Bahasa kuno Australia yang diciptakan oleh hiu

Orang-orang Aborigin Yanyuwa meyakini bahwa Teluk Carpentaria di Australia dibentuk oleh hiu macan.

Sumber gambar, The Institute of Marine Science

Keterangan gambar, Orang-orang Aborigin Yanyuwa meyakini bahwa Teluk Carpentaria di Australia dibentuk oleh hiu macan.
    • Penulis, Georgina Kenyon
    • Peranan, BBC Travel

Bahasa kuno ini unik karena laki-laki dan perempuan menggunakan dialek yang berbeda. Meski perempuan memahami secara pasif bahasa yang digunakan laki-laki, mereka tidak berbicara dengan bahasa itu, begitu juga dengan para laki-laki.

Hiu macan itu sedang mengalami hari yang buruk.

Hiu-hiu serta ikan lain tak berhenti mengganggunya dan dia tak tahan lagi.

Setelah melawan mereka semua, dia bertemu dengan hiu kepala martil dan beberapa ikan pari di Vanderlin Rocks di perairan Teluk Carpentaria di Australia untuk saling bertukar cerita soal kesedihan mereka sebelum mencari tempat yang bisa menjadi rumah mereka.

Kisah ini merupakan salah satu cerita tertua di dunia, mimpi hiu macan.

Orang-orang Aborigin menyebut sejarah dan mitos mereka selama 40.000 tahun sebagai 'mimpi'; dalam cerita ini, mimpi ini mengisahkan bagaimana Teluk Carpentaria dan sungai-sungai dibentuk oleh hiu macan.

Kisah ini diceritakan langsung secara turun-temurun selama beberapa generasi orang-orang Aborigin Yanyuwa. Mereka menyebut diri mereka 'li-antha wirriyara' atau 'orang-orang air asin'.

Saat kami berlayar melewati bebatuan dan tebing batu pasir Pulau Vanderlin, menuju mulut Sungai Wearyan, kami melihat dugong dan ikan berenang-renang.

Kami mencari kemunculan sekilas sirip hiu, dan mengikuti jalur hiu macan dalam kisah penciptaan ini.

Perjalanan hiu macan melewati Teluk yang begitu menantang menciptakan lubang-lubang air dan sungai di lansekap itu.

Dia ditolak oleh banyak hewan lain yang marah karena tidak ingin dia tinggal bersama mereka. Seekor wallaby bahkan melempar batu ke arahnya saat hiu macan itu bertanya apakah dia bisa tinggal bersama mereka.

Menurut kisah mimpi itu, saat dia berenang, hiu itu membantu menciptakan perairan di Teluk Carpentaria yang sekarang kita lihat.

"Hiu macan adalah makhluk yang penting dalam mimpi kami," kata tetua Aborigin, Graham Friday, yang bekerja sebagai ranger laut dan salah satu pembicara bahasa Yanyuwa yang tersisa.

Beberapa orang di sini masih percaya bahwa hiu macan adalah leluhur mereka, dan orang-orang Yanyuwa dikenal dengan 'bahasa hiu macan', karena mereka punya banyak kata-kata untuk menyebut laut dan hiu.

Secara tradisional, orang-orang Yanyuwa mengambil ikan di perairan ini, mereka tak hanya menangkap dan makan ikan di perairan ini, tapi juga penyu dan dugong, tapi mereka jarang menangkap dan makan hiu.

Jantung peradaban mereka tersebar di lima pulau utama dan 60 pulau batu pasir yang kecil dan tak ditinggali di Grup Sir Edward Pellew, yang meliputi wilayah seluas 2.100 km persegi.

Pulau Vanderlin yang terbesar dan terjauh di timur, memiliki panjang 32km dari utara ke selatan dan lebar 13km. Hiu macan sepanjang 5,5 meter yang sudah melalui perjalan ribuan kilometer dari perairan ini ke Samudera Pasifik tiap tahunnya adalah figur mitos yang kuat.

Meski begitu, ahli konservasi kini mengkhawatirkan jumlah hiu macan karena statusnya yang 'Hampir Terancam' di daftar yang ditetapkan oleh lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN).

"Kini hiu macan tak lagi banyak. Namun kisah mimpi-mimpi ini menggambarkan bahwa dulu ada banyak hiu macan" kata Friday.

