Timor Leste bangkitkan hukum adat untuk melestarikan lingkungan usai merdeka dari Indonesia - 'Tidak ingin jadi Bali yang lain'

Sumber gambar, Jerry Redfern/Getty Images
- Penulis, Richard Collett
- Peranan, BBC Travel
Estevao Marques bertelanjang kaki dan mengenakan kaos sepak bola berbau air laut. Dia memasang masker snorkel yang sudah usang di dahinya.
Salah satu tangannya memegang pisau tajam, sementara tangan lainnya membawa senapan ikan. Marques meminta saya untuk memotretnya sebelum dia menceburkan diri ke pantai saat ada jeda awan monsun di langit.
Tempat Marques mengangkap ikan ini memiliki konsentrasi spesies ikan karang tertinggi di antara ekosistem laut lain di dunia.
Namun perairan ini bukan lokasi penyelaman paling terkenal di dunia (meskipun seharusnya demikian).
Ini adalah Pulau Atauro, sebuah hamparan batuan vulkanik sepanjang 25 kilometer di lepas pantai utara Timor Leste, negara termuda dan yang paling jarang dikunjungi turis di Asia Tenggara.
Tidak ada pariwisata massal di Atauro, tapi Marques yang berprofesi sebagai nelayan dan pemilik losmen sederhana, menghadapi persoalan bahwa sumber daya laut di sekitarnya dieksploitasi secara berlebihan dan semakin menipis.
Meski begitu, masyarakat Timor Leste punya solusi unik untuk mengatasi masalah ini.
Warga Atauro menghidupkan kembali peraturan pengelolaan lahan tradisional Timor yang dikenal sebagai Tara Bandu. Mereka menerapkan ini sembari mengembangkan pariwisata berbasis warga.
Tujuannya adalah untuk melestarikan terumbu karang dengan keanekaragaman hayati paling banyak di dunia.
Baca juga:

Sumber gambar, Paula Bronstein/Getty Images
Sehari sebelumnya Marques dan istrinya, Lourdes, menyambut saya di rumah mereka yang dijadikan penginapan. Mereka menyajikan pisang goreng dan kopi khas Timor yang kental.
Camilan dan minuman ini menumpas rasa lapar dan dahaga usai menyelesaikan perjalanan yang dibasahi hujan di atas dek terbuka kapal feri bernama Laju Laju dari Ibu Kota Timor Leste, Dili.
Keluarga Marques yakin matahari akan bersinar keesokan harinya. Mereka mengatur tempat yang akan saya selami besok paginya.
"Timor Leste memiliki beberapa sumber daya laut paling signifikan di dunia," kata Manuel Mendes, Direktur Conservation International untuk kawasan Timor Leste. Organisasinya adalah yang pertama kali meriset secara ekstensif perairan di Atauro pada tahun 2016.
Mendes memberi tahu saya dengan antusias melalui telepon dari Dili, ketika saya melakukan penelitian pasca-perjalanan tentang tingkat keanekaragaman hayati yang dashyat di Atrauo.
Tim ilmuwan kelautan dari Conservation International menyimpulkan bahwa Atauro memiliki rata-rata spesies ikan karang tertinggi di dunia.
Tim pakar itu mencatat setidaknya terdapat 253 spesies terumbu karang unik di 10 lokasi penyelaman selama penelitian mereka. Total ada 642 spesies berbeda yang mereka catat selama riset.
Beberapa bulan kemudian, survei lain mencatat 2.287 paus dan lumba-lumba yang bermigrasi dari total 11 spesies di lepas pantai.
Tercatat juga populasi dugong, tiga spesies penyu, dan buaya air asin yang melintasi Selat Ombai-Wetar dari daratan Timor.
"Mereka menemukan banyak sistem terumbu karang yang penting dan banyak spesies ikan," kata Mendes.
"Jumlah total spesies telah meningkat sejak saat itu. Kami memiliki karang yang indah dan tangguh, dan sekarang sebagian besar perairan ini berada di Kawasan Konservasi Laut."
Sejak survei 2016, otoritas Timur Leste menetapkan 12 kawasan konservasi perairan di atas terumbu karang. Ini dilakukan untuk melindungi keanekaragaman hayati yang menakjubkan untuk generasi mendatang.
Adapun inisiatif terkait penginapan lokal dan aktivitas pariwisata berhasil memberikan pendapatan tambahan bagi nelayan Atauro, sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

