Kutipan menarik para penulis di Hay Festival

Sumber gambar, Sam Hardwick
Penulis fiksi, ilmu pengetahuan, sejarah dan lainnya menyampaikan pembicaraan yang menarik di Hay Festival tahun ini. BBC Culture memilih sejumlah saat-saat favorit.
- <link type="page"><caption> Buku harian rahasia Marilyn Monroe</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160612_vert_cul_monroe" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Membaca pesan rahasia kisah Alice in Wonderland</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160612_vert_cul_alice" platform="highweb"/></link>
"Dunia semakin berutang saat ini dibandingkan masa-masa lalu”

Sumber gambar, James Crook
Diperkenalkan kepada pengunjung Hay sebagai penulis “ide besar fiksi” lewat buku barunya, The Mandibles, Lionel Shriver menulis tentang sistem keuangan, terutama tentang apa yang terjadi jika ekonomi AS hancur.
Shriver ingin mengkaji bagaimana peradaban hancur. Mandibles terjadi di masa depan. Dia juga memandang sistem saat ini didasarkan landasan yang rapuh.
“Seluruh ekonomi internasional didasarkan uang palsu,” jelasnya, “dunia semakin berutang dibandingkan masa lalu.
Shriver membayangkan apa yang terjadi ketika generasi lebih muda harus menunjang yang lebih tua.
“Di tahun 2047, Anda tidak lagi mengalami penembakan sekolah, Anda mengalami penembakan rumah jompo,” katanya tertawa.
“Otak saya jahat.” Shriver juga gemar mengejek diri sendiri, dengan mengatakan seorang tokoh di Mandibles berdasarkan dirinya, seseorang yang penuh opini dan tidak taktis,” katanya.
“Kadang-kadang kita berpikir pembaca membaca buku untuk lari dari masalah; saya pikir disana tempat kita menghadapinya.”

Sumber gambar, Chris
“Orang Yunani kuno adalah satu-satunya yang mendapatkan sifat manusia sepenuhnya,” kata Marlon James.
“Saya membaca lagi drama Yunani sebelum menulis setiap buku.”
Penulis Jamaika ini adalah pemenang Man Booker Prize 2015 lewat A Brief History of Seven Killings – dan dia menyukai menulis karakter yang tidak bersahabat.
“Saya terinsipirasi tragedi Yunani...orang-orang dengan cacat besar tetapi Anda harus mengakui kemanusiaan mereka.”
Ceritanya tentang gang di Kingston juga mempunyai sumber yang berbeda: Huckleberry Finn.
“Twain adalah seseorang yang mengajarkan saya tentang pembicara yang menarik, Anda menyukainya meskipun tidak mendukung tingkah lakunya,” dia mengatakan kepada pengunjung Hay Festival.
Dia tidak menghindar dari ketidaknyamanan. “Kadang-kadang kita berpikir pembaca membaca buku untuk lari dari masalah; saya pikir di sanalah kita menghadapinya.”
“Pembaca, saya menikahi si brengsek itu!”

Sumber gambar, Elizabeth
Untuk memperingati 200 tahun kelahiran Charlotte Brontë, penulis Tracy Chevalier menugaskan beberapa penulis membuat cerita pendek yang diinspirasikan kalimat terkenal novel klasik Brontë, Jane Eyre.
Reader, I married him adalah koleksi yang menampilkan karya 21 penulis wanita, termasuk Elif Shafak, Emma Donoghue dan Chevalier sendiri.
Dua dari penulisnya, Lionel Shriver dan Joanne Briscoe, naik panggung bersama-sma Chevalier membacakan cerita mereka (The Self-Seeding Sycamore dan To Hold).
Mereka membicarakan pengaruh dan arti kalimat itu, salah satu yang paling kekal di dunia sastra, dan bagaimana hal ini menjadi inspirasi berbagai respon.
Bagi Briscoe, kalimat “Reader, I married him” adalah “saat kemenangan” salah satu tokoh fiksi yang paling dicintai.
“Kami pembaca, tetapi kami adalah Jane”, dia mengisyaratkan.
Hal ini menggarisbawahi “Jane yang menikahi Rochester, bukan kebalikannya.
Dan bagi Shriver, kalimat ini mendobrak dinding antara pembaca dan tokoh yang menggarisbawahi hubungan diantaranya.
Tetapi Shriver juga menekankan bahwa kejutan kalimat “Pembaca, saya menikahi si brengsek,” yang membuatnya terkenal.
“Jangan berhenti di permukaan – korek dan berusaha pahami kenyataan di sekitar Anda.”

