Berpetualang melalui jalur Tanami sepanjang 1.077 km yang terpencil di pedalaman Australia

Tanami track

Sumber gambar, Craig Sauers

    • Penulis, Craig Sauers
    • Peranan, BBC Travel

Jalur Tanami mungkin saja merupakan trayek paling menakutkan dari sekian rute jalan darat paling menantang di Australia.

Akan tetapi kehadiran alam liar yang menandai perjalanan gurun nan epik ini dapat segera berubah.

Di segenap penjuru, pasir merah menyala terhampar nyaris menutupi seluruh daratan.

Segalanya lantas seolah-olah berubah menjadi kemerahan: pepohonan baobab, rumput-rumput angin (spinifex), gundukan rayap yang membentang seperti Menara Babel berukuran mini yang menghunjam ke langit.

Jalanan aspal pun berkilau layaknya samudera yang ditaburi bebatuan rubi kemerahan.

Kami hanya berjarak sekian jam dari Alice Springs, yang secara faktual adalah ibu kota pedalaman Australia, dan hanya ada kami di tengah jalur Tanami.

Tapi itulah justru yang menjadi bagian dari daya tarik jalur ini.

Tanami, demikian penduduk setempat menyebutnya, merupakan salah satu jalur petualangan di kawasan pedalaman terluas di Australia.

Jalan sepanjang 1.077 km ini membelah gurun yang bernama sama, Gurun Tanami, salah satu wilayah terpencil dan paling gersang di dunia, yang menghubungkan Red Center dan wilayah Kimberley, perbatasan barat laut yang berbatu.

Kendati sebagian besar rute ini dilewati para peternak dan truk-truk yang melaju menuju tambang emas Granite yang terpencil, ditambah lalu lalang unta liar yang tampak ganjil, Tanami juga menarik wisatawan pemberani.

Mereka datang untuk menikmati pemandangan alam, berkemah di semak-semak dan kemudian menjadi tersohor karena berkendara melintasi salah satu jalur terpanjang dan paling menantang di Australia.

Saya segera menyadari betapa menakutkannya perjalanan ini, begitu kami melewati Tilmouth Well, sebuah kedai minum terpencil di jarak 180 km sebelah utara Alice Springs dan salah satu pemberhentian bahan bakar terakhir dalam jarak ratusan kilometer.

Baca juga:

Tanami track

Sumber gambar, Theo Allofs/Getty Images

Keterangan gambar, Padang Tanami adalah salah satu dari wilayah yang paling terisolasi dan gersang di dunia.

Di sini, jalanan aspal berubah menjadi jalur tanah bergelombang yang rusak, dan pemukiman menjadi semakin langka, sehingga membuat kehadiran penggerak roda yang siap dengan segala kondisi, tempat air minum, dan jerigen bensin, menjadi amat penting.

Kondisi semacam ini membuat para pelancong bergidik. Walaupun infrastruktur sudah sedikit lebih baik, sehingga mengurangi aneka risiko keterpencilan Tanami, tapi permukaan tanah tidak beraspal, dan cerita-cerita rakyat, masih perlu dihormati.

Pada saat kami meninggalkan jalan aspal, saya memahami semacam gairah primitif untuk menaklukkan medan ini. Tapi begitu kami sampai di Kota Yuendumu, Tanami menjadi lebih dari sekadar konklusi sepele.

Yuendumu, yang didirikan pada 1946 oleh Native Affairs Branch Australia untuk mensejahterakan komunitas Aborigin yang tergusur oleh tambang emas dan peternakan sapi, saat ini menjadi tempat tinggal bagi sekitar 1.000 orang.

Sebagian besar adalah Warlpiri, orang Aborigin Australia yang merupakan pemilik tradisional daerah tersebut dan mengelola lahan mereka sebagai bagian dari kepercayaan.

Komunitas Warlpiri telah tinggal di wilayah tersebut selama ribuan tahun.

Para peneliti masih menemukan jejak-jejak bersejarah mereka, mulai dari situs suci pembuat hujan hingga ukiran kuno di kulit kayu baobab.

Akan tetapi demam emas di abad ke-20 dan ekspansi pastoral membuat mereka berada dalam ketidakpastian.

Barulah pada 1978, dua tahun setelah Australia mengesahkan Undang-Undang Hak Tanah Aborigin, komunitas Warlpiri mendapatkan kembali kendali atas tanah tersebut.

Sementara beberapa komunitas Aborigin tersebar di Tanami, Yuendumu adalah salah satu dari sedikit komunitas yang secara terbuka menyambut orang luar.

