kasus ditolak.
Dituduh merekam jalannya sidang tanpa izin, Wu diperintahkan untuk menyerahkan telepon genggamnya untuk pemeriksaan.
'Brutalitas negara'
Ketika menolak perintah, ia mengklaim pihak berwenang di pengadilan menyerangnya dan merobek hampir seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya.
Karena sadar bahwa penampilannya seperti itu akan bergaung lebih besar sebagai pernyataan menentang brutalitas negara dibandingkan kata-katanya atau tulisannya, Wu berjalan perlahan dari ruang sidang dan berdiri menghadap lensa kamera yang menunggunya di luar pengadilan.

Sumber gambar, Wikimedia
Yang muncul kemudian adalah foto luar biasa.
Melalui aperture estetika Barat foto ini tampak mencerminkan koreografi adegan Yesus yang kemudian disalib, ditangkap, diperlakukan secara buruk, dan diarak dengan posisi seperti katak ke depan pendeta tinggi untuk ditentukan nasibnya.
Meskipun foto sekuler Wu tak punya konotasi keagamaan, perobekan pakaiannya secara paksa di arena keadilan negara yang tak masuk akal mempunyai persamaan pose, mirip dengan gambaran posisi berdiri Yesus dari Abad Pertengahan hingga Abad ke-20.
Foto ini menjadi lebih mirip lagi jika disandingkan dengan lukisan Abad ke-17, Christ before Pilate (1649-50), yang sebelumnya diperkirakan sebagai karya Rembrandt.
Kini disebut sebagai karya pelukis Belanda Nicolaes Maes, lukisan itu menampilkan lengan tetapi pakaian Yesus sudah dilucuti ketika dalam kondisi sulit namun fisiknya tetap kuat.
Kontras antara kulit Yesus dan pakaian bagus dari mereka yang berdiri di sekelilingnya mempunyai persamaan dengan foto dari Cina tersebut.
Wu yang berpakaian compang-camping bertolak belakang dengan lanskap ideal yang diukir dalam tembok dekorasi batu di belakang Wu sebagai simbol kekokohan keadilan.
100 Works of Art That Will Define Our Age oleh Kelly Grovier diterbitkan oleh Thames & Hudson.
<link type="page"><caption> The man who has his clothes torn off </caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160610-the-man-who-had-his-clothes-torn-off" platform="highweb"/></link>dalam bahasa Inggris dan tulisan-tulisan seni yang lain dapat Anda baca di <link type="page"><caption> BBC Culture.</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link>