Sumber gambar, Paula Bronstein/Getty Images
Meskipun Marques memancing dengan tombak hari itu, dia telah mengatur sedemikian rupa agar saya bergabung dengan sekelompok orang yang melakukan snorkeling. Mereka sudah menuju ke terumbu bersama nelayan lain.
Setelah mendorong perahu nelayan dari pantai, saya segera menuju ke salah satu kawasan konservasi Laut Atauro. Di lokasi itu, ketentuan Tara Bandu melarang penangkapan ikan.
"Tara Bandu adalah perjanjian antara masyarakat, leluhur, dan lingkungan yang mengelola sumber daya alam, konflik sosial, sekaligus hubungan spiritual," kata Birgit Hermann, manager Blue Ventures untuk wilayah Timor Leste. Ini adalah kelompok konservasi lain yang bekerja di Atauro.
"Masyarakat Timor Leste memiliki keyakinan berbasis animisme yang kuat. Mereka telah hidup harmonis dengan alam selama ribuan tahun. Dan saat ini hukum adat Tara Bandu bangkit kembali."
Tara Bandu digunakan untuk melarang eksploitasi sumber daya tertentu. Secara harfiah, Tara Bandu berarti "Hukum Gantung". Untuk menandakan bahwa Tara Bandu sedang berlaku di suatu tempat, simbol upacara yang melambangkan larangan digantung di tiang kayu.
Tara Bandu bersifat fleksibel. Larangan eksploitasi dapat diterapkan pada satu spesies yang terancam punah atau digunakan untuk melindungi seluruh terumbu karang di kawasan konservasi laut.
Hermann menjelaskan bagaimana data yang dipasok nelayan lokal dan kelompok konservasi seperti Blue Ventures membantu masyarakat mengelola sumber daya bawah laut.
Berdasarkan data itu pula, warga lokal memutuskan ketentuan Tara Bandu mana yang akan mereka terapkan, termasuk lokasinya.
"Kami membantu menyerahkan data ke tangan nelayan sehingga mereka bisa menerapkan pendekatan mereka sendiri untuk perlindungan laut dan pengelolaan perikanan, seperti penutupan terumbu karang sementara dan permanen," kata Hermann.
Tara Bandu sudah eksis sejak lama, tapi masyarakat setempat baru dapat menerapkannya sejak Timor Leste merdeka dari Indonesia tahun 2002.

Sumber gambar, Kristian Buus/Getty Images
"Tara Bandu adalah cara nenek moyang kami melindungi alam dan sumber daya alam, tapi sistem ini benar-benar diadopsi oleh Timor Leste setelah kemerdekaan," kata Mendes.
Dia mengaku merasakan kebangkitan teknik konservasi tradisional di tahun-tahun awal kemerdekaan.
"Selama Indonesia hukumnya ketat, banyak pegawai negeri, penjaga hutan, polisi, militer. Orang Indonesia punya cukup orang untuk menguasai sumber daya alam," ucapnya.
Timor mengalami penjajahan dan eksploitasi selama berabad-abad. Portugis datang untuk mencari kayu cendana dan rempah-rempah pada tahun 1500-an.
Ketika Belanda mulai menjajah bagian barat Timor satu abad setelahnya, pulau terbelah dua oleh dua kekuatan kolonial yang saling bersaing.
Timor Barat menjadi bagian dari Indonesia setelah Perang Dunia Kedua, tapi bagian timur Timor tetap menjadi koloni Portugis sampai tahun 1975.
Saat itu, revolusi yang tiba-tiba terjadi di Lisbon mendorong warga wilayah ini mendeklarasikan kemerdekaan di Dili.
Namun Timor Leste hanya menikmati kebebasan selama sembilan hari sebelum militer Indonesia melanggar batas dan melancarkan invasi yang menghancurkan dari Timor barat pada Desember 1975.
Warga Timor Leste tidak merasakan kemerdekaan sampai tahun 2002. Kawasan itu dikecamuk pendudukan dan perang gerilya selama bertahun-tahun .
"Setelah kemerdekaan, jumlah penjaga hutan dan polisi terbatas. Sangat sulit bagi kami untuk mengontrol sumber daya alam, terutama hutan dan perikanan," kata Mendes, yang turut mendirikan taman nasional pertama Timor-Leste pada 2008 di jauh di barat negara itu.
"Makanya kami promosikan upacara adat ini. Kami ingin memberi kekuatan lebih kepada masyarakat.
"Tara Bandu menjadi cara untuk menyatukan kembali masyarakat setelah penjajahan, dan cara untuk melindungi sumber daya alam," ujarnya.
Arus air saat saya berguling ke air hari itu begitu kuat. Atauro terletak di tepi selatan Segitiga Terumbu Karang, suatu wilayah lautan luas yang meliputi wilayah pesisir di Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste.
Segitiga Terumbu Karang dikenal sebagai Amazon of the Seas, tapi bahkan di sini, keanekaragaman hayati Atauro dianggap luar biasa.

