Sepuluh pelajaran dari Festival Film Cannes

1.Terorisme membuat Prancis khawatir
Sekelompok tentara yang terlihat bosan dengan senapan besar di tangan menyambut pengunjung festival di Bandara Nice, sebuah pertanda tahun ini pengamanan akan ketat dan merepotkan.
Tingkat ancaman teror resmi Prancis masih “sangat tinggi” setelah terjadinya serangkaian serangan pada bulan November di Paris dan kementerian dalam negeri serta penyelenggara festival tidak ingin mengambil risiko.
Beberapa minggu sebelumnya mereka melakukan simulai serangan teroris dalam sebuah latihan yang menguji reaksi polisi, militer, pemadam kebakaran dan staf kesehatan.
Adegan dramatis tidaklah aneh di film laris Hollywood. Untunglah festival berjalan tanpa insiden serius: pemeriksaan tas, pengamanan dan penyitaan cairan adalah yang terburuk yang kita harus alami.
- <link type="page"><caption> Roots: Acara TV paling penting?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160605_vert_cul_roots" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Film-film untuk ditonton bulan Juni</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160602_vert_cul_film_juni" platform="highweb"/></link>
2. Bayang-bayang terhadap Woody Allen masih tetap ada
Meskipun demikian tetap terjadi masalah di festival ketika, lewat tulisan di Hollywood Reporter, anak laki-laki Woody Allen, Ronan Farrow kembali melontarkan tuduhan pelecehan seksual terhadap pembuat film tersebut terkait anak perempuannya Dylan.
Media bersekongkol bungkam, katanya.
Film terbaru Allen, Cafe Society, adalah film pembuka festival dan pada upacara pembukaan, MC Laurent Lafitte melontarkan lelucon kepada sutradara berumur 79 tahun tersebut, ”Sangat menyenangkan karena Anda telah membuat beberapa film di Eropa, meskipun Anda tidak dihukum karena pemerkosaan di Amerika Serikat.”
Komentar ini menyebabkan keributan kecil diantara para wartawan yang haus kontroversi, tetapi secara umum orang memandang ini bukanlah yang baik dilakukan dan tidak berkelas. Sulit untuk membuat lelucon terkait perkosaan, dan kita akan membicarakan lagi hal ini nanti.
3. Kristen Stewart Ratu Cannes
Tahun lalu memberikan juri Cesar, Oscarnya Prancis, memberikan penghargaan kepada seorang aktor Amerika , Kristen Stewart. Di Cannes, banyak orang menyukai bintang berumur 26 tahun itu.
La K-Stew ada di mana-mana wajahnya terpampang di kulit muka majalah dan iklan di Croisette. Lewat Café Society, dia menyampaikan akting yang meyakinkan dan dewasa.
Ini dipandang sebagai tahapan baru kariernya. Tetapi dia kembali memainkan peran remaja menggigit bibir film Twilight di Personal Shopper buatan Olivier Assayas.
Film ini memecah belah festival, ejekan yang dilontarkan dibalas tepukan. Bisa dikatakan ini semakin meningkatkan perhatian media terhadap bintangnya. Pemunculan Stewart di karpet merah disambut media gosip dan fashion, belum lagi reaksi penggemarnya di internet.
4. Ejekan lebih bagus dilakukan di akhir
Penonton Cannes senang menyoraki. Jadi mengherankan jika pada minggu pertama festival, banyak film disambut hangat secara positif.
Kemudian Personal Shopper diputar. Sejumlah kritikus melihat film hantu di dunia fashion ini karya seorang genius yang tidak mengikuti genre tertentu, yang lainnya tidaklah begitu positif.
Jadi terdengar suara ejekan. Mereka kemudian juga meneriakkan “Sampah!” (dalam bahasa Spanyol) ke film Nicholas Winding Refn berjudul The Neon Demon, sebelum menyerang film Sean Penn, The Last Face.
Salah satu yang terakhir diputar di kompetisi, film ini jelas-jelas bahan ejekan festival. Salah satu kritikus menyebutkannya sebagai “campuran hampa percintaan dan porno pengungsi yang mengejek.“
Dan ini masih kurang buruk, konferensi pers film ini semakin membuat tidak nyaman, karena menempatkan Sean Penn disamping mantannya Charlize Theron.
5. Film panjang membuat Anda haus
Kami antre berdiri di bawah sinar matahari Côte d’Azur sebelum menyerahkan botol air ke pengamanan festival, dan ini membuat banyak penonton kehausan saat menonton film panjang.
The Handmaiden karya Park Chan-wook sepanjang 145 menit, American Honey-nya Andrea Arnold dan Toni Erdmann karya Maren Ade keduanya 162 menit dan Sieranavada, Christi Piu, komedi hitam Rumania dengan dialog mirip tembakan, sepanjang 173 menit.
Di akhir pemutaran, mulut penonton kekeringan, tetapi ini sama buruknya dengan antrean panjang ke kamar kecil jika penonton cukup minum.
6. Karpet merah tempat unjuk rasa
Coba Anda ingat yang terjadi di tahun 2015 –‘heelgate’? Terjadi keributan ketika sejumlah wanita ditolak masuk karpet merah karena memakai ‘sepatu yang tidak patut’.
