Tokoh-tokoh perempuan terhebat dalam sastra

Sudah 200 tahun berlalu sejak Charlotte Brontë lahir, yang lewat Jane Eyre, menciptakan salah satu tokoh perempuan terkuat. Samantha Ellis menjelaskan kenapa sejumlah tokoh perempuan bisa bertahan.
Seratus tahun lalu, Virginia Woolf duduk dan membaca ulang Jane Eyre untuk peringatan 100 tahun Charlotte Brontë.
Woolf sudah khawatir buku itu akan terasa ketinggalan zaman. Tapi Woolf justru makin tenggelam mendalami buku itu sampai-sampai tak bisa meletakkannya.
Dan saat Woolf akhirnya berhasil berhenti membaca Jane Eyre, dia bertanya-tanya, bagaimana Charlotte bisa begitu berhasil.
Bagaimana Charlotte Brontë bisa menulis novel yang tetap terkesan begitu baru setelah puluhan tahun berlalu? Rahasianya, kesimpulan Woolf, adalah tokoh perempuan di novel itu -yang merasuki setiap kalimat dan penggambaran.

Sumber gambar, 20th Century Fox
"Bayangkan Rochester," tulis Woolf, "dan kita akan membayangkan Jane Eyre.
Bayangkan pula padang rumput, dan lagi-lagi ada Jane Eyre. Kemudian bayangkan ruang berbincang, bahkan, 'karpet putih yang tergelar seperti layaknya hamparan bunga', 'perapian model Paros yang pucat' dengan gelas-gelas kristal Bohemia, warna 'merah delima' dan 'percampuran salju dan api' – apa arti semua itu kalau bukan Jane Eyre?”
Seratus tahun sudah berlalu, dan Jane Eyre terasa seperti masa kini.
Tuntutannya akan kebahagiaan dan keadilan masih terdengar sama autentiknya, sama pentingnya, dan sama mendesaknya seperti bagi Virginia Woolf, dan mungkin, bagi Charlotte sendiri.
- <link type="page"><caption> Apa yang bisa diajarkan To Kill a Mockingbird kepada orang tua?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/03/160319_vert_cul_mockingbird.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Akankah toko buku ini jadi favorit Anda?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/03/160330_vert_cul_toko_buku.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Sosok penyair Warsan Shire yang punya peran besar di album terbaru Beyoncé</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cul/2016/05/160505_vert_cul_warsan_shire.shtml" platform="highweb"/></link>
Woolf juga menyukai Wuthering Heights – menurutnya, Emily Brontë adalah penyair yang lebih baik daripada Charlotte – dan menyatakan bahwa dua tokoh Catherine di Wuthering Heights sebagai "perempuan-perempuan paling menyenangkan dalam fiksi Inggris."
Pernyataan ini mengejutkan karena Cathy yang berkemauan keras bukanlah sosok yang secara konvensional mudah disukai. Tapi itulah intinya.
Itulah sebabnya dia menjadi idola bagi perempuan baik-baik yang ingin membayangkan diri menjadi nakal; berlarian di padang rumput saat angin menerjang, mencintai sosok tokoh jahat dengan hati yang keras, dan balas mencintai mereka sampai menghancurkan gigi dan membenturkan kepalanya ke pohon hingga berdarah.
Bagi para penggemar setianya, kisah Jane Eyre yang penuh kerja keras dan kesabaran dan akhirnya menikahi atasannya tidak akan bisa mengimbangi Wuthering Heights.
Sulit menemukan pembaca yang menyukai baik Jane Eyre dan Cathy. Penyuka Jane akan mengatakan bahwa Cathy adalah seorang gadis snop (dan mereka benar). Bahwa dia egois dan kasar.

