Cahaya membuat seniman terpaku

cahaya

Sumber gambar, Ray Tang Rex

Cahaya berubah dari obsesi pelukis menjadi karya seni itu sendiri, suatu sumber karya seni yang indah, tulis Alastair Sooke.

Six Facets of Light, sebuah buku baru karya penulis pemenang penghargaan Ann Wroe, menurut penulisnya sendiri adalah "suatu lagu cinta untuk cahaya". Dibuat saat Wroe berjalan-jalan di "cahaya" Downs, Inggris selatan, antara Brighton dan Eastbourne, berisi serangkaian meditasi sejumlah pelukis, mulai dari Turner sampai Eric Ravilious, di samping penyair seperti Coleridge, yang sepanjang hidup mereka mengejar cahaya. Jika dirangkum, tulisan Wroe memberikan kebenaran universal: cahaya membuat seniman terpaku sejak lama, dan hal ini akan terus berlanjut.

  • <link type="page"><caption> Pelukis yang memasuki dimensi keempat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160529_vert_cul_pelukis" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Lima buku yang layak Anda baca pada bulan Juni</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/06/160601_vert_cul_buku" platform="highweb"/></link>

Beberapa contoh obsesi ini sudah cukup untuk mewakilinya. Lukisan pemandangan seniman Abad ke-17 Prancis, Claude, yang meniru pengaruh cahaya matahari pada dini hari dan malam hari. Kedalaman cahaya matahari menciptakan bayang-bayang di halaman Delft dalam sebuah karya pelukis zaman Keemasan Belanda, Pieter de Hooch. Lukisan Turner yang kadang-kadang nyaris abstrak, meneliti pengaruh dramatis cahaya yang mengubah bentuk menjadi pijaran.

Dan ada juga seniman Prancis Abad ke-20, Henri Matisse, yang berkelana di dunia mencari cahaya yang menjadi insipirasinya. Pada bulan Januari 1912, dia tiba di Maroko untuk pertama kalinya. Dia terkejut karena hujan terus menerus membuatnya terjebak di hotel selama 15 hari. Dia kecewa. "Apakah kita akan menyaksikan cahaya di Maroko?" tulisnya kepada Gertrude Stein."Cahaya yang seterang di gudang bawah tanah," demikian dia mengeluh kepada temannya.

Beberapa tahun kemudian, saat melakukan perjalanan eksotisnya, kali ini ke Tahiti, dia membandingkan cahaya South Seas dengan perasaan saat melihat ke dalam cawan emas raksasa. Sementara cahaya yang ditemukannya di New York, saat menuju ke Tahiti, "mirip kristal". "Sebuah lukisan harus memiliki kekuatan membangkitkan cahaya," katanya di tahun 1936. Lima tahun kemudian, dia mengatakan, "Tujuan utama karya saya adalah kejernihan cahaya."

Dihidupkan

cahaya

Sumber gambar, David Zimmer

Keterangan gambar, Dan Flavin membuat Pink out of a corner (to Jasper Johns) di tahun 1963, yang dipandang tahun dimana seniman ini melakukan terobosan (Kredit: David Zwirner, New York/London).

Semua seniman ini menerjemahkan pengaruh cahaya ke bentuk lain, lukisan. Salah satu perkembangan mengejutkan seni modern adalah saat seniman berusaha mengendalikan cahaya secara langsung, sebagai bentuk seni itu sendiri. Dan kemungkinan salah satu pendukungnya adalah seniman Amerika Serikat, Dan Flavin, yang karyanya dipamerkan di Ikon Gallery, Birmingham.

Lahir di New York pada tahun 1933, Flavin masuk seminari di Brooklyn saat masih muda karena didesak ayahnya, yang menginginkannya menjadi pendeta. Tetapi Flavin berbeda pemikirannya. Pada tahun 50-an dia belajar sejarah seni di Universitas Columbia. Tetapi sebagai seniman, dia benar-benar belajar sendiri dan mulai berkarya dengan gaya Ekspresionisme Abstrak yang mendominasi AS saat itu.

cahaya

Sumber gambar, Corbis

Keterangan gambar, Dan Flavin menolak pandangan karyanya spiritual," Jika orang memandangnya sebagai (seniman) supernatural, dia tidak menyukainya," kata seorang kritikus (Kredit: Corbis).

Flavin membuat terobosan pada tahun 1963, ketika dia mulai berkarya menggunakan tabung lampu putih dan berwarna dalam ukuran berbeda-beda. Pink out of a corner (to Jasper Johns), adalah lampu merah muda sepanjang 2,4 meter pada tempat logam standar yang ditempatkan di sudut galeri Ikon. Karya ini berasal dari tahun penting ini. Pada puncak karier Flavin.

Seperti semua lampu pijarnya, yang sering kali ditempatkan di ruang yang tidak biasa seperti anak tangga, karyanya menghasilkan cahaya lembut yang mengubah keseluruhan ruangan. Flavin mampu menciptakan pengaruh yang indah dan sensual dengan menggunakan media yang sederhana dan biasa. Hal ini adalah unsur utama karyanya.

Cahaya Ilahi?

Bagi siapapun yang memahami sejarah seni cahaya, yang sering kali digunakan sebagai perwakilan ketuhanan, cahaya pijar Flavin dapat dipandang setengah spiritual atau keagamaan, bentuk modern Tuhan. Tetapi menurut Jonathan Watkins, direktur Ikon, Flavin yang meninggal di tahun 1996, secara tegas menolak pemahaman seperti ini. "Karena ini tentang cahaya, sejumlah kolektor mengaitkan semua hal ini dengan agama dan spiritualisme," jelas Watkins. "Flavin membencinya. Jika orang mengaitkannya dengan supernatural, dia tidak menyukainya."

