'Bagaimana saya menciptakan blog perjalanan pertama dalam sejarah 25 tahun lalu': Kisah Jeff Greenwald

Turisme

Sumber gambar, Jeff Greenwald

Keterangan gambar, Pada tahun 1994, penulis bernama Jeff Greenwald berkeliling dunia dan mengisahkan secara langsung petualangannya melalui internet.
    • Penulis, Jeff Greenwald
    • Peranan, BBC Travel

Sekitar 25 tahun lalu, seorang pelancong pemberani mengelilingi dunia dengan laptop bertenaga baterai. Ia selamanya mengubah cara manusia menjelajah dunia.

Di luar Hotel Nacional di Havana, Kuba, sebuah kegembiraan pecah. Kota pelabuhan yang didirikan Spanyol itu tengah merayakan hari jadi ke-500.

Sederet mobil Bel-Airs keluaran Chevrolet dan Buick yang dicat dengan warna terang berjejalan di jalanan. Kembang api dan tembakan meriam memenuhi langit tengah malam. Musik pun berdenyut di bar yang berjajar di Jalan Obispo.

Di sepanjang kawasan Calle Galiano, yang dihias jaring lampu LED putih dan biru yang membentuk rasi bintang, penduduk lokal menari dan minum rum.

Di perbatasan Habana Vieja, Old Havana, kubah Capitol yang baru direstorasi bersinar seperti helm yang dipoles.

Tujuh lantai di bawah kamar saya, di alun-alun yang terlihat dari jendela saya, panggung didirikan dengan lampu sorot.

Pada tengah malam, 100 ribu orang akan mengisi lapangan itu, menari dalam konser ulang tahun kota ke-500 yang digelar gratis.

Sementara itu, lima lantai di bawah kamar saya, di lantai mezzanine Hotel Nacional, merupakan pusat bisnis hotel. Pintu kacanya yang buram dipenuhi dengan huruf-huruf emas berwarna-warni bertuliskan INTERNET. Dan komputer desktop lawas di dalamnya mengingatkan saya bahwa saya berada di tempat itu juga untuk merayakan ulang tahun.

Dua puluh lima tahun yang lalu, pada awal era internet, saya berangkat untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia, dari Oakland menuju Oakland, tanpa pesawat terbang.

Sepanjang jalan, saya mencapai keajaiban kecil: saya mengunggah tulisan perjalanan pertama yang pernah diterbitkan di World Wide Web.

Kuba

Sumber gambar, Yamil Lage

Keterangan gambar, Pada bulan November, Havana merayakan hari jadinya yang ke 500 dengan pesta kembang api.

Kuba terasa seperti tempat yang tepat untuk merayakan tonggak sejarah ini. Negara ini adalah salah satu tempat yang paling tidak ramah internet di planet ini. Kurang dari 40% warga Kuba memiliki akses ke internet, tapi dalam sensor ketat pemerintah.

Bahkan situasi ini sangat kontras dengan kondisi tahun 1994, ketika kata-kata "World Wide Web" menarik tatapan bingung dari hampir semua orang yang saya temui dalam perjalanan keliling dunia.

Namun, isolasi Kuba dari kecanduan global untuk berselancar di dunia maya mengingatkan saya pada hari-hari awal merintis blog.

Akan tetapi, tidak seperti empat kunjungan saya sebelumnya ke Kuba, saya tidak perlu komputer desktop hotel yang begitu lamban.

Sebagai tamu di Hotel Nacional, saya diberikan nama pengguna dan kata sandi yang memungkinkan saya menggunakan internet secara nyaman dari kamar saya.

Kuba

Sumber gambar, Yamil Lage

Keterangan gambar, Sebagai salah satu tempat paling tidak ramah internet di dunia, Kuba adalah tempat yang pas bagi penulis untuk merenungkan hari-hari awal penciptaan blog perjalanan.

Pada tahun 1993 dan 1994, dalam perjalanan pengembaraan global selama sembilan bulan, saya adalah seorang pria yang berkelana dengan satu misi.

O'Reilly Media, penerbit panduan ilmu data yang terkenal, meminta saya mengirim berbagai kisah saat itu juga dari berbagai perhentian di sepanjang perjalanan.

