Mengapa sebaiknya Anda tidak menanyakan ke orang pekerjaan mereka

Kehilangan pekerjaan menimbulkan kesedihan lebih mendalam bagi mereka yang identitasnya sangat terkait dengan pekerjaan tersebut.

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Kehilangan pekerjaan menimbulkan kesedihan lebih mendalam bagi mereka yang identitasnya sangat terkait dengan pekerjaan tersebut.

Mengapa kita menanyakan orang yang baru dikenal apa pekerjaannya? Pertanyaan ini bisa mengindikasikan hubungan yang tak sehat antara pekerjaan dan identitas kita.

Ketika beberapa menit menjalin percakapan dengan seseorang yang dia baru temui, Yasaman Hadjibashi ditanyai sebuah pertanyaan yang kerap kita terima, “Apa pekerjaan Anda?”

Hadjibashi lalu sengaja memberi jawaban yang samar-samar.

Dia bisa saja menyebut gelar strata dua yang dia raih dari Fakultas Bisnis Universitas Harvard, atau bahwa dia merupakan petinggi perusahaan perbankan Barclay. Akan tetapi, kepala departemen data Bank Barclay di Johannesburg, Afrika Selatan, itu memberi jawaban tak rinci yang dia harap bisa membedakan identitasnya di dunia kerja dan siapa dia sebenarnya di luar kantor.

“Saya ingin orang mengenal saya sebelum mereka tahu pencapaian saya. Bagi saya, ini seperti ujian karena saya ingin tahu apakah mereka menaruh hormat sejak awal,” kata Hadjibashi.

Hadjibashi bukan satu-satunya orang yang merasa identitasnya di dunia kerja dan dunia sosial harus dibedakan. Sejumlah pakar karier mengatakan dalam ranah sosial, orang-orang paling sukses sekalipun dapat meraih manfaat jika mereka melepas keterkaitan dari pekerjaan.

Mempertahankan identitas yang khusus membuat kesedihan seseorang berkurang saat dia keluar dari pekerjaan sekaligus menciptakan hubungan otentik di luar kantor. Orang itu juga merasa lebih dihargai bahkan ketika tak lagi menduduki jabatan penting.

Namun, ketika banyak perusahaan memerlukan para karyawannya berhubungan secara penuh dengan pekerjaan mereka, makin banyak pula karyawan yang tidak mampu memisahkan identitasnya dengan apa yang mereka lakukan secara profesional.

Semakin minat seseorang berkurang pada hal-hal lain, semakin besar ketergantungan orang tersebut dengan pekerjaannya, kata Al Gini.

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Semakin minat seseorang berkurang pada hal-hal lain, semakin besar ketergantungan orang tersebut dengan pekerjaannya, kata Al Gini.

Hal ini, menurut Al Gini selaku profesor etika bisnis Universitas Loyola di Chicago dan penulis buku berjudul My Job, My Self, mempengaruhi kehidupan secara negatif.

“Semakin minat kita berkurang pada hal-hal lain, semakin besar ketergantungan kita dengan pekerjaan. Jadi, ketika kita kehilangan pekerjaan, kehidupan menjadi hancur berantakan,” kata Gini.

Mereka yang menanyakan tentang pekerjaan ke orang lain sebenarnya berupaya mengira-ngira status sosial orang itu. Ini sama seperti dalam banyak budaya Asia yang menitikberatkan pada garis keturunan dan kekayaan orang tua, alih-alih pekerjaan itu sendiri, kata Ho Shee Wai, seorang psikolog dan direktur Counselling Place di Singapura.

Namun, kalaupun ada orang yang menanyakan pekerjaan sebagai cara untuk mencari tahu posisi kita, menyebut perusahaan tempat Anda bekerja atau prestasi terlalu cepat bisa menciptakan kesan yang salah tentang diri Anda atau mengaitkan Anda dengan pekerjaan yang justru Anda sangat ingin tinggalkan.

“Jangan jatuh ke dalam jebakan pemikiran bahwa label-label ini menentukan siapa Anda,” kata Ho.

Menempatkan pekerjaan di belakang

Di ranah pergaulan, menciptakan identitas berlapis-lapis amat relevan.

