Amritsar, kota di India di mana orang-orangnya tidak pernah kelaparan

Kuil Emas di Amritsar

Sumber gambar, f9photos/Getty Images

Keterangan gambar, Kuil Emas di Amritsar
    • Penulis, Srishti Chaudhary & Raphael Reichel
    • Peranan, BBC Travel

Amritsar, kota berpenduduk dua juta orang di India utara, terkenal dengan banyak hal: hidangan lezat, kota tua bersejarah, dan Kuil Emas yang spektakuler - kuil terpenting bagi agama Sikh.

Namun, hal yang paling mencolok di mana-mana, dari kuil sampai orang-orang di jalanan, adalah rasa kedermawanan yang ada hubungannya dengan pendirian kota tersebut.

Amritsar didirikan pada Abad ke-16 oleh seorang guru Sikh dan terletak di wilayah Punjab, tempat asal Sikhisme. Agama tersebut terkenal dengan tradisi seva - perbuatan sukarela yang dilakukan untuk orang lain tanpa mengharap balasan.

Banyak penganut Sikh di seluruh dunia melakukan seva di gurudwara (kuil Sikh), sering kali dalam bentuk amalan sederhana seperti mengepel lantai, menyajikan makanan, dan menjaga ketertiban di dalam kuil. Lainnya melakukan seva di kehidupan pribadi mereka dengan kedermawanan dan beramal.

Pada April 2021, ketika Covid-19 menghantam kehidupan banyak keluarga di seluruh India, komunitas Sikh turun ke lapangan untuk mengirimkan tabung-tabung oksigen dan suplai obat-obatan kepada mereka yang paling membutuhkan.

"Seva berarti pelayanan tanpa pamrih, dan dalam Sikhisme itu bukan sekadar nasihat dan pedoman, tapi praktik sehari-hari," tulis Jasreen Mayal Khanna dalam bukunya Seva: Sikh Wisdom for Living Well by Doing Good.

Amritsar

Sumber gambar, Raphael Reichel

Keterangan gambar, Para penganut Sikh di seluruh dunia melakukan 'seva', misalnya membersihkan kolam suci di Kuil Emas.

"Nama lain untuk seva adalah cinta," kata Abhinandan Chaudhary, 23 tahun, yang telah melakukan seva bersama keluarganya sejak usianya delapan tahun.

"Ajaran yang umum ialah seseorang harus begitu sembunyi-sembunyi dan tanpa pamrih, bahwa jika Anda melakukan seva dengan tangan kiri, bahkan tangan kanan Anda tidak boleh mengetahuinya."

Di dunia yang kian hari kian individualistis dan kapitalistis, ini cara hidup yang menyegarkan.

Semangat kedermawanan dalam Sikhisme dapat disaksikan di seluruh dunia. Selama kuncitara (lockdown) Covid-19, para relawan Sikh di sebuah kuil di Inggris mengantarkan ribuan makanan setiap hari kepada para staf NHS, sementara penganut Sikh di berbagai kota di AS memasak ratusan ribu makanan gratis.

Dalam situasi krisis atau darurat, kaum Sikh mengerahkan kekuatan penuh untuk menolong mereka yang membutuhkan, misalnya saja ketika Kanada yang dihantam badai atau saat Selandia Baru dilanda topan.

Namun, di Amritsar, yang merupakan pusat agama Sikh, seva diamalkan pada level yang lebih tinggi lagi.

Sudah jadi pengetahuan umum di India bahwa tidak ada seorang pun yang tidur dalam keadaan lapar di Amritsar. Itu karena selalu ada makanan panas di Kuil Emas, kuil terpenting dalam agama Sikh. Makanan itu tersedia bagi siapa saja yang menginginkannya.

Kuil Emas memiliki langar, dapur komunal terbesar di dunia, melayani 100.000 orang setiap hari, tujuh hari seminggu, gratis.

Semua orang boleh makan di sini, tanpa didiskriminasi, selama mereka membutuhkan tempat berlindung dan makanan, dan hidangan tersedia 24 jam sehari.

Amritsar

Sumber gambar, Raphael Reichel

Keterangan gambar, Dapur komunal di Kuil Emas menyajikan makanan panas untuk 100.000 orang setiap hari.

Koki berbintang Michelin yang berbasis di New York, Vikas Khanna, yang mendistribusikan jutaan makanan di India selama kuncitara Covid, mengatakan: "Saya lahir dan besar di Amritsar dan kami punya dapur umum besar di mana semua orang bisa makan. Seluruh kota bisa makan di sana."

"Saya baru merasa kelaparan saat berada di New York, ketika saya berjuang dari bawah," ujar Vikas.

Seperti semua gurudwara, Kuil Emas dioperasikan dengan baik dan sangat disiplin oleh armada relawan, yang menyajikan hidangan dasar nan lezat.

Dalam satu piring ada lentil, chapatti (roti pipih), rebusan kacang arab, dan yoghurt.

Orang-orang duduk bersila di lantai di aula besar yang dapat mengakomodasi 200 orang: laki-laki dan perempuan, muda dan tua, kaya dan miskin.

Ada koreografi implisit di baliknya yang tampaknya diketahui semua orang. Sementara beberapa orang meminta tambahan makanan, yang lain langsung pergi setelah menandaskan makanan mereka.

Setelah kira-kira 15 menit, relawan membersihkan dan menyiapkan aula untuk kelompok berikutnya. Ini siklus makan dan penyajian yang tidak pernah berakhir.

