Matanzas, kelahiran kembali kota kuno termasyhur di Kuba yang sempat terbengkalai

Matanzas

Sumber gambar, spooh/Getty

Keterangan gambar, Mobil kuno bercat merah diparkir di ruas jalan di Matanza, Kuba.
    • Penulis, Brendan Sainsbury
    • Peranan, BBC Travel

Dahulu, Matanzas adalah sebuah kota yang terkenal dengan kekayaan musik, seni dan arsitekturnya, kemudian diabaikan dan dibiarkan membusuk. Namun, beberapa tahun terakhir kota itu direstorasi untuk mencapai masa kejayaan.

Matanzas mendapat julukan sebagai Venice-nya Kuba dan juga Athena-nya Kuba. Kota ini juga menjadi tempat kelahiran genre musik dan tarian Danson dan Rumba.

"Ini dulu bengkel," kata Adrián Socorro kepada saya sembari membuka pintu besar di El Gabarato, studio seninya di Calle Narváez di pinggir Sungai San Juan.

"Kemudian, kira-kira bersamaan dengan persiapan peringatan ulang tahun ke-325 Matanzas pada 2018, sejarawan kota akhirnya menyetujui proyek saya, dan saya pindah ke sini."

Di dalamnya ada ruangan seperti gudang yang dipenuhi perlengkapan bengkel yang masih digunakan: botol plastik dan kumpulan kuas, palet warna-warni, patung setengah jadi mirip sapi yang tergantung terbalik di langit-langit.

Matanzas

Sumber gambar, Walter Bibikow/Getty

Keterangan gambar, Salah-satu panorama di Matanzas, Kuba.

Lukisan ada di mana-mana: digantung pada dinding; bersandar pada kuda-kuda; ditumpuk di atas meja.

Saya memperhatikan sosok-sosok anjing, ayam, bunga, dan ketelanjangan, semuanya digambar secara kreatif dengan gaya seolah-olah memadukan impresionisme dengan avant-garde.

Baca juga:

"Saya melukis berdasarkan kehidupan dan pengalaman saya sendiri," jelas Socorro.

"Saya tidak melukis gambar perempuan tua sedang merokok cerutu seperti yang ingin dilihat para turis."

Socorro berasal dari Matanzas, sebuah kota pelabuhan yang mengelilingi teluk yang dalam dan terlindung, 90 km sebelah timur Havana, Kuba.

Ketika saya berkunjung kembali pada Desember 2021 setelah jeda tiga tahun, restoran kecil namun inovatif ini menawarkan pasta buatan sendiri dan taco berukuran kecil.

Jalan setapak di tepi sungai Calle Narváez adalah lapangan terbuka artistik yang megah, dihiasi dengan patung-patung menakjubkan: babi kurus berdiri di atas balon merah; penggambaran pahlawan nasional Kuba, José Martí, dengan pedang di mulutnya; tangga merah muda dan jerapah seukuran aslinya.

Matanzas

Sumber gambar, Shawn Stephen Moreton Photography/Getty

Keterangan gambar, Matanzas adalah salah satu kota tertua di Kuba.

Dalam jarak 300m, saya berjalan-jalan dari galeri studio Socorro melewati sekolah musik, perguruan tinggi seni, dan setengah lusin bar dan kafe imajinatif.

Rasanya seperti kota yang benar-benar berbeda dari kota yang pertama kali saya kunjungi di akhir 1990-an - tempat-tempat yang memiliki bekas luka, bobrok, setengah ditinggalkan dan dibiarkan membusuk selama "Special Period", masa yang berat secara ekonomi di negara itu, satu dekade penghematan setelah pembubaran Uni Soviet, di mana subsidi mencapai sekitar 30% dari PDB Kuba.

Baca juga:

Saat itu, pengunjung dari luar negeri dibawa dari bandara ke resor baru yang megah di kota terdekat Varadero, di mana penduduk Kuba dilarang memasuki resor.

Calle Narváez adalah distrik gudang yang terabaikan. Parque Libertad, dengan Botox yang indah pada 2021, suram dan diabaikan.

Restoran-restoran praktis tidak ada. Bagi saya, kota itu mirip kapal karam Titanic yang hancur-lebur yang kekayaannya disembunyikan oleh pengabaian selama puluhan tahun.

Sekarang tampaknya sudah ada perubahan haluan yang luar biasa bagi kebudayaan raksasa yang pernah ada di sini.

Didirikan pada 1693 atas perintah raja Spanyol Charles II, Matanzas dengan cepat memantapkan dirinya sebagai pelabuhan yang kaya, sayangnya, di belakang perkebunan gula yang menguntungkan itu, terdapat para tuan tanah Spanyol yang kaya, mengeksploitasi orang-orang yang diperbudak dari Afrika Barat.

Pada 1860-an, kota itu telah berubah menjadi kota terbesar kedua di negara itu setelah Havana, dan otoritas lokal yang terpikat membaptisnya sebagai "Athens of Cuba" untuk menghormati kehidupan budaya yang elegan serta banyaknya penyair dan penulis lokal.