Sumber gambar, Sam Hardwick
“Saya ahli menciptakan masalah,” kata Roberto Saviano. “Yang saya terlibat masalah bukanlah buku tetapi cara saya menyentuh pada pembaca.” Wartawan Italia tersebut muncul di Hay Festival dengan pengamanan ketat.
Dia dikawal polisi sejak penerbitan bukunya Gomorrah pada tahun 2006, yang mengungkap operasi kejahatan terorganisir di Napoli.
Tetapi ancaman pembunuhan tidak menghentikannya. “Jika apa yang mereka tulis dibaca, dipahami dan dibela, maka penulisnya terlindungi.”
Dan sasarannya lebih dari gang Neapolitan. “Tempat paling korup di dunia? Inggris. Bukan polisi, bukan politikus. Ibu kota keuangan. Ekonomi penjahat lebih besar daripada ekonomi sah, jika menghilang, kapitalisme akan hancur.”
Dia mengatakan kita jangan pernah menerima apa yang diperintahkan. “Jangan berhenti di permukaan – korek dan coba pahami kenyataan di sekitar Anda.”
“Sebagai penulis yang terbaik adalah Anda dapat menyentuh semua hal aneh yang menarik perhatian Anda dan menuliskannya dalam buku.”

"Menulis buku-buku ini adalah cara bagi saya untuk memiliki sebagian sejarah,” jelas penulis The Bones of Grace, Tahmima Anam terkait buku ketiganya, bagian dari trilogi tentang perang kemerdekaan Bangladesh.
“Saya merasa menulis novel mengubah hubungan saya dengan negara,” katanya.
Lahir di Bangladesh, dengan ayah yang bekerja untuk PBB, Anam menghabiskan masa anak-anaknya berpindah-pindah di dunia.
Karena tidak pernah merasa memiliki rumah, dia selalu merasa tidak kerasan.
“Saya harus menerimanya sebagai dasar dari kehidupan saya,” katanya kepada pengunjung Hay Festival.
Dalam The Bones of Grace, seekor paus bernama Diana, “spesies antara”, menjadi simbol ketidaknyamanan itu. Dengan menggunakan paus, Anam berusaha meleburkan dirinya dalam topik yang berbeda. “Hal terbaik terkait menjadi penulis adalah Anda dapat melibakan semua hal aneh yang menarik perhatian Anda dan menaruhnya ke dalam buku.”
“Kita bukan hanya menyampaikan informasi; kita membuat berbagai hal dalam bentuk yang belum pernah ada sebelumnya.”

Sumber gambar, Chris
“Saya heran karena berbagai tokoh terus hidup dalam imajinasi orang,” jelas penulis Australia, Peter Carey, terkait novel Oscar and Lucinda yang memenangkan Booker prize 1988. Buku itu dia gambarkan sebagai “sebuah kotak penuh cerita Kristen yang melayang di pemandangan penuh cerita Aborijin.”
Carey tinggal di New York selama 26 tahun dan tidak mau tinggal di negara asalnya lagi. Meskipun demikian dia suka mengunjungi ingatannya tentang Australia.
“Saya tinggal di Broadway...saya menghabiskan pagi hari di hutan tropis tenggara Queensland. Saya sangat gembira tinggal di tempat itu.” Meskipun dia melakukan penelitian mendalam untuk setiap buku, dia tetap mendukung imajinasi.
“Informasi adalah informasi,” katanya. “Mengetahui sesuatu atau melihatnya tidaklah sama dengan seni... Tentu saja Anda bisa mengatakan ya, ini adalah informasi, bahwa setiap pixel atau setiap bagian warna yang mata Anda lihat dari sebuah Rembrandt hanyalah informasi. Tetapi kita tidak hanya menyampaikan informasi; kita membuat berbagai hal dalam bentuk yang kita harapkan tidak pernah ada sebelumnya.”
“Setiap tempat berisi kenangan"

Sumber gambar, Joel
“Di Jerman, lebih dari hampir semua tempat dimanapun, ingatan dan pembicaraan masyarakat tentang bagaimana berbagai hal diingat, tercampur dengan dan kadang-kadang bertentangan dengan sejarah”.
Richard J Evans (The Third Reich in History and Memory) berbicara dengan Neil MacGregor (Germany: Memories of a Nation) – mereka adalah dua sejarawan terkemuka berbahasa Inggris di negara itu.
Mereka membicarakan bagaimana Jerman Nazi menyusup ke dalam politik dan kebudayaan bangsa saat ini.
“Ini benar-benar hadir di Jerman terkait peristilahan politik, tetapi terutama di Berlin terkiat dengan gedung”, jelas MacGregor yang baru-baru ini pindah ke kota itu. “Setiap tempat penuh dengan kenangan”.
Pasangan ini juga membicarakan bagaimana kebudayaan dan bahasa dipengaruhi Third Reich.
“Saya terkejut tidak hanya terkait dengan kenyataan bahwa bagian bahasa menjadi racun,” jelas MacGregor,” (tetapi juga) karya seni tersebut teracuni karena Nazi berpikir hal tersebut akan menjadi karya seni besar.”
Lewat buku dan pameran yang dikurasinya, MacGregor berusaha menampilkan sejarah Jerman yang tidak satu garis, sejarah yang tidak langsung saja menyebabkan Sosialisme Nasional.
“Saya pikir mungkin akan lebih membantu untuk memikirkannya tidak hanya sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan atau dipersiapkan, tetapi sebagai semacam krisis yang dihadapi masyarakat, yang tidak diperkirakan sebelumnya.









