Kisah Swiss mengubah makna sarapan

Muesli

Sumber gambar, Miguel Villagran/Getty Images

Keterangan gambar, Ilustrasi. Muesli diciptakan Maximilian Bircher-Benner sebagai kudapan bagi pasien yang dirawatnya.
    • Penulis, Mike MacEacheran
    • Peranan, BBC Travel

Ketika kita berbicara tentang Swiss, perbincangan kita sering tertuju pada sereal muesli. Tapi bagaimana sebenarnya penemu muesli, Dr Maximilian Bircher-Benner menghasilkan penemuan hebat itu pada awal abad ke-20 lalu?

Suatu pagi di bulan Juli, di ketinggian lembah Alpen yang hijau dengan padang rumput, sekelompok pendaki berkumpul untuk menyantap sarapan di Hotel Schatzalp yang bersejarah di Davos, resor di kawasan paling timur Swiss.

Kala itu langit berwarna abu-abu tua, tapi warna pipi para penyantap sarapan itu merona dengan warna merah muda khas bunga mawar.

Satu per satu dari mereka mengisi piring dengan beragam sajian yang tersedia di meja prasmanan. Mereka terlihat tersenyum puas ketika memasukkan satu sendok penuh parutan apel, kayu manis, oats yang telah dipanggang, biji-bijian, kacang, dan sedikit yoghurt ke dalam mangkok.

Makan adalah aktivitas yang sepatutnya dilakukan secara sopan. Tapi tak lama kemudian setengah lusin dari mereka kembali ke meja prasmanan mengambil menu yang sama. Begitu juga saya.

Swiss

Sumber gambar, Mike MacEacheran

Keterangan gambar, Hotel Schatzalp yang bersejarah terletak di lembah pegunungan Alpen.

Pemandangan tadi tidak terlihat luar biasa, tapi perpaduan antara kebiasaan pagi hari dan sereal adalah alasan utama Swiss mengubah cara masyarakat dunia menyantap sarapan.

Muesli yang ditemukan Bircher-sebuah puja-puji untuk gaya hidup sehat-memberikan Swiss keajaiban. Hingga sekarang, temuan Bircher itu tentu tidak dapat dipandang remeh.

Untuk mengetahui muesli lebih jauh, saya menghubungi Dr Eberhard Wolff dari Departemen Studi Budaya dan Antropologi Sosial di Universitas Zurich.

"Yang pertama, muesli bukanlah gagasan tentang makan pagi," ujar Wolff yang mengkurasi pameran di Museum Nasional Swiss. Pameran itu berisi era keemasan Swiss sebagai surga pencari kesehatan.

"Muesli yang ditemukan Bircher tidak ditujukan sebagai sajian pembuka seperti halnya roti dan mentega saat ini. Kala itu meusli untuk beberapa saat yang lama merupakan Schweizer Znacht, santapan orang-orang Swiss di kala malam. Untuk sarapan? Tidak pernah," ujarnya.

Katakan hal ini kepada masyarakat Swiss sekarang dan mereka akan memperlihatkan reaksi jenaka. Kebanyakan dari mereka hanya memiliki pengetahuan yang samar-samar tentang sejarah di balik muesli.

Swiss

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Muesli yang diciptakan Bircher merupakan sarapan sehat yang terdiri dari apel parut, bubuk kayu manis, oats, kacang-kacangan, dan yoghurt.

Sementara itu orang-orang Swiss yang lebih tua memandang penemu Muesli, Bircher-Benner, sebagai peneliti berkharisma yang kerap berkeliling hutan di sekitar Danau Zurich dan berkarakter mirip Doctor Doolittle.

Generasi muda Swiss tidak mungkin memiliki pengetahuan lebih tentang Bircher.

Kisah Bircher-Benner dan muesli cukup panjang untuk dikisahkan.

Sekitar tahun 1900, fisikawan itu berupaya membasmi efek penyakit tuberkulosis melalui metode diet. Meskipun bukan ahli nutrisi, Bircher-Benner menemukan gagasan itu ketika belajar ilmu kesehatan di Universitas Zurich.

