Menginap di rumah beratap jerami berusia 150 tahun di Desa Miyama, Jepang

Kyoto

Sumber gambar, Hsu Shih-Chen/Getty Images

    • Penulis, Mara Budgen
    • Peranan, BBC Travel

Bangunan-bangunan beratap jerami erat kaitannya dengan sejarah dan budaya Jepang, namun hanya sedikit yang dapat bertahan. Akan tetapi, sebuah kluster di sejumlah desa di dekat Kyoto tetap mempertahankan tradisi kuno ini.

Saya tiba di Miyama di tengah musim dingin yang gelap.

Ketika saya memasuki penginapan untuk bermalam, di sebuah rumah beratap anyaman jerami berumur 160 tahun, saya terpesona pada tampilannya yang hangat.

Warna-warna alami perlengkapan kayu dan lantai tanah terasa menenangkan, dan saya langsung tertarik pada sebuah perapian persegi panjang di tengah rumah, tempat panci besi dipanaskan di atas bara api.

Namun baru pada keesokan paginya saya melihat atap rumah yang amat menarik itu untuk pertama kalinya, dan inilah alasan utama saya memilih tinggal di sini.

Ketika saya berjalan keluar dari pintu depan, sambil menjulurkan leher, saya melihat hamparan jerami coklat keabu-abuan dengan bercak lumut di atap rumah. Berbentuk segitiga dan memiliki ketinggian yang curam.

Atapnya begitu besar sehingga seperti memenuhi sisa bangunan, dan saya bersyukur atas kesempatan langka tidur di bangunan yang kini jarang ditemukan di pedesaan Jepang.

Setidaknya selama lima milenium, masyarakat Jepang telah membangun atap dari rumput, alang-alang, atau jerami.

Namun, gaya arsitektur ini hanya tersisa di beberapa kluster saja. Beberapa dijadikan tempat tinggal di pedesaan, lainnya tempat ibadah.

Atap dari jerami sebenarnya sangat erat kaitannya dengan agama Shinto Jepang, dengan keluarga kekaisaran sebagai pemimpinnya.

Kyoto

Sumber gambar, Mara Budgen

Keterangan gambar, Di 'Miyama Futon & Breakfast Honkan', perapian berada di tengah rumah.

"Ketika kaisar naik tahta, sebuah bangunan jerami dibuat khusus untuk acara ini," jelas Haruo Nishio, salah satu pembuat jerami terakhir di Jepang.

Dia juga pemilik rumah tempat saya menginap malam sebelumnya, 'Miyama Futon & Breakfast Honkan'. (Honkan berarti "bangunan utama" dalam bahasa Jepang).

Nishio menceritakan bahwa kaya, yang berarti "ilalang" dalam bahasa Jepang, merupakan bagian dari nama dewa, ayah mitologis kaisar pertama Jepang, yang lahir di gubuk yang belum selesai serta terbuat dari anyaman bulu burung kormoran.

Bagi Nishio, membuat anyaman lebih dari sekadar profesi. Hal itu adalah praktik ritual yang menghubungkannya dengan akar Jepang.

Dalam usia 23 tahun di pertengahan 1990-an, Nishio pindah dari Kyoto ke wilayah pedesaan Miyama, sejauh 50 km, dengan naik kendaraan ke pegunungan di utara kota, untuk menjadi pembuat jerami pada saat kerajinan ini hampir punah.

Dia membeli Honkan, yang terdaftar sebagai Tangible Cultural Property di Jepang, dan tinggal di sana bersama keluarganya selama tujuh tahun.

"Atap jerami...menciptakan ruang kosong, termasuk energi yang tak terlihat," kenang Nishio.

"Mungkin ini bukan rumah, tapi tempat pemujaan, dan dibangun sebagai rasa terima kasih kepada Tuhan, Buddha, dan leluhur kita."

Baca juga:

Kyoto

Sumber gambar, Kyoto Miyama Tourism Association

Keterangan gambar, 'Kayabuki no Sato', salah satu dari 57 desa Miyama, memiliki banyak kluster rumah beratap jerami di Jepang.

Keluarga Nishio akhirnya pindah dan menyediakan rumah bekas mereka, juga beberapa rumah lain yang sudah direnovasi di Miyama, bagi para pengunjung yang ingin menginap.

Bisnis mereka bertujuan untuk "menyambut para pelancong supaya merasakan gaya hidup kampung halaman kami yang luar biasa," kata Nishio.

Satu malam saya habiskan di Honkan, saya tidak terhubung dengan zat yang lebih tinggi, setidaknya saya tidak menyadarinya.

Tapi saat saya melihat ke atap jerami, melangkah ke lantai kayu yang ditinggikan dengan perapian di tengahnya, dan melihat tidak adanya pagar di sekeliling rumah, yang menurut Nishio itu melambangkan "keterbukaan pikiran" orang-orang yang membangun tempat tinggal yang megah, merupakan visi tukang jerami tentang tempat perlindungan dan bukan rumah. Hal itu beresonansi dengan saya.

