Film Captain America-Civil War yang tidak 'Marvel-ous'

Sumber gambar, Marvel
Captain America: Civil War, film produksi Marvel ke-13 yang saling bersambungan dari penerbit komik yang berubah menjadi studio film, bukan hanya dipandang sebagai film sukses secara komersial tetapi juga di kalangan para kritikus.
Film itu dipandang sebagai puncak dari genre superhero.
Bahkan Captain America: Civil War dipandang sebagai kemenangan Marvel atas saingannya, DC, yang memproduksi pertarungan antar pahlawan, Batman v Superman: Dawn of Justice, yang banyak dikecam.
- <link type="page"><caption> Istri Charles Dickens yang terlupakan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160529_vert_cul_dickens" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pelukis yang memasuki dimensi keempat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160529_vert_cul_pelukis" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Ketika Elvis bertemu Nixon: Kisah unik di balik sebuah foto</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160517_vert_cul_elvis_nixon" platform="highweb"/></link>
Berdasarkan hasil penjualan dan peringkat para kritikus, maka superhero dari Marvel berada jauh di atas, sementara DC jatuh bebas lebih cepat dari peluru.
Tetapi saya tidak yakin kalau Marvel menang dengan begitu meyakinkan.
Harus diakui, saya menyukai Dawn of Justice, yang kemungkinan membuat saya tidak berhak untuk ikut serta dalam perdebatan sehat yang seimbang.
Tetapi seberapapun Anda kemungkinan tidak menyukai film DC, jelas terdapat ambisi untuk melakukan sebuah pencarian yang menantang tentang seberapa menakutkannya hidup di sebuah planet dengan mahluk angkasa luar.
Sebaliknya, seberapapun Anda menyukai Civil War, tetap saja ambisinya adalah menjadi jembatan dari film Marvel sebelumnya ke yang berikutnya. Memang keinginan itu terpenuhi dengan baik.

Sumber gambar, MARVEL.COM.CAPTAINAMERICA
Orang-orang di belakang Captain America: The Winter Soldier -yaitu sutradara Anthony dan Joe Russo, serta penulis naskah Christopher Markus dan Stephen McFeely– telah berhasil membuat laga yang nyaris masuk akal dan menyita perhatian, dengan mengacu ke sejumlah film sebelumnya dan juga mempersiapkan beberapa film di masa depan.
Tetapi sementara Anda mengagumi keprofesionalan dan ketrampilan mereka dalam memenuhi banyak persyaratan, Anda kemungkinan juga mengharapkan mereka 'diizinkan' untuk membuat sesuatu yang lebih berani.
Ide yang cerdas tapi...
Civil War dibuka dengan sekuen berdasarkan serangkaian adegan film Bond, Daniel Craig. Cap (Chris Evans) dan sejumlah rekannya beraksi di Lagos, Nigeria, dengan harapan dapat menangkap sejumlah kelompok teroris adidaya.
Sudah bisa diduga terjadi kekacauan dan Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) menggunakan kekuatan telekinetik untuk menangkal bom agar tidak mengenai Cap, namun ledakan tersebut justru membunuh sejumlah warga sipil.
- <link type="page"><caption> Menyayat hati, foto Palmyra sebelum dan sesudah hancur</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160511_vert_cul_foto_palmyra" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mengapa foto veteran misterius ini selalu menjadi viral?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160501_vert_cul_foto_viral" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> 'Menyelamatkan hidup' dengan ilusi optik</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160509_vert_culture_seni_3d" platform="highweb"/></link>
Orang-orang di pinggir jalan yang tidak bersalah itu bukanlah yang pertama kali menjadi korban akibat pertarungan superhero.
Karena sering jatuh korban sipil maka para pemimpin dunia bersidang, tanpa diketahui para jagoan, dan membuat kesepakatan baru bernama Sokovia Accords. Mulai saat itu, diputuskan para bahwa superhero tidak dapat bertarung kecuali mendapat izin dari Komite di PBB.
Cerita itu adalah ide yang cerdas.
Tapi seandainyalah Marvel Cinematic Universe menjadi kenyataan dengan para Avengers atau superhero penuntut balas itu dimintai pertanggungjawaban aksinya maka sah pula untuk mempertanyakan mengapa Scarlett Witch tidak ditangkap karena membantu Ultron di film terakhir mereka dan mengapa pula Iron Man/Tony Stark (Robert Downey Jr) tidak dihukum mati karena menciptakan robot pembunuh massal.
Baik, hal itu tidak perlu dipersoalkan.
Permainan di halaman sekolah?
Tapi ada soal lainnya.
Ketika Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Thaddeus Ross (William Hurt), memberitahu Avengers tentang kesepakatan tersebut, akan menjadi lebih tepat jika menyebutnya film Civil War an Avengers, bukannya Captain America.