Flavin malahan menekankan sisi biasa seninya, yang memang berbentuk benda biasa yang murah harganya, siapapun dapat membelinya di toko bangunan. Judul pameran Ikon meminjam salah satu prinsipnya," Ini adalah apa yang Anda lihat dan tidak lebih dari itu. Orang lain kemungkinan tidak bisa melihat cahaya apa adanya, tetapi saya bisa," itu yang pernah dikatakan Flavin. "Dan memang itu...polos dan terbuka dan langsung sebagai sebuah karya seni, seperti yang Anda lihat."

cahaya

Sumber gambar, David Zimmer

Keterangan gambar, Flavin’s Untitled (in honor of Harold Joachim) 3 berbentuk tabung merah muda, kuning, biru dan hijau yang ditempatkan di sudut ruangan (Kredit: David Zwirner, New York/London).

Dia bahkan menggunakan istilah "sihir tanpa isi" saat mengacu pengaruh seninya. Bagi Watkins, Flavin harus dikaitkan dengan seniman besar lainnya di tahun 60-an, yang ingin men-'dematerialisasi' objek seni. "Flavin mengatakan seni tidak terdapat di tabung atau tempatnya," jelas Watkins. "(tetapi) Pada sinar cahaya itu sendiri. Jika dimatikan, seninya hilang."

Flavin bukanlah satu-satunya seniman kontemporer atau modern yang langsung menggunakan cahaya. Robert Rauschenberg memasukkan bohlam listrik berkedip pada sebagian karya eksperimental 'Combine' tahun 50-an. Di tahun 60-an, seniman Realisme Baru Prancis, Martial Raysse, salah satu pelopor yang menggunakan neon, puluhan tahun sebelum Tracey Emin menampilkannya pada tabung neonnya yang manis tentang kehidupannya. Rekan Rayses, François Morellet, yang saat ini pameran di Annely Juda Fine Art, London adalah 'seniman cahaya' terkemuka lainnya. Demikian juga dengan seniman Amerika, James Turrell, yang sampai sejauh ini telah membuat lebih dari 80 Skyspaces, ruang khusus untuk melihat pergerakan di angkasa lewat sebuah lubang di langit-langit.

Gerakan bohlam

"Yang saya lihat terkait karya Turrell adalah bahwa sebagian besar ini adalah karya seniman," kata seniman Inggris, Anthony McCall, yang terkenal lewat instalasi cahaya dan menjadi subjek pameran, termasuk karya barunya Coming About (2016), di Fundació Gaspar, Barcelona."Lubang pada karya Turrell adalah sebuah bingkai, dan semua hal terjadi di balik bingkai. Sementara saya melihat karya saya sebagai sama sekali patung."

McCall menjadi dikenal di tahun 70-an lewat serangkaian instalasi terobosan "cahaya-padat", dimulai dengan Line Describing a Cone (1973). Lewat karya seni sederhana yang dipamerikan di ruang temaram, sebuah proyektor film mengeluarkan satu cahaya putih, yang perlahan-lahan menelusuri sebuah lengkungan di dinding. Akhirnya setelah 30 menit, lengkungan ini menjadi sebuah lingkaran. Cahaya bergerak menembus debu dan asap. Ini menciptakan kerucut hampa di udara. "Saya tidak pernah tertarik dengan bentuk patung yang dapat ditendang," kata McCall. "Saya tidak pernah tertarik pada lukisan. Saya lebih suka menggunakan medium tidak berbentuk nyata seperti cahaya."

cahaya

Sumber gambar, Sutton PR

Keterangan gambar, Instalasi sejumlah karya McCall di Hamburger Bahnhof di Berlin (Kredit: Sutton PR).

Di tahun 70-an, McCall membuat enam karya seni lain mirip Line Describing a Cone, sebelum berhenti menjadi seniman. Selama tahun 90-an, saat dia mulai dikenal sebagai pelopor seni "gambar-bergerak", MCall yang tinggal di Manhattan, memutuskan untuk kembali menjadi seniman. Sekarang dia membuat karya cahaya canggih yang dipamerkan di dunia, dari Stockholm sampai San Francisco. Semuanya menghasilkan kesan puitis. Sama seperti Flavin, McCall meredam interpretasi spekulatif karya seninya.

"Tentu saja saya tertarik dengan apa yang orang temukan," katanya. "Tetapi ini terkait dengan urusan melihat. Dan urusan pembuatan agak berbeda. Saya hanya harus membuat seni, sama seperti tukang ledeng atau kayu. Tugas Anda adalah melihatnya, dan bereaksi."

Jadi apakah McCall sendiri tidak melihat sisi spiritual karyanya? "Saya bisa katakan tidak," katanya. "Tetapi saya menyadari cahaya hadir dengan berbagai hal yang tidak saya miliki. Bahasa kita penuh dengan perumpamaan yang menggunakan cahaya, yang dikaitkan dengan kematian, kejiwaan dan seterusnya. Jadi ketika Anda melangkah ke ranjau itu, Anda membawa semua hal itu bersama Anda - itu kalau Anda bisa memberikan bentuk yang cukup meyakinkan orang untuk melihatnya."

Tetapi pertanyaan ini, tentang bentuk seharusnya seni cahaya, dia katakan, "tidaklah terjadi begitu saja. Maksud saya, Anda menghidupkan bola lampu, tidak begitu banyak pengaruhnya. Sebaliknya," dia menambahkan sambil tersenyum," jika Anda mematikannya, kemungkinan lahir karya seni."