Tepatnya, Miyama berarti "pegunungan nan jelita" dalam bahasa Jepang. Hamparan pegunungan berhutan lebat seluas 340 km persegi ini ditaburi 57 desa yang dihuni 3.400 orang.

Di sebagian besar sejarah mereka, dengan jalur yang sulit ke Kyoto lalu dibangun jalan modern 60 tahun silam, pemukiman ini tetap terputus dari wilayah lain negara ini.

Karena itulah, penduduk awal Miyama tumbuh berkembang secara eksklusif, bersama keturunannya, mempertahankan tradisi pedesaan supaya tetap hidup.

Terikat pada budaya swasembada, masyarakat di sana terus bergantung kepada pertanian dan kehutanan, dan tinggal di rumah kayu beratap jerami yang dirancang dengan gaya "hip-and-gable".

Di Miyama, bubungan atap dihiasi dengan batang pohon yang disilangkan dengan ornamen berbentuk X yang jumlahnya selalu ganjil dan biasanya menandakan status sosial sebuah keluarga.

Atap model ini terus dilestarikan oleh komunitas ahli pembuat jerami, yang sudah berusia 5.000 tahun.

Kyoto

Sumber gambar, Kyoto Miyama Tourism Association

Keterangan gambar, Terputus dari wilayah lain di negara ini, penduduk Miyama secara tradisional mengandalkan pertanian dan kehutanan.

Banyak pemukim di sini mempertahankan "karakteristik khas desa tradisional Jepang", kata Noriko Kamisawa, pemandu lokal berbahasa Inggris yang memiliki Thyme, sebuah penginapan di rumah pedesaan yang telah direnovasi dengan cantik.

"Pemandangannya sama seperti seabad yang lalu," tambahnya. Dalam hal ini, Miyama adalah contoh satoyama, secara harfiah diterjemahkan menjadi "desa" dan "gunung" di Jepang, yang terpelihara dengan baik.

"Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bentang alam yang terdiri dari mozaik berbagai jenis ekosistem, termasuk hutan sekunder, lahan pertanian, kolam irigasi dan padang rumput, serta pemukiman manusia," jelas Maiko Nishi, peneliti di United Nations University Institute for the Advanced Study of Sustainability di Tokyo. "Gagasan inti dari satoyama adalah masyarakat yang selaras dengan alam."

Di masa lalu, bahan baku ilalang, sejenis rumput perak yang disebut susuki, dibudidayakan dan dikelola secara kolektif oleh komunitas Miyama.

Saat ini, beberapa susuki harus diimpor dari bagian lain Jepang; meskipun demikian, "tumbuh selama ada matahari, tanah, udara, dan air," kata Nishio. "Jadi, dengan membangun atap dengan tanaman ini, kita menceritakan kisah keabadian."

Baca juga:

Kyoto

Sumber gambar, Kyoto Miyama Tourism Association

Keterangan gambar, Sistem pencegah kebakaran 'Kayabuki no Sato' diuji dua kali setahun selama 'Water Hose Festival'.

Jika anyaman memberi Miyama pesonanya, maka permatanya adalah Kayabuki no Sato, yang namanya berarti "desa beratap jerami".

Pemukiman ini adalah tempat bagi salah satu kluster rumah beratap jerami terbanyak di Jepang, dengan hampir 40 bangunan beratapkan jerami, rumah yang tertua didirikan dua abad lalu.

Tempat itu dinyatakan sebagai situs warisan nasional pada 1993 - pemerintah memberikan subsidi 80% dari biaya jerami.

Selain itu, desa ini juga dilengkapi sistem pencegah kebakaran otomatis, berupa 1.000 ton air yang disimpan di 62 gubuk api yang diuji dua kali setiap 12 bulan selama Water Hose Festival yang cukup populer.

Atap jerami perlu diganti setiap 20 tahun atau lebih (jerami tua didaur ulang sebagai pupuk dan mulsa), dan status warisan Kayabuki no Sato telah membantu menjaga profesi Nishio agar tetap hidup.

Sebanyak 15 pengrajin Miyama juga bekerja di bagian lain Jepang, jelas Nishio, karena hanya sedikit pengrajin jerami yang tersisa di negara itu.

Secara umum, terlepas dari beberapa pengecualian, rumah jerami juga tidak bernasib baik.

Ketika Nishio berusia 26 tahun, dia bekerja sebagai tukang jerami di Inggris.

Dia terkejut melihat di sana rumah tradisional sangat dihargai, dan banyak pengrajin muda, bahkan ada sekolah menganyam.

Sebaliknya, dia mengatakan bahwa di Jepang, "rumah kayu kehilangan hampir semua nilainya setelah 30 tahun", dan cenderung ada pengabaian.