Sebagian besar faktor yang memengaruhinya, sejauh yang saya pelajari, adalah berkat Pusat Seni Warlukurlangu.

Senu Warlpiri

Sumber gambar, John van Hasselt - Corbis/Getty Images

Warlukurlangu yang didirikan pada 1985 merupakan salah satu dari kerja sama seni milik orang-orang Aborigin yang bertahan lama.

Ada sekitar 800 karya seniman-seniman di sini, bahkan hanya pada tahun 2022 saja, mereka membuat 11.000 karya.

Saat ini, manajer Cecilia Alfonso mengawasi operasional sehari-hari, seperti yang dia lakukan selama lebih dari dua dekade.

Di awal masa jabatannya, Alfonso dan asisten manajer Gloria Morales, menyadari bahwa para wisatawan melewati Yuendumu begitu saja, tidak menyadari bahwa mereka dapat memasukinya tanpa izin.

Untuk mengubahnya, mereka menggantungkan tanda "selamat datang para pengunjung" di ruas jalan.

"Hal ini mencerminkan etos kami," jelasnya. "Banyak yang memberitahu kami, 'Ini adalah tanda selamat datang pertama yang kami temui (di Tanami)'."

Sejak saat itu, Warlukurlangu telah menjadi salah satu situs wisata terpopuler di Tanami.

Di tempat itu, kami menemukan sebuah gudang yang di dalamnya penuh dengan lukisan warna warni, mirip lukisan-lukisan aliran Pointilis yang menggambarkan kisah-kisah Dreaming, legenda bangsa Aborigin yang menjelaskan asal mula dunia dan meneruskan ilmu pengetahuan, nilai-nilai budaya dan tradisi untuk generasi mendatang.

Setelah satu jam meneliti rak-rak yang penuh dengan lukisan-lukisan yang luar biasa, saya memilih karya berwarna merah yang terbelah dua dengan garis putus-putus melengkung karya Christine Nangala Brown.

Saya melihat anggukan setuju dari sekelompok perempuan yang sedang mengoleskan cat ke atas kanvas ketika saya berjalan keluar pintu.

"Seni membentuk sebuah jembatan di antara budaya," jelas Alfonso.

"Lukisan adalah sebuah jalan bagi masyarakat Aborigin untuk memperlihatkan pada dunia bahwa mereka pemilik budaya yang sangat dalam dan berarti."

Baca juga:

Warlpiri art

Sumber gambar, Getty Images

Interaksi semacam ini bisa menjadi semakin penting. Pada 2022, Polisi Zachary Rolfe terbebas dari tuduhan pembunuhan seorang remaja Warlpiri, Kumanjayi Walker tiga tahun sebelumnya di Yuendumu.

Insiden tersebut mempertajam gesekan antara komunitas asli dan warga Australia kontemporer yang didominasi warga kulit putih.

Tetapi pembangunan di sepanjang Tanami dapat menjadi jalan keluar atas ketegangan itu, memungkinkan lebih banyak orang berinteraksi dengan seni Warlpiri dan lebih mengenal budaya mereka.

Seorang sesepuh Warlpiri dan seniman perintis dari Yuendumu, Otto Jungarrayi Sims, mengatakan kepada saya bahwa lebih banyak pariwisata akan menjadi anugerah.

Selain mengalirkan pendapatan baru bagi masyarakat, kegiatan pariwisata dapat membantu untuk berbagi dan melestarikan ritual tradisional.

Sims mengatakan bahwa komunitas sudah mengembangkan perjalanan wisata gurun yang akan mengajarkan para tamu bagaimana caranya berburu, memasak dan hidup sebagaimana yang dilakukan orang pertama di negeri ini selama ribuan tahun.

"Saya kira ada dahaga di luar sana untuk terlibat dengan budaya pribumi dan merasakan lanskapnya," tambah Alfonso.

Ketika kami berkendara sejauh 450 kilometer lagi ke arah barat laut Yuendumu ke lokasi perkemahan kami, saya memahami rasa ingin tahu yang meluap-luap itu.

Para pelancong dapat berkemah hampir di semua tempat di sepanjang Tanami, jauh dari properti pribadi.

Kami berkemah di lapangan terbuka dekat perbatasan Western Australia.

Pada hari berakhir, bumi tampak lebih bersinar. Begitu matahari terbenam dari batas pandangan saya, muncullah langit malam yang cerah.

Tanami track

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Wolfe Creek Crater dibentuk dari meteorit raksasa yang menghantam bumi sekitar 300.00 tahun yang lalu.