Sumber gambar, Paula Bronstein/Getty Images
Keanekaragaman hayati di Atauro dipengaruhi lokasi yang berada di antara dua selat laut dalam, yang dialiri Arus Lintas Indonesia, arus hangat dan kuat yang mendorong air dari Pasifik ke Samudra Hindia.
Hal ini menciptakan tempat makan yang kaya bagi segenap makhluk laut.
Arus kuat itu dan perairan dalam yang membawa makhluk laut ke Atauro membuat nelayan seperti Marques melempar jaring di kawasan pantai.
Aktivitas itu menyebabkan penangkapan ikan yang berlebihan. Di area itulah Tara Bandu pernah diterapkan untuk membangun kawasan konservasi laut dan area di mana saya menghabiskan sisa pagi untuk snorkeling.
Limpasan musim hujan dari pulau mengurangi jarak pandang, tapi koral masih bersinar melalui sedimen.
Saya melihat seekor penyu mengambil makanannya dengan malas dari karang sementara kawanan besar ikan tropis melesat di sekitar karang.
Kawanan ikan itu memenuhi pemandangan yang saya lihat dari balik masker wajah.
Saya melayang di atas kehidupan mikro dan makro laut, menyelam bebek di bawah ombak untuk melihat lebih dekat nudibranch kecil atau menahan napas untuk mengintip di bawah karang untuk mencari lobster, kerapu, atau keajaiban laut lainnya yang menanti saya.
Di musim kemarau, laut jauh lebih tenang, jarak pandang lebih luas, dan paus yang lewat dapat dilihat dari pantai.
Awan yang badai berlalu menandakan perjalanan kembali ke pantai akan berombak. Di rumahnya, Lourdes sedang memasak nasi, sedangkan Marques membersihkan ikan yang ditangkapnya.
Keluarga Marques dengan penuh semangat berencana kembali menjadikan rumah mereka sebagai homestay. Mereka juga menyusun rute pendakian baru ketika saya naik feri untuk kembali ke Dili.
Mereka ingin menyediakan lebih banyak kamar dan beragam aktivitas baru untuk menarik lebih banyak turis.
Dalam waktu dekat kawasan konservasi perairan Atauro yang dikelola dengan sistem Tara Bandu diharapkan dapat disahkan menjadi taman nasional kedua di Timor Leste.
Namun, di negara yang paling jarang dikunjungi di Asia Tenggara ini, pandemi memperlihatkan betapa rapuh industri pariwisata di tempat yang tak lagi dikunjungi turis.
"Wisata bahari berbasis komunitas menawarkan potensi yang sangat besar untuk membantu diversifikasi mata pencaharian, agar warga tidak bergantung pada perikanan," kata Hermann.
"Namun, seiring penutupan perbatasan Timor Leste, tidak begitu banyak turis yang datang. Tapi komunitas di Atauro sangat menantikan menyambut turis internasional lagi jika situasi sudah memungkinkan.
"Anda tidak akan kecewa!" ujarnya.

Sumber gambar, Historical Picture Archive
Meski bepergian di Timor Leste penuh tantangan karena infrastruktur yang minim, ada banyak hal yang menarik bagi para pelancong yang gemar berpetualang.
Gunung tertinggi di Timor Leste yang setinggi 2.986 meter dapat didaki pada perjalanan akhir pekan dari Dili.
Turis juga dapat melihat cerita kelam yang mengharukan tentang perang gerilya dan protes mahasiswa di Arsip dan Museum Perlawanan di ibu kota.
Ada pula aktivitas snorkeling yang sangat menyenangkan di sekitar perairan Pulau Jaco yang terpencil di ujung barat Timor Leste.
Setidaknya di Timor Leste terdapat 20 bahasa dan dialek yang dapat Anda pelajari saat melakukan perjalanan melintasi negara muda ini.
Pariwisata masih dalam tahap awal di sini. Politikus bernama Harold Moucho yang saya temui di Dili mengungkap tantangan yang dihadapi Timor Leste, termasuk saat pemerintah setempat menolak tawaran sebuah perusahaan yang berbasis di Las Vegas untuk membangun resor kasino di Atauro.
"Kami ingin membuat wilayah kami tetap indah," kata Moucho.
"Ada beberapa tempat menyelam terbaik di dunia di sini. Kami tidak ingin menjadi Bali yang lain."
Namun seiring cadangan minyak di Laut Timor mengering, resor yang menguntungkan bisa menjadi sumber pendapatan yang menarik bagi pemerintah.
Mendes mengingatkan saya tentang apa yang dipertaruhkan di tempat-tempat seperti Atauro.
"Jika kami kami kehilangan keindahan terumbu bawah laut, ini bukan hanya tentang Timor. Ini kerugian bagi seluruh dunia," katanya.
---
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris diBBC Travel.