Bukan hanya anyaman jerami itu yang terancam, Miyama sendiri juga terancam.

"Setiap tahun, populasi yang sebagian besar lansia berkurang sekitar 100 orang," kata Takamido Waka, Direktur eksekutif Kyoto Miyama Tourism Association.

Akibatnya, di wilayah tersebut hanya ada satu klinik, satu SD, dan satu SMP.

"Kita juga punya dua TK, tapi tahun depan jumlahnya dikurangi menjadi satu," tambah Waka.

Kyoto

Sumber gambar, Kyoto Miyama Tourism Association

Keterangan gambar, Para pengunjung Miyama dapat menjalani kehidupan di pedesaan ini dan mempelajari keterampilan seperti menganyam jerami.

Nishi, seorang peneliti, membenarkan bahwa penurunan satoyama tersebar luas di seluruh Jepang, negara dengan salah satu populasi tertua di dunia.

Dalam konteks ini, "pariwisata berkesinambungan adalah salah satu strategi utama untuk merevitalisasi bentang alam ini", katanya - dan ini adalah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah.

Misalnya, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan telah membuat program menginap di pedesaan (Countryside Stays) untuk mempromosikan menginap semalam di Miyama dan bagian-bagian lain di Jepang, yang memungkinkan para pengunjung untuk merasakan desa pedesaan, "masing-masing dengan sejarah dan tradisi unik, budaya, dan cara hidup mereka sendiri," kata Yoneda Taichi, yang mengepalai kantor promosi program tersebut.

Selain meningkatkan pendapatan, masuknya pariwisata Miyama, yang diperkirakan akan mendapat 3.000 pengunjung malam datang dari luar negeri pada tahun 2022, menandakan kembali ke angka pra-pandemi, telah membantu meningkatkan jasa layanan; misalnya, bus, ke dan dari stasiun kereta api terdekat memiliki frekuensi dua kali lipat.

Pariwisata juga telah memutus siklus devaluasi properti yang menurut Nishio telah membahayakan kelangsungan hidup rumah jerami.

Dan lantaran konotasi kemiskinan pedesaan di masa lalu telah hilang, maka pandangan penduduk tentang kehidupan satoyama juga telah berubah, jelas Waka.

"Tiga puluh tahun yang lalu, orang-orang malu mengatakan bahwa mereka berasal dari Miyama. Sekarang, mereka bangga."

Ketertarikan pada kerajinan, tradisi, dan lanskap lokal juga memberikan dorongan untuk pelestariannya.

Para pelancong ke Miyama dapat merasakan pengalaman apa saja, mulai dari jerami hingga pertanian organik hingga membuat kerajinan dari bambu yang dipanen secara lokal, serta mengunjungi Little Indigo Museum, pusat lokakarya bagi salah satu ahli pewarnaan indigo Jepang, serta hutan Ashiu, salah satu hutan primer terbesar di Jepang barat.

Baca juga:

Kyoto

Sumber gambar, Mara Budgen

Keterangan gambar, Bahkan kandang ayam di 'Miyama Futon & Breakfast Honkan' memiliki atap jerami.

Selama saya tinggal di Honkan, saya bertemu Toranosuke Nishio, putra Haruo Nishio, yang bekerja di bisnis keluarga.

Saat dia memberi makan ayam yang kandangnya terletak di belakang rumah (juga beratapkan jerami), kami membahas mengapa Miyama tidak terbiasa terbuka bagi orang luar, untuk komunitas terpencil seperti itu.

Toranosuke menyebutkan bahwa di masa lalu desa-desa biasa menyambut para pelancong.

Miyama berada di sepanjang saba kaido kuno, atau "jalan makarel", rute perdagangan makanan laut yang menghubungkan prefektur Fukui ke pusat kekaisaran Kyoto dan Nara.

Menurut ayah Toranosuke, penduduk desa memperluas wawasannya melalui interaksi mereka dengan para pelancong.

"Saya percaya pesona suatu tempat tidak ditentukan oleh bangunannya, tetapi budayanya dan orang-orangnya," kata Toranosuke, "dan saat ini, kami masih tertarik dengan orang seperti apa yang dapat kami temui dan menjalin hubungan."

Ketika ayam-ayam mematuk lantai tanah di sekitar kami, kepingan salju mulai berjatuhan di atap jerami Honkan, berkilauan di bawah cahaya pagi.

Saya mengamati setiap kepingan salju menari di udara sampai mendarat dengan lembut di atas jerami.

Barangkali inilah yang ingin disampaikan oleh para dewa di rumah ini kepada saya: kita mengalami perjalanan waktu melalui unsur-unsur alam, jika saja kita berhenti sejenak untuk memperhatikan keindahannya.

--

Anda dapat membaca artikel berjudul The masters of a 5,000-year-old craft di BBC Travel.