Saya jarang sekali melihat cahaya bintang yang demikian cerah.

Saya membayangkan berbagai legenda yang memberikan inspirasi pada mereka yang telah bermukim sejak ribuan tahun lalu.

Saya juga menaruh rasa hormat yang dalam untuk lanskap tak terbatas yang tampaknya bercahaya, sebuah sensasi yang ditingkatkan dengan fakta bahwa tidak ada kendaraan yang beroperasi di malam hari.

Keesokan paginya, kami memulai bagian terakhir dari perjalanan ini.

Sebelum tengah hari kami mencapai Wolfe Creek Crater, sebuah kawah yang terbentuk oleh meteorit 300,000 tahun yang lalu dan titik fokus legenda Aborigin.

Berdasarkan legenda yang dipegang teguh oleh masyarakat lokal, Djaru, tempat ini tercipta ketika seekor ular raksasa menjulurkan kepalanya ke tanah. (Masyarakat Djaru menyebutnya kawah Kandimalal.)

Banyak orang Australia menghubungkannya dengan mitologi yang lebih modern saat ini, seperti film horor Wolf Creek.

Mulai dari penjual buku di Alice Spring hingga petugas di Tilmouth Well berulang kali berguyon memperingatkan kami untuk "berhati-hati terhadap Mick Taylor", sosok sadis yang memburu para wisatawan di dalam cerita film itu.

Setelah melewati akses jalan berdebu yang berkelok-kelok, kami mendapati diri kami sendirian di kawah ini.

Saya merasakan kecemasan akibat terbayang Mick Taylor.

Situs ini sangat terpencil sehingga tempat ini tidak ditemukan oleh para ahli geologi sampai tahun 1947 (namun orang-orang Aborigin Australia sudah lama mengetahuinya).

Akan tetapi perasaan terpencil itu segera raib begitu kami memanjat ke tepi kawah dan melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya.

Pohon akasia dan eucalyptus memenuhi kawah, tumbuhan-tumbuhan aneh yang kontras dengan tanah kuning kecoklatan dengan semburan warna putih, zaitun, dan hijau.

Sudah berhari-hari saya tidak melihat warna seperti itu, dan saat itu hanya kami yang menikmati pemandangan itu. Namun, saya meninggalkan kawah dengan perasaan resah.

Itu karena Tanami akan segera dimodernisasi

Tanami track

Sumber gambar, Craig Sauers

Keterangan gambar, Tumbuh-tumbuhan yang menutupi jalur Tanami akan membawa lebih banyak wisatawan ke wilayah dan masyarakat terpencilnya.

Northern Territory sudah memulai pengaspalan jalan sepanjang 150 kilometer melewati Tilmouth Well.

Sementara, Australia Barat baru-baru ini mengalokasikan dana sebesar A$500 juta (Rp4,9 triliun) untuk membatasi bentangan Tanami, guna meningkatkan peternakan sapi dan pertambangan. Pada tahun 2030 seluruh jalan ini mungkin akan ditutup.

Meningkatkan akses bagi para pengunjung tidak hanya mengubah pengalaman, hal itu juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang keberlangsungan dan pembangunan di komunitas-komunitas Aborigin.

Dalam peta jalan tahun 2030, pemerintah Northern Territory mengidentifikasi wisata budaya Aborigin sebagai prioritas utama. Jalur Tanami yang dapat dilintasi, ditambah dukungan resmi ini dapat membawa masuknya wisatawan ke komunitas terpencil, yang tidak siap untuk menanganinya.

Tetapi Sims memandang pembangunan dari sisi positif.

"Hal ini akan menciptakan kesempatan bagi penduduk asli," jelasnya. "Sekarang saatnya untuk melihat ke depan."

Bagaimanapun, suku Warlpiri selalu berada di sini. Mereka menyaksikan perubahan sebelumnya.

Tetapi seperti 4X4 kami yang bergemuruh di jalur Tanami, mereka berharap hal itu tidak berjalan terlalu cepat.

"Kita harus ingat untuk melindungi negeri, budaya, lingkungan dan keanekaragaman hayati kita," kata Sims.

Kemudian dia berhenti, mengumpulkan ingatan-ingatannya dan menambahkan:

"Sebagai orang pertama, para penjaga negeri, kami harus selalu merangkul kemanusiaan juga. Ini hal yang paling penting."

---

Artikel bahasa Inggris yang berjudul Australia's epic 1,077km road trip dapat Anda baca di BBC Travel.