Ketika itu, Bircher mencari tahu manfaat makanan mentah terhadap tubuh. Ia menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan setelah mengidap penyakit kuning.

Hasilnya? Proses penyembuhannya membuktikan gagasannya tentang menfaat kesehatan yang dihasilkan apel, kacang-kacangan, dan oats yang dicampur air mineral, air perasan lemon serta susu kental.

Semangkok sajian itu dikenal dengan istilah apfeldiätspeise yang secara harafiah berarti makanan apel untuk berdiet-demikianlah muesli Bricher saat itu dikenali. Sajian itu, menurut Bircher, akan bermanfaat bagi tubuh selama sehari atau bahkan sepanjang umur manusia.

Tak lama setelahnya, perusahaan penyedia produk kudapan dan minuman yang berpusat di Vevey, Swiss, Nestle, hingga taipan penyedia jasa perjalanan, Thomas Cook, mulai mempopulerkan Swiss sebagai negara pelopor hidup sehat.

Namun tidak ada sosok atau kelompok yang melakukan promosi itu sebaik penulis bernama Johanna Spyri. Ketika tokoh rekaannya, Heidi, jatuh sakit, tanaman hijau di pegunungan merupakan obat yang terbaik.

Dan saat teman perempuan Heidi yang lumpuh dan menggunakan kursi roda bernama Clara Sesemann pergi ke pegunungan itu, Clara dikisahkan dapat berjalan kembali.

Swiss

Sumber gambar, Mike MacEacheran

Keterangan gambar, Penyedia jasa perjalanan mulai menjual konsep hidup sehat yang menjadi ciri khas Swiss.

Faktanya, hasil penelitian Bircher tidak mudah diaplikasikan. Temuan itu baru bisa dimanfaatkan secara massal ketika pada 1904 dia membuka Lebendige Kraft, sebuah petirahan kesehatan di kaki Bukit Zurichberg.

Reputasi Swiss sebagai pusat kesehatan pun dimulai saat itu, ketika ribuan orang berdatangan ke klinik di pegunungan Alpen tersebut untuk merasakan manfaat sinar matahari, udara segar dan menjalankan diet.

Tentu saja, Bircher juga lihai berbisnis. Bukannya membuka klinik di punggung Alpen yang bercurah sinar matahari, Bircher justru membuka petirahannya di dekat Hotel Grand Dolder yang berbintang lima untuk memikat pelanggannya yang kaya raya.

"Di mata saya, kesuksesannya muncul dari jalan mudah meraih kesehatan, yaitu makanan mentah, bangun pagi dan berisitrahat malam secara cukup serta menghirup udara segar pegunungan," kata Eberhard Wolff.

"Tapi ada pula tuntutan yang terus meninggi untuk mengendalikan diri secara estetis di tengah kelas yang dibuka Bircher dan terhadap para orang-orang tajir. Itulah alasan semakin banyak yang datang ke Zauber Berge atau Gunung Ajaib," kata Wolff.

Bircher-Benner

Sumber gambar, Ullstein Bild/Getty Images

Keterangan gambar, Bircher-Benner bereksperimen menguji khasiat makanan mentah untuk menyembuhkan pengindap tuberkulosis.

Kegemparan lain atas petirahan itu adalah meningkatnya lebensreform, sebuah gerakan sosial yang lahir Jerman, yang mendorong utopia hidup bebas, idealisme a la hippie, dan vegetarianisme.

Namun tidak semua orang tertarik pada gerakan itu. Thomas Mann, penulis novel The Magic Mountain yang tinggal di petirahan milik Bircher selama empat minggu, menyebut tempat tersebut sebagai penjara yang higienis.

Dilihat dari kawasan Zürichberg, saat ini hanya tersisa sedikit klinik kesehatan di pegungungan itu. Berjalanlah ke arah Keltenstrasse, anda akan tiba di pusat pelatihan dan konferensi milik Departemen Keuangan Kota Zurich. Tempat itu dulu berfungsi sebagai petirahan.