Sumber gambar, Getty
Di sebagian besar novel itu, dia sengsara, diliputi kemarahan, dan tak mendapat akhir yang bahagia.
Dan Jane begitu tangguh! Dia cerdas, dan tak takut menunjukkan kecerdasannya.
Dia begitu percaya pada dirinya sendiri. Dia akan melakukan apa yang diinginkan. Dan tak sulit untuk menyukainya saat dia bertanya pada Rochester, "Kamu pikir, karena saya miskin, polos, dan kecil, saya tak punya jiwa dan hati? Salah!"
Atau saat dia berkeras untuk berbicara pada Rochester "seakan keduanya sama-sama sudah berada di alam baka, dan berdiri di hadapan Tuhan, sebagai makhluk yang setara!"
Sungguh kontras dengan pernyataan Cathy, "Saya adalah Heathcliff!" yang membuat cinta terdengar seperti perpaduan yang mengerikan, suatu kehilangan diri.
Meski begitu, toh cinta terkadang terasa seperti itu (dan saya akui, untuk waktu lama, Cathy adalah satu-satunya idola buat saya).
‘Kelaparan, pemberontakan dan kemarahan’
Salah satu alasan tokoh-tokoh perempuan dari karya Brontë bersaudari tak lekang oleh waktu karena mereka menjadi bahan perdebatan yang menyenangkan.
Mereka sulit dikotakkan karena rumit. Mereka berantakan, tak sempurna dan sulit dan justru karena ketaksempurnaannya itu, mereka menjadi lebih baik.
Saat Charlotte mencoba menyederhanakan tokoh perempuannya di Shirley, dengan memberikan sebanyak mungkin gairah dan semangat pada satu tokoh perempuan dan mengabaikannya pada tokoh yang lain, Charlotte justru membuat mereka lemah. Baik Shirley maupun Caroline di buku Shirley tak mengundang pemujaan yang sama seperti halnya Jane atau Cathy.
Di Villette, Charlotte melakukan lagi apa yang ia kuasai dengan baik, menciptakan tokoh Lucy Snowe dengan gairah dan kemarahan yang selalu bertentangan dengan upayanya untuk menjadi tenang, dingin.

Sumber gambar, Hachette UK
"Saya, Lucy Snowe, adalah orang yang tenang" katanya dan kita tahu dia berbohong. Konflik inilah yang membuat kita terus membaca.
Inilah novel yang membuat Matthew Arnold mengatakan bahwa pikiran Charlotte hanya berisi "kelaparan, pemberontakan dan kemarahan".
Lucy tak pernah menjadi sepopuler Jane Eyre, mungkin karena dia lebih sensitif, lebih sulit disukai; seorang narator yang tak bisa dipercaya dan kerap mengasingkan pembaca, seorang tokoh utama yang tak mau jadi idola.
Tapi mungkin kini Lucy bisa menjadi populer. Sekarang ada protes akan perlunya tokoh perempuan menjadi 'menyenangkan' atau simpatik.
Dari tokoh seniman perempuan yang kecut di novel Claire Messud, The Woman Upstairs, sampai psikopat Amy di Gone Girl karya Gillian Flynn, sampai Jenn si pencuri suami atau pacar orang di The Lemon Grove karya Helen Walsh, para novelis kini menampilkan tokoh perempuan kejam, jahat dan anti-hero.
Kini mungkin popularitas Lucy bisa melebihi Jane Eyre. Atau mungkin tokoh-tokoh perempuan Anne Brontë mendapat peluang tampil.
Anne Brontë selalu berada di bawah bayang-bayang dua saudari perempuannya, tapi Anne-lah yang pertama menulis tentang kisah pengasuh anak yang menemukan pemenuhan jati diri lewat Agnes Grey.
Dan dalam novel keduanya yang berani, The Tenant of Wildfell Hall, tokoh perempuan utama Anne, Helen Graham, lepas dari pernikahan yang penuh kekerasan dalam rumah tangga untuk menjalani kehidupan yang mandiri.

Sumber gambar, Penguin
Charlotte membenci buku itu, dan berupaya sekeras mungkin untuk menyembunyikannya setelah kematian Anne, namun kaum feminis menemukannya, dan Sam Baker, baru-baru ini memberikan sebuah pembaharuan terhadap buku itu dalam thrillernya, The Woman Who Ran, tentang seorang fotografer perang yang bersembunyi di Yorkshire.
Ini satu alasan lagi tokoh yang ditulis Brontë bersaudari masih dibaca luas; karena mereka terus-menerus ditulis ulang.
Kita tak bisa menentukan perasaan kita terhadap mereka, jadi kita membaca ulang dan mencoba untuk memastikan perasaan kita terhadap mereka.
Dan novel-novel ini cukup padat dan kaya untuk ditulis ulang berkali-kali. Jean Rhys merasa bahwa Jane Eyre sangat problematik sehingga dia membalikkan perspektif tokoh utamanya lewat novel Wide Sargasso Sea, dan mengubah tokoh perempuan gila di loteng menjadi sosok pahlawan.

