Agar Anda berhenti membohongi diri sendiri

Membohongi diri sendiri seperti mengubur kepala dalam pasir karena menolak melihat kenyataan.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Membohongi diri sendiri seperti mengubur kepala dalam pasir karena menolak melihat kenyataan.

Berada dalam hubungan atau karier yang tak memuaskan, tapi Anda tak mau beranjak? Mungkin Anda sedang membohongi diri sendiri, sebuah cara yang diambil untuk melindungi diri dari fakta-fakta menyakitkan.

Eleanor Bain baru saja bercerai saat dia merasa bahwa dia akhirnya menemukan pria impiannya. Dia berada di kota yang baru, sedang mencari pekerjaan baru dan memulai hidup baru dengan dua anak perempuannya.

Namun ternyata meski Bain memiliki minat yang sama dengan pasangan barunya, ada banyak hal yang negatif. Kadang-kadang pasangan tersebut sering berteriak satu sama lain selama berjam-jam.

Melihat ke belakang, Bain mengatakan bahwa dia membohongi dirinya sendiri tentang hubungan tersebut. "Bukannya saya tak mau mengakuinya, saya sama sekali tak mengakuinya," kata Bain.

Dia tak mau mendengar saat beberapa teman mengatakan bahwa hubungan tersebut tak berjalan. "Saya melakukan semuanya untuk meyakinkan mereka bahwa pria ini adalah pria yang tepat untuk hidup saya."

Kenapa kita melakukannya? Membohongi diri sendiri adalah cara melindungi diri dari fakta-fakta menyakitkan.

  • <link type="page"><caption> Kiat mendapatkan pekerjaan yang membuat Anda semangat di hari Senin</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/08/160829_vert_cap_kerja_senin" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Terlalu banyak posting di media sosial bisa membuat Anda dipecat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/09/160908_vert_cap_media_sosial" platform="highweb"/></link>

Kita mengklaim bahwa kita jujur, tapi kita tetap saja melanggar aturan; kita mengatakan pada diri sendiri bahwa kita misnisau menabung untuk masa pensiun tapi secara sadar melakukan yang sebaliknya, atau tetap bertahan di sebuah perusahaan meski kita tak mendapat promosi di tempat kerja.

Delusi memudahkan kehidupan sehari-hari kita, tapi ada harga yang harus dibayar, menurut Cam Caldwell, seorang profesor manajemen di Purdue University North Central, Indiana di AS, yang sudah meneliti soal identitas, kemawasan diri dan membohongi diri sendiri selama beberapa dekade.

Menurutnya, membohongi diri sendiri adalah "memahami dua ide yang saling bertentangan tanpa mengakui konfliknya".

Harga yang harus dibayar untuk membohongi diri sendiri adalah risiko terasing, saat Anda kehilangan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain karena obsesi Anda terhadap realita yang Anda bangun sendiri lebih besar daripada minat Anda akan kebenaran, tulis Caldwell dalam sebuah naskah akademis, mengutip psikiatris AS M Scott Peck.

Buat mereka yang tak mau menghindari kenyataan, tanyakan ini pada diri Anda sendiri: Mana yang lebih buruk - sebuah berita buruk tentang situasi Anda yang sebenarnya atau pendekatan 'lakukan seperti biasa' yang bisa menghancurkan hubungan, keuangan atau karier Anda? Meski berhadapan dengan kenyataan bisa menyulitkan, maka tak mau mengatasi masalah bisa berdampak pada banyak aspek kehidupan Anda.

Saat keuangan Anda tak seimbang

Banyak orang membohongi diri sendiri. Contohnya dari sisi keuangan. Anda berasumsi bahwa angka yang tertera di kertas adalah faktanya, tapi saat Anda berandai-andai dan membohongi diri sendiri, angka tersebut bisa diartikan berbeda, kata Kathleen Gurney, CEO Financial Psychology Corporation yang berbasis di Sarasota, Florida.

Dia bahkan melihat penasihat keuangan yang tak mampu mengakui kebenaran, terlepas dari pengetahuan mereka terkait pengelolaan uang. Seperti seorang penasihat keuangan yang tak mampu melihat risiko kehilangan rumahnya hanya karena kelewatan membayar cicilan rumah. Klien lain bahkan menolak untuk mengakui dampak dari utang kartu kredit selama bertahun-tahun, kata Gurney.

"Ada tahapan dalam membohongi diri sendiri dan itu bisa menjadi kronis," kata Gurney. Hal paling sederhana adalah fakta yang tak menyenangkan, seperti cek Anda ditolak atau sering terlambat membayar tagihan.