Sumber gambar, Getty
Kelompok superhero itu sendiri kemudian terpecah menjadi kelompok yang mendukung kesepakatan dan kelompok yang tetap ingin mandiri.
Pendukung persetujuan adalah Iron Man, Black Widow (Scarlett Johansson), War Machine (Don Cheadle), The Vision (Paul Bettany) dan teman baru mereka, the Black Panther (Chadwick Boseman).
Sementara di pihak pemberontak, ada Captain America, the Falcon (Anthony Mackie), Scarlet Witch, Hawkeye (Jeremy Renner), dan teman lama Cap, the Winter Soldier (Sebastian Stan).
Para superhero juga terpecah sama seperti di komik Civil War yang menjadi inspirasi film.
Tetapi dalam kaitannya dengan Marvel Cinematic Universe, persekutuan mereka tidak masuk akal. Mengapa Captain Amerika menolak perintah pemerintah padahal dia seorang perwira militer AS?
Dan mengapa pula Tony Stark mendukung para politisi sementara dalam banyak film dia justru berusaha keras agar teknologinya tidak dikuasai oleh politisi?
Dialog Markus dan McFeely yang ringkas kemungkinan menutupi kekaburan alasan masing-masih tokoh, tetapi tidak ada alasan bagi mereka untuk bergabung dalam satu kelompok atau di kelompok lainnya.
Oleh karena itu perselisihan mereka menjadi seperti permainan lempar bola di halaman sekolah karena pada dasarnya Cap dan Iron Man cuma saling bergiliran memilih anggota timnya.
Bahkan ketika semuanya sedang bertarung, sulit untuk mengingat siapa yang bersekutu dengan siapa dan apa pula alasannya.
Menjadi pop
Ada satu perbedaan antara Civil War dengan Dawn of Justice.
Di film DC, Anda bisa memahami mengapa Batman dan Superman saling membenci. Muncul juga gagasan bahwa dalam pikiran Batman, sumbangannya bagi kemanusiaan adalah menghilangkan pandangan tentang bahayanya mahluk angkasa luar di tengah-tengah kita.
Tetapi di 'perkelahian lapangan sekolah' ala Civil War tidak memiliki pilihan keras berupa hidup atau mati. Semuanya agak kabur, karena masing-masing tokoh bercanda dan meminta maaf saat saling menyerang.
Keraguan tentang seberapa pentingnya hal ini menjadi musnah, bahkan sebelum kebencian muncul, ketika Ross mengatakan kepada Stark bahwa dia hanya mempunyai waktu 36 jam untuk menangkap Captain Amerika yang menjadi buron.
Meskipun waktunya terbatas, ternyata Stark masih saja sempat merekrut Spider-Man (Tom Holland), ngobrol dengan tantenya (Marisa Tomei), dan merancang serta membuat kostum untuknya.
Ini adalah suatu pengakuan bahwa si pembuat film memang tidak terlalu serius terkait agendar dari para tokohnya. Mereka hanya tertarik untuk memperkenalkan Black Panther dan Spider-Man agar bisa membintangi film-filmnya.
Tetapi kesemboronan itu yang membuat pertarungan besar-besaran antara Tim Cap dan Tim Iron Man menjadi sangat menarik.
Anda harus mengacuhkan kenyataan bahwa kelompok dengan android yang tidak bisa dihancurkan dengan dua perisai baja terbang akan, menurut akal sehat, akan membinasakan kelompok yang menggunakan perisai, busur, dan panah.
Tetapi rentetan adegan tersebut tidak ada hubungannya dengan logika. Ini adalah tentang kegembiraan para pembuat film saat membayangkan hal-hal yang bisa dilakukan oleh tokoh mereka. Ini adalah kebangkitan superhero dari kesuraman, kembali ke aksi yang menegangkan dan perdebatan yang meruncing. Ini juga merupakan adegan perkelahian film superhero yang paling nikmat.
Totontan berwarna untuk menyenangkan orang ini adalah mimpi setiap anak laki-laki penggemarya dan itu saja sudah cukup menjadi alasan kehadirannya.
Tetapi karena Civil War dibuka dengan begitu banyaknya korban sipil, diikuti dengan perdebatan tema klasik Marvel -yaitu terkait kekuasaan dan tanggung jawab yang besar- maka sepertinya menjadi suatu penolakan.
Komik Civil War Marvel membicarakan berbagai masalah rumit tentang keamanan dan kebebasan. Di filmnya, semua pertanyaan bersifat politik dan filsafat dikesampingkan, digantikan persaudaraan antara Cap dan Winter Soldier, tindakan otak kejahatan bernama Zemo (Daniel Brühl), dan perkelahian di landasan pesawat terbang yang sudah tidak dipakai lagi sehingga tidak perlu memikirkan korban sipil yang jatuh.
Adalah mengecewakan bahwa Civil War yang dibuka dengan analisa campur tangan Amerika, hanya ditutup dengan pertarungan dendam antar super-teman, tetapi memang itulah yang paling sesuai dengan judul filmnya.
Dalam hubungannya dengan perang, sudah pasti memang sebuah perang sipil.
<italic>Versi Inggris tulisan ini bisa Anda baca di <link type="page"><caption> Film review: Captain Amerika -Civil War isn't Marvel-ous</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160504-film-review-captain-america-civil-war-isnt-marvel-ous" platform="highweb"/></link> di <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></italic>.