Perubahan pada iklim telah mengurangi jumlah hiu macan, perairan yang menghangat berdampak besar pada pertumbuhan hiu macan dan kemampuan mereka untuk berenang dalam jarak jauh, menurut para ilmuwan dari University of Adelaide.

Meski hiu ini tak lagi sering terlihat muncul di perairan, namun mereka masih dihormati sebagai pemberi kehidupan dan pencipta perairan tersebut.

Orang-orang Yanyuwa secara tradisional mencari ikan di perairan sekitar kelompok pulau Sir Edward Pellew di Australia.

Sumber gambar, Auscape/Getty Images

Keterangan gambar, Orang-orang Yanyuwa secara tradisional mencari ikan di perairan sekitar kelompok pulau Sir Edward Pellew di Australia.

Tugas Friday sebagai ranger laut salah satunya adalah melakukan patroli di pulau-pulau di Teluk untuk mengawasi jumlah hewan laut di kawasan tersebut dan memberi pengetahuan pada orang-orang sekitar akan cara lama dalam mencari ikan — bahwa orang hanya mengambil jumlah ikan sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Namun, yang lebih penting lagi, dia juga mengajari pemuda Yanyuwa untuk tahu bahasa mereka dan akan betapa pentingnya hewan-hewan laut.

Para ranger ini juga menjaga situs penting dan kuburan di pulau-pulau tersebut, selain juga keberadaan seni batu kuno yang, meski mulai pudar, tetap memperlihatkan gambar-gambar hiu.

"Masuk akal bahwa kami, para ranger laut Aborigin, ikut menjaga laut di sini; kami tahu negara ini dan cara mengambil ikan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," kata Friday.

Di 'negara air asin' ini, saya sering mendengar ekspresi bahwa semua orang melihat ke utara, ke arah Teluk, tempat datangnya para hiu. Namun tak banyak orang Australia atau turis yang datang sejauh ini ke utara.

John Bradley, guru sekolah dan ahli linguistik, pernah mengunjunginya, dan saya pertama membaca tentang kawasan ini dari buku yang ditulisnya, Singing Saltwater Country.

Lanskap di sini datar, panas dan kosong. Untuk memahaminya, Anda harus memahami bahasa dan kisah dari para pemilik aslinya yang tahu semua ceritanya: orang-orang Yanyuwa.

Yanyuwa adalah bahasa yang indah dan puitis. Bunyinya terdengar seperti laut yang digambarkannya dengan sempurna.

Bahasa mereka dengan tepat menggambarkan sebuah tempat, kadang menggambarkan sebuah fenomena alam yang rumit dalam satu kata, menunjukkan betapa eratnya kaitan antara orang-orang Aborigin dengan alam.

Dari kapal yang disinari matahari, saya melihat berkas cahanya bergerak-gerak di air.

"Yurrbunjurrbun," kata Stephen pemandu saya, yang separuh Aborigin dan keluarganya tinggal di Teluk. Dia tahu beberapa kata dari bahasa itu dan akan kawasan ini.

Saat kami berlayar, bayangan dari awan yang bergerak membekas di permukaan laut.

"Ini adalah 'narnu ngawurrwurra' dalam bahasa Yanyuwa," kata Stephen yang menggambarkan dengan tepat apa yang saya lihat.

Saya mengulangi kata-kata itu, merasakan beban dan maknanya.

Kata-kata Yanyuwa seperti yurrbunjurrbun (berkas cahaya bergerak di permukaan air) menunjukkan bagaimana orang Aborigin dekat dengan alam.

Sumber gambar, Reinhard Dirscherl/Getty Images

Keterangan gambar, Kata-kata Yanyuwa seperti yurrbunjurrbun (berkas cahaya bergerak di permukaan air) menunjukkan bagaimana orang Aborigin dekat dengan alam.

Yang menarik dari Yanyuwa adalah bahasa ini merupakan salah satu di dunia di mana pembicara laki-laki dan perempuan menggunakan dialek berbeda.

Hanya tiga perempuan yang bisa dengan lancar berbicara dialek bahasa ini, dan Friday adalah salah satu dari sedikit laki-laki yang masih berbicara dialek pria bahasa ini.

Orang-orang Aborigin dalam beberapa dekade terakhir dipaksa bicara bahasa Inggris, dan kini hanya sedikit orang tua yang mengingat bahasa ini.

Friday menceritakan pada saya bahwa perempuan di keluarganya mengajarinya untuk bicara bahasa ini saat dia kecil.