Selama perjalanan itu, saya membawa laptop ultra-portabel (mungkin yang pertama). Diproduksi Hewlett-Packard, OmniBook 300 adalah keajaiban kecil yang sangat ringan yang beroperasi dengan baterai AA dan juga AC.

Laptop itu memiliki tetikus bawaan yang menggemaskan dan modern.

O'Reilly (salah satu perusahaan pertama yang beredar di internet) membuat situs yang disebut Global Network Navigator. Mereka berencana mengunggah kiriman saya di situs mereka dengan tajuk "Dunia Besar," yang menghubungkan setiap cerita dan lokasinya di peta dunia.

Klik pada negara, dan Anda akan melihat ceritanya. Hari ini, seekor simpanse mungkin dapat membuat laman itu, tetapi pada tahun 1994, pencapaian itu adalah sebuah titik balik.

Mosaic, mesin pencari yang mempopulerkan World Wide Web dan membuatnya ramah pengguna, diluncurkan hanya beberapa bulan sebelum keberangkatan saya.

Internet adalah sebuah ruang tak terkendali dan sangat pelik. Saya bisa membeli "pizza.com" seharga Rp30 ribu.

Tidak ada yang pernah mengunggah buku harian perjalanan berbasis internet sebelumnya. Kembali pada masa itu, Anda dapat menghitung jumlah situs di Web (daftar yang mencakup The Exploratorium, Doctor Fun, dan Chabad).

Tapi tidak ada yang namanya "blog" perjalanan. Istilah "weblog" tidak akan diciptakan untuk empat tahun ke depan sejak 1994.

Internet

Sumber gambar, The Washington Post via Getty Images

Keterangan gambar, Pada awal mula tren blogging, menuliskan catatan perjalanan ke internet memaksa pejalan berinteraksi dengan warga lokal untuk mencari sambungan online.

Jadi saya pergi, ke dunia yang menganggap email merupakan hal baru. Menulis di OmniBook mudah. Bagian yang sulit datang saat saya mencoba mengirim tulisan dari sejumlah tempat yang jauh, seperti Dakar dan Lhasa.

Kisah pertama saya, dikirim dari Oaxaca pada tanggal 6 Januari 1994. Judulnya One Hundred Nanoseconds of Solitude (Seratus Nanodetik Kesendirian).

Proses pengirimannya ke Big World memakan waktu dua hari. Saya harus menghantui kantor pusat telekomunikasi kota dan mengoceh kepada para teknisi (saya tidak bisa bahasa Spanyol).

Akhirnya saat itu saya menemukan seseorang yang mengetahui cara mengirim tulisan berisi 2.500 kata dan foto, melalui saluran telepon ke California.

Proses menemukan koneksi internet yang cukup andal di seluruh dunia untuk mengunggah masing-masing dari 20 kiriman sungguh menjengkelkan.

Namun pengalaman itu juga sangat mendalam. Pada tahun 1994, mengirim sebuah blog adalah sebuah petualangan. Hal itu pada dasarnya memaksa saya berinteraksi dengan orang-orang yang tidak akan saya cari selama perjalanan normal.

Saya berteman dengan manajer telekomunikasi lokal (Turki), diplomat (China), kutu buku komputer (Kathmandu), bahkan kapten kapal (Ursus Delmas, saat melintasi Atlantik).

Mereka semua terhibur melihat yang saya lakukan. Gagasan mengunggah cerita perjalanan di internet benar-benar baru. Hanya sedikit orang menganggap itu menarik, walau semua orang melihat potensi yang akan terjadi.

Semua orang, kurasa, kecuali saya.

Saat saya duduk menikmati cokelat panas Meksiko bersama kepala cabang layanan data Oaxaca, ketika unggahan pertama saya tayang di internet, saya tak pernah membayangkan seperempat abad kemudian, akan ada lebih dari setengah miliar blog, di mana ratusan ribu di antaranya berfokus pada kisah pengembaraan tunggal.

Jeff Greenwald

Sumber gambar, Jeff Greenwald

Keterangan gambar, Jeff Greenwald menyelesaikan perjalanan keliling dunia dengan naik kapal barang dari Hong Kong ke Oakland.

Entah bagaimana, saya merindukan kapal itu, meski saya memang menemukan kapal barang untuk membawa saya pulang dari Hong Kong kembali ke Oakland.

