Kota di Turki yang menemukan kunci kebahagiaan

Sumber gambar, Joshua Allen/BBC
Sinop, Turki, adalah kota kelahiran filsuf Diogenes, penantang orang-orang yang dijumpainya untuk menikmati apa yang mereka miliki dan tak ambil pusing tentang hal-hal yang tak mereka punyai.
Setelah perjalan sepanjang 730 kilometer dari Istanbul, saya turun dari bus di kawasan pantai utara Turki, daerah di mana hutan bertetangga dengan Laut Hitam.
Udara di Sinop yang pertama kali saya hirup begitu segar, ditandai dengan pepohonan hijau dan ozon. Pada pagi di bulan Juli itu, saya sedang berada dalam misi menemukan alasan mengapa penduduk Provinsi Sinop merupakan orang-orang paling berbahagia di negara tersebut.
"Setiap orang di tempat ini saling mengenal. Situasi ini sangat damai dan tidak ada satupun orang yang mengganggu orang lain," kata Bekir Balci, pengemudi taksi yang saya sewa, ketika kami berkendara ke arah timur dari terminal bus, menuju Sinop, ibu kota provinsi itu.
Jalanan yang kami tempuh perlahan melalui perbukitan yang landai serta tanah lapang yang terlihat berbintik karena kawanan sapi.
Di luar salah satu jendela terlihat pepohonan serba hijau yang dilalui, sementara di jendela mobil lainnya tampak pantai sempit terbentang sejajar dengan jalan.
Saya rileks dan menikmati bangku mobil, membiarkan diri saya dimanjakan pemandangan tersebut.
Mobil kami tiba-tiba berguncang saat melewati lubang.
"Hanya ada satu kekurangan daerah ini, akses jalan tidak begitu bagus," ujar Balci sambil mengangkat bahu.

Sumber gambar, Joshua Allen/BBC
Merujuk Institut Statistik Turki, pelayanan kesehatan dan ketersediaan infrastruktur di Provinsi Sinop rendah dibandingkan provinsi lain di negara tersebut.
Namun, dalam jajak pendapat tentang kepuasan hidup yang digelar institusi itu, selama beberapa tahun terakhir secara berturut-turut, Sinop merupakan daerah paling bahagia di Turki.
Lantas apa di balik pencapaian itu?
Sinop terkenal sebagai tempat lahir filsuf Yunani kuno, Diogenes. Dia menjalani hidup a la pengemis di jalanan yang kami lalui sekitar 300 tahun sebelum Masehi.
Atas gaya hidupnya itu, Diogenes mendapatkan julukan 'The Cynic' (Si Sinis). Istilah itu berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuno yang berarti anjing.
Filsuf itu kerap diasosiasikan dengan kemunculan sinisme--paham yang menyebut kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat menghalangi kebebasan individu dan mencegah seseorang mendapatkan hidup layak.
Paham itu yakin hidup selaras dengan alam adalah cara paling singkat menuju kepuasan.
"Diogenes menemukan kebahagiaan dalam kesederhanaan yang berdampingan dengan alam--sebuah kehidupan yang menantang setiap orang yang ditemuinya untuk menikmati apa yang mereka miliki dan tidak mempedulikan apa yang tak mereka punyai," kata Profesor Stephen Voss dari Fakultas Filsafat Universitas Bogazici.