Sumber gambar, Rischgitz Getty
Tahun lalu, saya sangat senang ketika menemukan Nelly Dean karya Alison Case yang meletakkan tokoh penjaga rumah yang pragmatis di Wuthering Heights, sebagai tokoh utama.
Lalu ada koleksi cerita pendek Tracy Chevalier, Reader I Married Him, di mana 21 penulis merespons baris dialog paling terkenal dari Jane Eyre itu.
Jika Brontë bersaudari menulis tokoh-tokoh perempuan yang lebih lurus dan jelas, mungkin mereka tak menginspirasi banyak karya fiksi dari penggemar.
Justru karena tokoh-tokoh perempuan itu membingungkan dan membuat kita bertanya-tanya, maka mereka tak bisa lepas dari pikiran kita.
'Tiga saudari yang aneh'
Tapi Brontë bersaudari pun sudah menjadi tokoh utama. Bertemu dengan Jane, Cathy dan Helen artinya Anda juga sudah bertemu dengan Charlotte, Emily dan Anne.
Sejak Elizabeth Gaskell menulis biografi Life of Charlotte Brontë pada 1855, Charlotte dan tiga saudarinya menjadi sama hidupnya dengan tokoh-tokoh perempuan yang pernah mereka tulis.
Dan bahkan Charlotte, yang pernah mengatakan dia ingin "selamanya dikenal", tak akan bisa membayangkan ada 70.000 orang per tahun yang datang melihat rumahnya, dan menatap dengan tercengang pada stocking yang disimpan di lemari kaca (dalam kunjungan terakhir saya ke sana, seorang perempuan dari Missouri mengagumi jahitan di stocking tersebut, "Jahitannya sangat kecil!"); atau pasangan yang sambil bergandengan tangan, mengikuti tanda petunjuk berbahasa Jepang yang menandai "air terjun Brontë’.

Sumber gambar, Getty
Saat ini, kru film tengah membangun replika kompleks gereja di mana Charlotte tumbuh besar, dan saya bukan satu-satunya penggemar Brontë yang terus mengikuti perkembangannya lewat situs Keighley News.
Penyair Ted Hughes menyebut tiga bersaudari, Anne, Charlotte dan Emily Brontë sebagai 'tiga saudari yang aneh', dan tokoh-tokoh perempuan yang mereka ciptakan masih mengundang kekaguman.
Dan heroin atau tokoh perempuan mana yang masih akan kita baca 200 tahun dari sekarang? Mungkin kita tak akan ingat dengan Bella Swan, dari serial novel Twilight karya Stephenie Meyer.
Novel favorit Bella adalah Wuthering Heights, tapi pacarnya yang seorang vampir membenci buku itu.
Buat dia buku itu penuh dengan, "tokoh-tokoh yang kejam dan menghancurkan hidup satu sama lain". (Dan perlu dikatakan, bahwa tokoh Edward Cullen, si vampir pacar Bella, juga tak kalah sulitnya dengan tokoh di novel Wuthering Heights).
Kisah cinta segitiga Twilight meminjam banyak dari kisah cinta Cathy di Wuthering Heights yang terbelah antara dua pria, tapi tak seperti Cathy, Bella adalah tokoh membosankan dan ceroboh.
Ada lebih banyak jejak Wuthering Heights di trilogi Hunger Games karya Suzanne Collins.

Sumber gambar, Lionsgate
Katniss Everdeen hidup di masa depan yang suram, di mana anak-anak harus bertarung sampai mati di televisi.
Dia harus memilih antara dua pria, seorang pembuat roti yang lembut hati, Peeta (yang pada dasarnya adalah Edgar) dan pemburu yang pemberontak, Gale (yang punya banyak kemiripan dengan Heathcliff).
Pilihan ini semakin disulitkan dengan perjuangan Katniss untuk bertahan hidup, dan kesadaran politiknya.
Anda bisa mengatakan bahwa akhir kisah ini terlalu konvensional, dan Anda bisa memperdebatkan apakah Katniss membuat pilihan tepat, atau tentang isu politiknya – tapi bahwa ada begitu banyak yang bisa diperdebatkan membuat saya yakin bahwa Katniss adalah tokoh perempuan yang bisa bertahan.
Virginia Woolf berpikir bahwa Charlotte Brontë adalah seorang penulis yang disemangati oleh "kegarangan yang tak tertundukkan yang selalu berseberangan dengan kepatutan, sehingga membuat mereka ingin menciptakan sesuatu dengan cepat daripada mengamati dengan sabar.
Antusiasme inilah, dengan menolak hal yang abu-abu dan kekurangan kecil lain, melewati tindakan orang-orang biasa dan menyatu dengan semangat yang tak bisa disampaikan dengan kata-kata."
Dalam novelnya sendiri, Woolf menulis tokoh perempuan seperti Lily Briscoe di To the Lighthouse (satu lagi tokoh perempuan hebat), yang menemukan suaranya sendiri, mengenali semangatnya, yang keinginannya tak bisa ditahan, bahkan di halaman-halaman buku.
Dan mungkin inilah yang membuat tokoh-tokoh perempuan ini bertahan lama, karena mereka menghidupkan lagi keinginan-keinginan pembaca yang mungkin sudah lama terkubur.
<italic><bold>Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di <link type="page"><caption> The greatest heroines of all time</caption><url href="http://www.bbc.com/culture/story/20160411-the-greatest-heroines-of-all-time" platform="highweb"/></link> di laman <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.com/culture" platform="highweb"/></link></bold></italic>.