Julukan itu pantas. Selama tahun-tahun kejayaan di abad ke-19, teater klasik dibangun, dan penulis lokal José Jacinto Milanés membuktikan dirinya sebagai penulis drama terbaik Kuba.

Kota ini menjadi tuan rumah Universal Exhibition tahun 1881 yang mempromosikan seni dan teknologi yang menarik delegasi dari AS dan Spanyol.

Dalam dekade-dekade berikutnya, Matanzas menelurkan seluruh genre musik, termasuk danzón, tarian mitra sinkopasi lambat yang pertama kali dibawakan oleh pemimpin band Kuba, Miguel Faílde; dan mambo, versi danzón yang ceria yang memicu kegemaran akan tarian Amerika yang singkat namun intens pada 1940-an.

Tetapi budaya kota tidak hanya dipengaruhi oleh orang-orang Hispanik dan Latin yang berkuasa.

Dengan populasi kulit hitam yang besar, dibebaskan dari belenggu perbudakan pada 1886, Matanzas adalah, dan masih, tempat lahir agama dan tradisi Afrika.

Agama Santería Kuba, misalnya, adalah perpaduan sinkretisasi Yoruba Afrika Barat dan kepercayaan Katolik yang penganutnya memuja orisha (sprit atau dewa) yang bertopeng sebagai santo Katolik.

Dan Abakuá, sebuah masyarakat Afro-Kuba yang tertutup, masyarakat saling membantu yang semuanya laki-laki, berasal dari Nigeria dan Kamerun.

Kedua sistem kepercayaan tersebut memengaruhi rumba, musik perkusi untuk tarian warga kulit hitam yang dikembangkan di distrik dermaga La Marina Matanzas pada 1880-an dan masih bisa dinikmati di kota tersebut hingga saat ini.

Matanzas

Sumber gambar, Feifei Cui-Paoluzzo/Getty

Keterangan gambar, Bangunan katedral kuno di salah-satu sudut Matanzas.

Setelah revolusi Kuba tahun 1959, dengan rezim baru yang menerapkan nilai-nilai sosialis yang ketat, pentingnya Matanzas sebagai pusat budaya menjadi berkurang.

Masalah-masalahnya menjadi lebih parah setelah para dermawan Soviet Kuba bangkrut pada '91, membuat ekonomi jatuh bebas, dan semakin diperparah oleh penurunan industri gula pada 2000-an.

Sementara pariwisata yang berkembang di pantai emas Varadero, dan kota-kota Kuba lainnya seperti Cienfuegos dan Camagüey masuk ke daftar UNESCO yang bergengsi, kekayaan Matanzas yang tenggelam menjadi terabaikan.

Dan kemudian, akhirnya, sesuatu berubah. Pada 2018, pihak berwenang Kuba, yang sebagian didukung oleh Eusebio Leal, arsitek proyek rehabilitasi Old Havana yang sukses pada 1990-an dan 2000-an, memutuskan untuk menghormati ulang tahun ke-325 Matanzas dengan program pengakuan dan restorasi.

Bangunan-bangunan yang rusak diperbaiki, tiga hotel yang indah, di dalam dan di sekitar Parque Libertad yang terletak di pusat kota, dibuka.

Teater Sauto yang ikonik - yang pernah menjadi salah satu yang terbaik di Kuba - direstorasi sampai ke puncak tertingginya pada 1860-an setelah beberapa dekade lesu.

"Matanzas dihidupkan kembali dan dinyatakan sebagai kota patrimonial," kata Socorro. "Perubahan visual menjadi bukti yang jelas di seluruh kota."

Perubahan yang jauh lebih besar juga sedang berlangsung. Pada 2019, festival seni terbesar Kuba, Biennial de la Habana, difokuskan ke Matanzas untuk pertama kalinya, berkat pengaruh dan inisiatif María Magdalena Campos Pons, seniman kelahiran Matanzas yang sekarang tinggal di Amerika Serikat.

Festival ini adalah acara terbesar yang pernah disaksikan kota itu sejak Universal Exhibition 1881.

"Selama bertahun-tahun, saya telah berbicara dengan orang-orang di Havana tentang membawa Biennial ke Matanzas," jelas Campos Pons, yang karyanya diakui secara internasional, menjadi koleksi di Museum of Modern Art di New York dan Victoria and Albert Museum di London.

"Jadi, ketika saya diundang menjadi seniman pameran pada 2019, saya menggunakan undangan itu untuk membuat proyek bagi kota ini."

Matanzas

Sumber gambar, mathess/Getty

Keterangan gambar, Sungai Yumuri di Matanzas. Setelah revolusi Kuba tahun 1959, dengan rezim baru yang menerapkan nilai-nilai sosialis yang ketat, pentingnya Matanzas sebagai pusat budaya menjadi berkurang.

Proyek yang disebut Ríos Intermitentes (Intermittent River) ini, berusaha untuk menyoroti komunitas kreatif Matanzas dengan memamerkan karya mereka kepada seniman lokal dan internasional yang berkunjung.