Mereka yang hanya menentukan jati diri melalui pekerjaan dapat jatuh ke dalam depresi apabila mereka keluar dari pekerjaan itu, sedangkan orang lain dapat dengan cepat bangkit dari keterpurukan, menurut Susan Krauss Whitbourne, profesor psikologi di University of Massachusetts Amherst, AS.

Mereka yang menanyakan tentang pekerjaan ke orang lain sebenarnya berupaya mengira-ngira status sosial orang itu, kata Ho Shee Wai.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Mereka yang menanyakan tentang pekerjaan ke orang lain sebenarnya berupaya mengira-ngira status sosial orang itu, kata Ho Shee Wai.

Dengan secara tegas mendiskusikan topik-topik yang tak berhubungan dengan pekerjaan ketika berbincang bersama teman dan keluarga, Whitbourne menambahkan, bisa membantu tembok penghalang antara pekerjaan seseorang dan identitas orang itu di ranah sosial.

Khusus bagi mereka yang sangat senang dengan pekerjaannya, perlu lebih banyak waktu melepas keterkaitan pekerjaan dalam pergaulan.

Para karyawan yang menikmati pekerjaannya untuk alasan yang hakiki, seperti menghargai pekerjaan itu dan menikmati kesenangan di kantor, menurut Whitbourne, sangat terkait dengan identitas di dunia kerja ketimbang mereka yang hanya bekerja untuk uang dan status.

Orang yang merasa gembira lantaran cinta pada pekerjaannya, kata Whitbourne, akan merasa lebih rumit ketika harus memisahkan identitas pekerjaannya.

Kiat menciptakan identitas yang utuh

Salah satu kiat menciptakan identitas yang utuh adalah fokus pada keahlian Anda ketimbang nama perusahaan atau jabatan yang Anda duduki, kata Francois Daumard, seorang pejabat bidang teknologi informasi di San Francisco.

Tatkala Daumard pindah pekerjaan dari Microsoft ke Apple dan kini ke perusahaan yang jarang diketahui orang, dia memutuskan untuk memberitahu orang yang dia temui tentang perannya di dunia teknologi informasi tanpa menyebutkan perusahaan tempatnya bekerja atau jabatan yang dia pegang.

Langkah itu membantunya menciptakan identitas yang lebih konsisten, khususnya di hadapan sejumlah kenalan yang tidak selalu tahu bahwa dia pindah kerja. Daumard lalu menyebut dirinya, ‘pria penghubung’, demi menekankan latar belakangnya sebagai tenaga penyokong penjualan.

“Bagi saya, untuk siapa saya bekerja adalah pernyataan kesekian,” ujar Daumard.

Melakukan hobi yang benar-benar disukai di luar kantor, semisal merajut, dipandang penting.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Melakukan hobi yang benar-benar disukai di luar kantor, semisal merajut, dipandang penting.

Cara itu mungkin berhasil untuk Daumard. Namun, untuk banyak orang, rahasianya adalah menemukan hobi yang benar-benar disukai di luar kantor, kata Whitbourne yang menghabiskan beberapa jam sepekan untuk memintal dan beraktivitas di bidang kerajinan tangan.

“Anda harus memandang hobi-hobi itu sebagai hal yang penting dan bukan hal bodoh yang Anda lakukan,” ujar Whitbourne.

Kebanyakan karyawan mengerjakan hobi mereka di waktu senggang, lalu meninggalkannya begitu tugas-tugas di kantor menumpuk. Kuncinya adalah memprioritaskan hobi-hobi itu sehingga seorang karyawan bisa menyebut aktivitas-aktivitas hobi itu dalam perkenalan.

Meskipun kariernya cemerlang, Hadjibashi mengaku bahwa keragaman dalam lingkungan sosialnya, apakah itu sebagai seorang ibu, guru, atau pengusaha, membuatnya bisa dikenali tak hanya dari posisinya di dunia kerja.

Ketika bersama teman-teman, pekerjaannya bukanlah topik diskusi karena bahasannya bisa terdengar sangat teknis bagi orang di luar industri perbankan.

Di sisi lain, dengan mengenali orang-orang di luar dunia kerja memberinya waktu lebih banyak untuk menjadi dirinya sendiri. “Menghabiskan waktu dengan orang-orang ini membantu saya untuk santai sejenak.”