Jika anda belok ke arah Köllikerstrasse, anda akan melewati tiga vila kecil yang dulu disewakan kepada pengunjung. Sementara itu Hotel Grand Dolder masih mengesankan seperti sedia kala. Meski demikian, kawasannya di sekitarnya kini terkenal sebagai pusat organisasi sepakbola dunia, FIFA.

Ketika gagasan kesehatan yang ditawarkan beragam petirahan di Swiss itu tinggal sebagai kisah masa lalu, negara itu tetap dikenal sebagai daerah yang gemar mengkonsumsi muesli.

Orang-orang kelas menengah yang menyadari pentingnya kesehatan di negara itu kerap menyantap muesli, bukan roti lapis, sebagai kudapan.

Bagaimanapun, era keemasan belumlah sepenuhnya dilupakan: satu petirahan mewah masih berdiri di tempat itu dan difungsikan sebagai hotel untuk mereka yang mencari kesembuhan dan kesehatan.

Swiss

Sumber gambar, Philipp Schmidli/Getty Images

Keterangan gambar, Pemandangan dari depan kantor pusat FIFA yang berada di dekat Hotel Grand Dolder.

Dua jam perjalanan dari Zurich, menuju tenggara ke daerah Graubünden, Hotel Schatzalp yang bercitra seni modern berdiri di plateau Schiahorn, di sisi lain dari Gunung Ajaib.

Serupa Zurichberg, para pasien di petirahan itu rela berjemur di bawah matahari selama enam jam untuk menyerap vitamin D dan makan muesli dalam jumlah besar. Mereka melakukan itu selama berbulan-bulan.

"Rutinitas di petirahan itu terlihat sama dengan adegan dalam film Grand Hotel Budapest," ujar Direktur Hotel Schatzalp, Mark Linder, semberi mengajak saya berkeliling menyaksikan bangunan yang didirikan pada 1900 itu.

"Banyak orang bersedia melakukan perjalanan selama delapan jam dengan kereta kuda dari Landquart untuk mengambil manfaat udara sejuk dan air pegunungan. Mereka seringkali tersesat dan berharap ditemukan. Itulah tujuan pendirian tempat ini," ujar Linder.

Berjalan melewati koridor-koridor hotel itu, kita dapat dengan mudah mengerti yang dikatakan Linder. Bar mewah dan ruang televisi besar pernah menjadi tempat penyembuhan dan tempat pertunjukkan.

Sementara itu, mural di ruang makan bergaya belle époque khas era keindahan a labarat menggambarkan kehidupan masyarakat di dataran rendah Swiss yang membuat para pasien tidak begitu merindukan rumah kala menyantap semangkok buah mentah.

Rupanya waktu tidak mengubah apapun. Kini gambar di restoran itu menjadi latar muram bagi para pengunjung yang datang untuk menyantap sajian sehat, sekaligus menikmati udara segar dan meraih makna sehat versi mereka.

Swiss

Sumber gambar, Mike MacEacheran

Keterangan gambar, Di Hotel Schatzalp, para pasien bersedia menjalani rutinitas berjemur di bawah sinar matahari dan menyantap muesli.

Pertanyaannya saat ini, apakah Bircher-Benner setuju atas segala perubahan yang ada? Wolff dan Linder merasa jawabannya adalah ya.

Membicarakan bisnis makanan dan plesir di Swiss, doktor bidang filsafat itu terus memberikan inspirasi untuk gairah masyarakat negaranya untuk mengejar kesehatan.

Swiss hampir menemukan kiat hidup sehat. Hidup berdampingan dengan alam sangat mendarah daging dalam budaya mereka. Udara pegunungan, sinar matahari dan cara makan secara layak sungguh merupakan hak setiap manusia.

Untuk itu, jika lain kali anda hendak menyantap semangkuk muesli yang diciptakan Bircher, bayangkanlah di ujung sendok anda terdapat antusiasme sebuah bangsa dan sejarah yang merangkum kisah lebih dari 100 tahun.

Artikel berjudul asli How Switzerland transformed breakfast ini dapat anda baca dalam bahasa Inggris di BBC Travel.