Sepanjang 1990-an dan awal 2000-an, saya terus menerbitkan tulisan untuk berbagai majalah online. Namun saya tidak pernah terpikir untuk memposisikan diri sebagai blogger profesional.

Saya tak pernah membayangkan citra personal atau bahkan membuat banyak keributan tentang jejak saya di internet yang relatif kecil, walau saya bisa disebut perintis.

Saat 2010 datang, saya jarang menulis blog perjalanan. Sementara itu, riak-riak dari kerikil yang saya lempar ke internet telah berkembang menjadi tsunami.

Saat ini banyak blogger perjalanan menghasilkan banyak uang. Mereka menjadi pemberi pengaruh di Instagram dan memiliki pengikut setia.

Ketika saya mengambil minuman Coke (satu dari sedikit merek Amerika yang akan Anda lihat di Kuba) dari minibar mini-suite saya dan mencampurnya dengan sedikit rum Havana Club, muncul sejumlah pertanyaan di benak saya.

"Mengapa saya berhenti?" Saya pikir itu ada hubungannya dengan alasan saya terinspirasi melakukan perjalanan. Ini bukan hanya tentang keterlibatan, tapi juga soal gangguan.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya tinggal sementara waktu di Kathmandu, perjalanan udara dari San Francisco ke Nepal merupakan pelepasan total.

Apa pun yang ditinggalkan atau diabaikan, siapa pun yang saya lupa untuk berkomunikasi sebelum menaikkan ransel saya ke lorong-lorong kelas ekonomi, sekarang menjadi bagian dari masa lalu.

Setiap perjalanan adalah kesempatan untuk menantang diri sendiri dan menghadapi ketidaktahuan yang sama-sama menghancurkan dan memperluas pandangan dunia saya.

Itu adalah cara untuk menemukan kembali hidup saya, dan mendorong diri saya keluar dari zona nyaman.

Internet

Sumber gambar, Jeff Greenwald

Keterangan gambar, Pada tahun 1994, kata Jeff Greenwald, aktivitas menulis blog adalah petualangan yang memaksa Anda berinteraksi dengan penduduk setempat untuk mencari akses internet.

Pada tahun 1994, mengejar konektivitas dan pengarsipan digital adalah aktivitas eksotis. Itu membuat saya bergantung pada penduduk setempat yang paham teknologi, baik di Senegal atau Shanghai.

Namun, pada pergantian milenium, blog telah menjadi lebih tentang mengisolasi diri Anda di warnet dan membayar setiap saat.

Saya melakukannya saat diperlukan, tetapi tidak lagi terasa seperti latihan yang mendalam atau mengganggu. Apa yang tadinya merupakan ekspedisi menjadi perjalanan pulang pergi.

Jangan salah paham. Ini bukan tentang cara bepergian yang benar atau salah.

Meski saya sering resah tentang yang terjadi usai tahun 2000, pertukaran antara keterlibatan dengan komunitas lokal dan konektivitas, saya tahu mereka tidak saling eksklusif.

Seperti semua hal lain dalam hidup, ini adalah masalah keseimbangan prioritas. Saat saya membaca kembali tulisan perjalanan saya tentang Israel tahun 2004 atau bahkan blog-blog saya di Kuba dari tahun 2011, mereka sama mendalamnya dengan apa pun yang pernah saya tulis.

Namun dari tempat saya duduk saat ini—di kamar yang menghadap kawasan Malecon yang ramai, dengan irama musik Latin khas Havana yang mengguncang jendela kamar—saya sadar bahwa menulis kisah perjalanan dan mengunggahnya lewat jaringan internet nirkabel hotel sejatinya bukan sebuah gangguan. Ini sekedar pengalih.

Saat ini, yang benar-benar saya inginkan sebenarnya berada di luar dan tenggelam hiruk-pikuk penduduk lokal itu.

Jadi, saya akan keluar dari jaringan internet sekarang dan turun dari kamar hotel. Karena seperempat abad setelah saya mengunggah kisah perjalanan ke internet, kita hidup di planet yang jauh lebih kecil—tempat di mana, setidaknya bagi saya, ketiadaan internet adalah gangguan baru.

Tulisan ini adalah bagian dari Travel Journeys, seri BBC Travel yang mengeksplorasi kisah para pelancong.

Versi bahasa Inggris dari artikel ini, The origin of the world first travel blog, dapat Anda baca di lamanBBC Travel.