Lalu saat dia mulai besar, dia belajar bahasa laki-laki dari kerabat laki-lakinya. Meski perempuan memahami secara pasif bahasa para laki-laki, mereka tak menggunakan bahasa itu, dan begitu pula sebaliknya dengan para pria.

Dari semua orang yang saya temui, tak ada yang bisa mengisahkan bagaimana munculnya dialek berbeda ini.

Mungkin karena laki-laki dan perempuan punya peran berbeda dan menghabiskan tak banyak waktu bersama puluhan ribu tahun lalu, atau mungkin berbicara dialek berbeda merupakan cara menghormati.

Beberapa orang Aborigin setempat mengatakan pada saya, "Memang begitu sudah dari dulu."

Tapi, orang-orang mengetahui bahwa bahasa Yanyuwa bercampur dengan hewan.

"Bahasa ini membantu memahami hiu. Ada lima kata berbeda baik dalam bahasa perempuan dan bahasa laki-laki untuk hiu, dan ini menunjukkan betapa eratnya ikatan orang-orang Yanyuwa dengan hewan," kata Friday.

Kata-kata yang digunakan perempuan untuk menggambarkan hiu menggambarkan sisi merawat dari hiu, seperti pembawa makanan dan kehidupan, sementara bahasa yang digunakan laki-laki untuk hiu lebih ke soal 'pencipta' atau 'leluhur'.

Anda bisa dihukum jika Anda tidak menggunakan dialek yang tepat pada waktu yang tepat.

"Lihat ke sana, ke bebatuan itu, jika Anda melanggar aturan, Anda bisa dikirim ke sana!" kata Stephen sambil menunjuk ke Pulau Batu Vanderlin yang tak dihuni.

Saya merasa dia hanya mendramatisir situasi saja, mungkin untuk menghentikan saya bicara kata-kata bahasa Yanyuwa.

Namun nada bahasa yang indah ini memang memiliki aturan penggunaan yang ketat. Laki-laki dan perempuan tidak bicara dialek satu sama lain karena artinya mereka tidak sopan atau malah kasar. Setidaknya, laki-laki yang bicara bahasa perempuan atau sebaliknya akan terasa aneh.

Graham Friday: "Lima kata berbeda yang dimiliki perempuan dan laki-laki untuk hiu menunjukkan betapa eratnya ikatan orang-orang Yanyuwa dengan hewan."

Sumber gambar, David Doubilet/Getty Images

Keterangan gambar, Graham Friday: "Lima kata berbeda yang dimiliki perempuan dan laki-laki untuk hiu menunjukkan betapa eratnya ikatan orang-orang Yanyuwa dengan hewan."

Tapi Yanyuwan bukan hanya soal dialek antara perempuan dan laki-laki — ada lebih banyak upacara dan bahasa untuk menghormati.

Ada 'bahasa isyarat', menurut Bradley, yang berguna saat berburu ketika orang harus diam dan memberi isyarat untuk para pengunjung yang memasuki tempat-tempat suci, tapi kini tak banyak orang yang ingat bahasa ini.

Anak-anak juga belajar 'bahasa tali' — dengan mengikat jerami atau tali dalam pola khusus yang mewakili hewan laut atau makanan.

Menjaga bahasa Yanyuwa berarti menjaga budaya serta makhluk laut.

Ahli bahasa seperti Bradley kini bekerja bersama Friday dan orang-orang Yanyuwa lain untuk mempertahankan bahasa ini dalam bentuk tulisan. Tanpa bahasa mereka, akan sulit bagi orang-orang Yanyuwa untuk menjaga pemahaman mereka akan laut dan rumah mereka.

"Bahasa Inggris tak memahami laut seperti bahasa Yanyuwa," kata Stephen.

Pada 2015, sebagian dari kawasan Teluk diserahkan kembali ke masyarakat Yanyuwa oleh Pemerintah Australia, setelah perjuangan panjang akan klaim tanah di daerah itu yang bermula sejak 1970an.

Saat saya meninggalkan negara hiu macan ini, saya tenang karena mengetahui bahwa perairan ini dijaga oleh para ranger yang tahu daerah ini dengan baik, dan bekerja untuk mempertahankan bahasa serta makhluk laut yang mulai menghilang.

Menjaga bahasa laut kuno agar bisa dinikmati generasi anak cucu masa depan, menurut Bradley adalah, "Ini yang kami sebut kedap masa depan."

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca diAustralia's ancient language shaped by sharksdi lamanBBC Travel