Itulah cerita terbesar festival tahun lalu dan sejumlah bintang tidak melupakannya. Ketika Julia Roberts bertelanjang kaki di pemutaran film Money Monster, muncul dukungan kelompok feminis.
Beberapa hari kemudian, bintang American Honey, Sasha Lane melakukan hal yang sama. Kristin Stewart juga melakukan adegan yang sama, melewati kamera dengan memakai hak tinggi Christian Louboutin, kemudian menggantinya dengan sepatu Vans lama yang nyaman.
Pernyataan yang tidak terlalu keras diperlihatkan pemeran Aquarius-nya Kleber Mendonça Filho, yang berpose di karpet dengan tulisan 'Brasil sudah bukan (negara) demokrasi' dan 'Dunia tidak bisa menerima pemerintahan tidak sah ini' sebagai protes terhadap pemakzulan presiden Brasil, Dilma Rouseff.
7. Sulit menjadi miskin tapi bantuan siap diberikan
Semua kapal pesiar, gaun dan pesta mewah dapat menjadi latar belakang yang aneh bagi film realisme sosial, tetapi seperti biasanya di Cannes, sejumlah orang menjadikan kemiskinan dan penindasan sebagai pusat perhatiannya.
Ken Loach, Andrea Arnold, Brilliante Mendoza dan Dardenne Brothers semuanya mengkaji kenyataan keras kemiskinan masa kini, tetapi apa yang benar-benar dilakukan terkait dengan ketidaksetaraan?
Anehnya, Thomas Piketty memiliki sejumlah ide. Ahli ekonomi dan pengarang buku laris Prancis, Capital in the Twenty-First Century –buku yang paling dibeli tetapi paling sedikit dibaca sejak karya Stephen Hawking, A Brief History of Time- ada di Cannes untuk mempromosikan film berdasarkan buku setebal 700 halaman itu.
Pembuat film dokumenter Selandia Baru, Justin Pemberton, akan menjadi menjadi sutradara. Pengambilan gambar dimulai pada bulan Agustus.
8. Cannes menyukai daging manusia
Serigala dan penghisap darah sudah usang: tahun ini adalah saatnya bagi kanibal.
Sutradara The Neon Demon, Nicholas Winding Refn menampilkan peragawati pemakan daging; ada juga pemakan jenazah Juliette Binoche di Slack Bay buatan Bruno Dumont; dan di Raw, film populer Critics’ Week di festival, seorang mahasiswa pemakan sayur tiba-tiba berubah.
Tetapi di bagian lain, kanibalisme lebih terkendali: sebagian besar pemakan anak pada buku Roald Dahl dibuang pada adaptasi film buatan Stephen Spielberg.
9. Humor bisa muncul dari tempat tidak terduga
Orang Jerman bisa terlihat agak kaku, tetapi dalam kehidupan pribadi banyak dari mereka memiliki humor yang konyol dengan ketidakmasukakalan yang tinggi.
Hal inilah yang disukai kritikus dari sutradara Berlin, Maren Ade, lewat filmnya Toni Erdmann. Karyanya ini sempat membuatnya dijagokan mendapat Palme d’Or pada pembukaan festival.
Tetapi akan lebih aneh lagi jika pemerkosaan dianggap lucu. Penyerangan terhadap wanita menjadi pusat perhatian dua film serius tahun ini, Graduation karya Christian Mungiu dan The Salesman buatan Asghar Farhadi.
Film Paul Verhoven, Elle, dibintangi Isabelle Huppert sebagai pengusaha wanita tidak bermoral, yang setelah diserang di rumahnya di Paris, berusaha melakukan balas dendam terhadap penyerangnya, paling tidak pada mulanya.
Film seperti inilah yang kemungkinan besar akan menghambat perhatian penonton. Tetapi sutradara Robocop dan Basic Instinct ternyata bisa mendapatkan dukungan, sebelum kita menyadari artinya mendukung sebuah komedi tentang perkosaan.
Terdengar tepukan keras saat film berakhir. Kemungkinan kebanyakan ditujukan kepada Paul Verhoven.
10. Bagi para juri, keseriusan mengalahkan kekonyolan
Meskipun Toni Erdmann mendapatkan banyak dukungan, pada akhirnya film langganan Cannes yang mendapatkan penghargaan tertinggi.
Untuk kedua kalinya Ken Loach mendapatkan Palme d’Or, setelah pada tahun 2006 memenangkannya lewat The Wind that Shakes the Barley.
I, Daniel Blake adalah cerita seorang tukang kayu dari Newcastle Inggris utara yang tidak bisa bekerja karena serangan jantung tetapi dipaksa sistem yang tidak berperasaan untuk melamar pekerjaan yang dia tidak akan pernah bisa lakukan.
Film ini dipuji karena memperlihatkan kemanusiaan dan keyakinan diri, di tengah masalah dan kekecewaan yang dialami Daniel, dengan menampilkan adegan humor dan kebaikan hati.
Film ini membuat penonton bertepuk tangan dan menangis. Sebuah film dengan pesan yang jelas telah menjadi pemenang festival selama 12 hari. Bagi kami yang beruntung bisa hadir disana, Cannes memberikan banyak kesenangan.