Dari dalam kuil sampai di jalanan, rasa persahabatan, kedermawanan, dan gotong-royong bisa dirasakan di Amritsar.

Ketika kami berkunjung, senyuman orang-orang selalu mengikuti kami dan ketika kami kelihatan tersesat atau kebingungan seseorang akan mendekati kami dan bertanya apakah mereka bisa membantu.

Saat berjalan-jalan di malam hari, orang yang lewat memberi tahu kami untuk menjaga baik-baik tas kami di area yang ramai.

Ketika kami tiba di Kesar da Dhaba, restoran terkenal dengan antrean yang panjang, orang-orang berusaha memberi ruang di meja yang besar untuk kami, meskipun mereka harus makan sambil duduk rapat-rapat.

Kesan bersahabat dan saling berbagi ada di mana-mana, lirikan ramah dan senyuman, sudah cukup untuk membuat kami diundang minum teh dan bercakap-cakap tentang kehidupan mereka.

"Besar di Amritsar, ada kesan bahwa saya hidup di dalam komunitas yang besar," kata Rahat Sharma, yang lahir dan dibesarkan di sini.

"Waktu kecil saya sering main petak umpet di Kuil Emas, tempat kami semua melakukan seva. Semua orang saling menjaga. Penganut Sikh dan Hindu, dua agama terbesar di kota ini, hidup berdampingan dengan damai, kendati sering berlawanan secara politik."

Amritsar

Sumber gambar, Raphael Reichel

Keterangan gambar, Amritsar didirikan pada Abad 16 oleh seorang guru Sikh dan merupakan pusat spiritual agama Sikh.

Maka tidak heran bila kota ini begitu penuh dengan energi karena betapapun Amritsar adalah kota yang religius, kota ini juga hidup.

Hidangan kaki limanya, dengan kulcha (roti pipih) dan chole (rebusan kacang arab), phirni (puding beras) di pot-pot tanah liat, dan segelas besar buttermilk, bikin iri seluruh India.

Kota tua yang menakjubkan meski terabaikan, labirin jalan-jalan sempit, persimpangan, dan alun-alun kecil, penuh dengan bazar-bazar dan tampak hilang dalam waktu.

Namun, di tengah karakter murah hati dan terbuka Amritsar terdapat sejarah kontemporer kelam yang telah memainkan peran penting dalam membentuk konsep diri serta dinamika kota tersebut - begitu pula Sikhisme.

Sebagai kota terbesar ke dua di Punjab, Amritsar seringkali menjadi titik panas untuk perkumpulan dan aksi protes selama penjajahan Inggris.

Salah satu peristiwa itu berujung brutal pada 1919, ketika seorang jenderal Inggris memberi perintah untuk menembaki pertemuan rakyat yang berlangsung damai, yang kemudian dikenal sebagai Pembantaian Jallianwala Bagh, yang menewaskan1.500 orang tewas.

Selain itu, ketika Inggris buru-buru hengkang dari India pada 1947, kekerasan yang menyebabkan Pemisahan India sangat berdampak pada Amritsar karena lokasi kota tersebut yang sangat dekat dengan perbatasan yang baru saja dibuat. (Karena sejarah ini, Museum Pemisahan pertama dan satu-satunya di India dibuka di Amritsar pada 2017).

Pada 1984, Amritsar sekali lagi menjadi tempat peristiwa tragis. Operasi militer yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Indira Gandhi melibatkan penyerbuan Kuil Emas oleh pasukan militer untuk menyingkirkan kelompok separatis, dampak traumanya bisa dirasakan bahkan sampai hari ini.

Ini berujung pada pembunuhan Gandhi oleh dua pengawal pribadinya yang beragama Sikh beberapa bulan kemudian, dan pembantaian ribuan warga Sikh yang tak bersalah di seluruh India pada hari-hari berikutnya.

Amritsar

Sumber gambar, Alison Wright/Getty Images

Keterangan gambar, Agama Sikh memberi penekanan kuat pada melakukan perbuatan baik dan membantu orang lain.

Penting bagi Sikh untuk melestarikan ingatan akan peristiwa ini; Kisah-kisah para martir Sikh adalah bagian besar dari memori budaya mereka, bahkan dibacakan dalam doa mereka, ardas.

"Namun kisah-kisah ini tidak diceritakan kembali untuk menghasut kebencian atau membalas dendam. Sebaliknya, warisan kami sebagai pelindung lah yang ditekankan," tulis Khanna.

Dan itulah mengapa lebih mengagumkan lagi bahwa komunitas yang pernah menderita begitu banyak trauma kolektif masih begitu dermawan dan menerima semua orang. Menurut Khanna, sifat-sifat ini merupakan bagian integral dari menjadi Sikh.

"Guru Nanak (pendiri Sikhisme) menjadikan seva sebagai lagu Sikh ... Sikh hanya memilih untuk menjadikan sikap tidak pamrih sebagai bagian besar dari hidup mereka, terinspirasi oleh kata-kata serta perbuatan guru-guru mereka. "

Tradisi penerimaan dan penyambutan Sikh terhadap orang-orang terlepas dari agama atau keyakinan mereka, adalah bukti kemurahan hati mereka - serta kota yang membumikan sentimen ini dengan cara yang paling baik.

Di Amritsar, tak peduli betapa suram dan gelapnya keadaan, semangat kebaikan, cinta, dan kemurahan hati tampaknya selalu menang.

---

Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judulAmritsar: The Indian city where no one goes hungrydapat anda baca diBBC Travel.