"Matanzas secara geografis dan budaya penuh dengan drama dan narasi yang tak terceritakan," jelas Campos Pons.

"Tetapi kota itu ditinggalkan dan dianggap sebagai keindahan yang tertidur. Pengabaian Matanzas dan sejarahnya itu adalah titik keberangkatan saya ke Ríos Intermitentes."

Baca juga:

Meskipun krisis ekonomi melumpuhkan, para seniman Kuba menjadi sangat mahir menantang aturan-aturan sampai ke luar batas.

Pemerintah mungkin telah memulai kebangkitan Matanzas, tetapi seniman kotalah yang membentuk bagaimana kota ini selanjutnya.

Biennial, dengan perpaduan seni pertunjukan, patung luar ruang, pembacaan puisi, dan pameran di gedung pengadilan kota yang bersejarah, mengubah Matanzas.

"Menurut saya karya sejumlah seniman di kota yang telah bekerja keras dengan sangat diam-diam dan dengan sedikit perhatian selama bertahun-tahun berada di balik transformasi mendasar," kata Campos Pons.

"Fakta bahwa perayaan ke-325 berlangsung selama periode ini tambah membuka kesempatan karena kota sudah siap untuk melakukan beberapa pekerjaan restorasi yang sangat diperlukan."

Sulit untuk tidak terkesan. Seni Kuba menurut saya selalu istimewa dan sangat cerdas.

Di negara di mana dialog langsung tentang masalah politik yang tajam sering bermasalah, seni seringkali bernuansa dan penuh makna ganda.

Meskipun krisis ekonomi melumpuhkan, seniman Kuba telah menjadi sangat mahir menantang norma-norma yang berlaku sampai melewati batas.

Matanzas

Sumber gambar, JulieanneBirch/Getty

Keterangan gambar, Wajah stasiun kereta di Matanzas, Kuba, sebelum direstorasi.

"Kaum Biennial yang menggerakkan kota," kata Socorro. "Hal itu menandai kita sebagai sebuah generasi, dan mengungkapkan tidak hanya bakat yang ada di sini, tetapi juga potensi yang kita miliki sebagai sebuah wilayah."

Anggota lain dari kelompok seniman Biennial adalah fotografer dan seniman konseptual Ernesto Millán, yang mempelopori proyek komunitas di festival yang disebut "White Sheets" di mana ia mencetak seprai dan sarung bantal dengan gambar fotografi motif Kuba dan memberikannya kepada 25 keluarga untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Baca juga:

Dia kemudian mengedit video tentang bagaimana sprei dan sarung bantal itu digunakan.

Bagi Millán, proyek tersebut merupakan interpretasi kehidupan domestik Kuba dan penghargaan kepada keluarga yang berpartisipasi di dalamnya.

Inovator lainnya adalah Alejandro Vega Baró, 24 tahun, yang fotografi kaleidoskopiknya mengeksplorasi masalah sosial seputar ingatan, kolonialisme, hegemoni politik, dan hubungan masyarakat kontemporer antara masa lalu dan masa kini.

Bukan hanya seni yang mendorong Matanzas kembali menjadi pusat perhatian.

Seluruh lingkup budaya berkembang, dari arsitektur hingga musik.

Dua malam berturut-turut, saya menghadiri pertunjukan musik kaliber internasional: trio klasik di gedung konser José White yang telah direnovasi di Parque Libertad, dan membawakan zarzuelas Spanyol (opera ringan) di teater Sauto yang indah.

Didorong oleh perubahan positif, kota itu hidup dengan dengungan dan keriangan yang tidak terlihat selama beberapa generasi.

Orang-orang muda berkerumun di kafe-kafe yang dikuratori secara artistik; mural dan instalasi seni menarik perhatian di alun-alun kota; dan ada pembicaraan tentang bus wisata baru yang menghubungkan Matanzas ke Varadero.

Matanzas

Sumber gambar, Feifei Cui-Paoluzzo/Getty

Keterangan gambar, Pemandangan di sudur Coliseo, Matanzas, Kuba.

Lebih penting lagi, setelah kesuksesan tahun 2019, Biennale dijadwalkan untuk kembali ke Matanzas tahun ini di bawah bimbingan ahli Campos Pons.

"Kami sedang melakukan proyek yang akan fokus pada pemulihan dan perlindungan identitas ekologi Matanzas. Berkebun dan lanskap akan menjadi inti dari 2022 Ríos Intermitentes."

Rencananya adalah untuk mengembangkan tepi sungai kota lainnya, Yumuri, yang mengitari La Marina, sebuah distrik yang terabaikan di mana populasi kulit hitam Matanzas secara historis tinggal.

"Kami bercita-cita menjadi kota yang berkelanjutan secara estetika dan ekonomi serta layak untuk ditinggali," tutup Campos Pons.

Matanza yang akan Anda lihat pada 2030 akan sangat berbeda dengan apa yang kami mulai pada tahun 2019."

---

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini,Matanzas: The rebirth of Cuba's abandoned cultural hub , di BBC Travel.