Tahapan kedua membohongi diri sendiri adalah pengecilan. Dalam tahap ini, seseorang mengakui faktanya tapi mengatakan bahwa itu baik-baik saja dan mereka merasionalisasi tindakan tersebut.

"Benar (ini terjadi), tapi selama saya punya cukup uang di situ, cek saya tak akan ditolak."

Bentuk membohongi diri sendiri yang ketiga adalah proyeksi. Di sini Anda mengakui ada masalah, tapi tak mengambil tanggung jawab.

"Saya tahu, tapi itu bukan salah saya karena saya terlalu sibuk dan saya punya beberapa pekerjaan.."

Jika Anda tak mau melihat, mendengar, atau membahas kenyataan yang terjadi, bisakah Anda mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja?

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Jika Anda tak mau melihat, mendengar, atau membahas kenyataan yang terjadi, bisakah Anda mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja?

Saran Gurney: Konsultasikan dengan teman atau profesional untuk menganalisis apa yang bisa membantu keuangan Anda dan apa yang menghambat. "Tanyakan terus hal itu pada diri sendiri sampai mendapat jawaban."

Ide lain adalah untuk mengambil evaluasi psikologis untuk menentukan kepribadian keuangan Anda dan memberikan pemahaman mendalam atas perilaku Anda sendiri.

Ide lain: Buatlah grafis yang membandingkan apa yang Anda bilang Anda inginkan dan apa yang Anda lakukan, atau seperti kata Gurney, tuliskan emosi yang Anda rasakan terkait keuangan di kartu, tumpuk dan lihat apakah ada suatu tren yang muncul.

Baca tanda-tanda

Membohongi diri sendiri tak selalu soal keuangan atau hubungan. Banyak orang merasakannya dalam karier mereka.

Di sini, sama halnya di aspek lain, mudah untuk membiarkan andai-andai menjadi pengganti dalam menilai fakta. Ini yang terjadi pada klien Nadine Gimbel, seorang pelatih karier di Frankfurt yang juga manajer penjualan di RF/F Raum Fuer Fuehrung, konsultan yang mendukung organisasi dan manajemen dalam proses perubahan.

Seorang perempuan yang dibantunya adalah eksekutif di tingkat manajer di sebuah bank Jerman yang mengeluhkan karena dia tak dipromosikan, meski bekerja panjang dan keras.

Perempuan tersebut, yang berada di usia awal 40an, punya sekilas ide akan ke mana dia ingin pergi dan kenapa dia ingin menuju posisi itu.

Dia selalu menunggu seseorang mengetahui bahwa dia melakukan pekerjaan yang baik. Kebutaan yang diterapkan pada diri sendiri ini membuat kariernya stagnan.

"Dia membohongi diri sendiri dengan berpikir bahwa seseorang harus menemukannya," kata Gimbel, yang bekerja bersama perempuan tersebut untuk menyampaikan apa yang ia inginkan dan bagaimana mengkomunikasikan hal itu pada atasannya. "Dia melakukan ini dan bosnya menyadari posisi si perempuan tersebut."

Saran Gimbel terhadap mereka yang menghindari tanda-tanda atau indikasi tersebut di tempat kerja adalah untuk mencari kejelasan apa yang diinginkan. Lalu ambil tanggung jawab untuk mengambil langkah yang diperlukan, seperti menyampaikan apa yang diinginkan atau meninggalkan pekerjaan yang tak berjalan lancar.

"Dalam hidup ada perubahan, dan sering kita berpegang pada sesuatu karena kita takut," kata Gimbel. "Biasanya kita hanya menyesali langkah yang tidak kita ambil, atau perubahan yang tak kita lakukan. Kita tidak akan tahu ke mana kita akan melangkah kalau saja kita tidak takut."

Temukan keberanian

Tentu saja, melihat kebenaran tentang diri Anda sendiri dan bertindak membutuhkan keberanian dan keteguhan. Bagi Bain, poin perubahan dalam hubungannya terjadi saat dia melihat pasangan barunya mengkritik anak-anak perempuannya.

"Seperti bumerang, saat Anda menyadari hubungan ini tidak sebagus itu," kata Bain, yang mengatakan bahwa dia merasakan "sakit yang akut" dan "mau kabur" saat menyadari seberapa jauh dia membohongi diri sendiri.

"Seperti tirai terbuka dan Anda melihat kenyataan yang sebenarnya."