Sumber gambar, Joshua Allen/BBC
Diogenes memilih hidup tanpa mempunyai apapun kecuali pakaian di punggungnya serta sebuah tong yang ia gunakan untuk tidur.
Dia menggunakan humor untuk mengkritik pemuka agama, politikus, dan orang-orang yang dianggapnya menyalahi takdir sosial.
Menurut legenda setempat, suatu ketika Alexander Agung pernah pergi menemui Diogenes. Ia menjumpai Diogenes yang duduk di luar pemukiman.
Tatkala menanyakan hal yang mungkin diinginkan Diogenes darinya, filsuf itu menjawab, "Anda bisa bergeser dan berhentilah menghalangi sinar matahari."
Perjalanan menumpang taksi membawa saya ke pusat Sinop di bagian tersempit dari semenanjung kecil yang membentang ke Laut Hitam.
Sebuah patung Diogenes di alun-alun yang didirikan tahun 2006 merupakan penanda bahwa pemaknaannya tentang kehidupan tidak dilupakan.
Tak ada lampu merah, tapi dibandingkan jalanan Istanbul yang semrawut, mobil-mobil berlalu lintas dalam harmoni di kota ini.
Trotoar dipenuhi orang-orang yang memilih berjalan kaki daripada berkendara: tidak ada ketergesa-gesaan meskipun saat itu adalah pagi di hari kerja.
Saya mendengar, bahkan tidak ada pejabat pemerintahan Sinop yang bekerja setelah Rabu.
Saya tak dapat menemui birokrat yang mengaku hanya memiliki sedikit pekerjaan, meskipun jika ada, Diogenes pasti akan memujinya.

Sumber gambar, Joshua Allen/BBC
Taksi yang dikemudikan Balci mengitari sudut jalan lalu hilang dari pandangan. Saya menyadari keberadaan saya di alun-alun kota yang kecil di mana sebuah masjid dan bar saling bersebelahan.
Kedekatan dua tempat itu terlihat aneh, mengingat pemerintah Turki pada 2013 melarang penjualan minuman beralkohol dalam radius 100 meter dari masjid.
Namun sepertinya tak ada orang yang menghiraukan hal yang saya pikirkan itu.
Kota ini mungkin memiliki pendekatan tersendiri terhadap agama dan budaya.
"Sebagai perempuan, Anda dapat berjalan-jalan di luar rumah mengenakan celana pendek dan tak akan ada yang mengganggu Anda," kata Aylin Tok, manajer Teyze'nin Yeri, sebuah restoran yang mashyur atas mantinya, makanan yang terdiri dari adonan tepung dan daging rebus, serta taburan kacang walnut di atasnya.
"Ada dapat pergi keluar rumah jam tiga pagi dan tidak akan ada orang yang menggunjingkan Anda," ujarnya.
Saat saya menanyakan kunci kebahagiaan orang-orang Sinop, jawaban Tok terdengar sinis--entah dia bermaksud demikian atau tidak.
"Tidak ada perasaan bahwa beberapa orang kaya sementara lainnya miskin," kata Tok.
"Setiap orang dari beragam komunitas pergi ke kafe yang sama untuk makan simit (bagel khas Turki yang dilumuri biji wijen) dan minum teh atau kopi."

Sumber gambar, Joshua Allen/BBC
Waktu seakan tidak berputar di Sinop sejak era Diogenes. Orang-orang Turki datang ke kota itu dan orang-orang Yunani meninggalkannya.
Namun meskipun terdapat kawasan pemukiman modern di sekeliling Sinop, tidak ada gedung pencakar langit yang merusak langit. Penduduk kota ini lebih menyukai hidup yang sederhana.
Orang-orang bersandar di jendela rumah mereka untuk berbincang dengan tetangga. Mereka juga berbelanja di toko kue lokal.
Walaupun penduduk Sinop tidak terlihat ekstrem seperti Diogenes menjalani hidupnya, inti paham sinisme--terutama titik berat menjalani hidup yang bahagia--masih bergema di seluruh penjuru kota.
Ketika hari mulai larut, saya berjalan ke bar Castle Tower Cafe yang terdapat di menara dekat tembok kuno Sinop. Matahari perlahan terbenam di balik awan, sambil terus memancarkan cahaya redup ke pelabuhan dan deretan pepohonan
Kapal ikan kecil terlihat bersandar ke daratan, sepasang kekasih berjalan sambil berangkulan, dan musisi acara pernikahan menyebarkan berita bahagia dari belakang mobil bak terbuka.
Dari kejauhan, bukit yang sarat pepohonan serba hijau menandakan keberadaan daerah ini, di mana semenanjung bertemu daratan.
Ketika saya duduk dan menggenggam bir, reputasi tentang kebahagiaan kota ini seperti sudah tidak lagi menjadi sebuah misteri.
Anda dapat membaca versi asli artikel yang berjudul The Turkish city that discovered the key to happiness ini di BBC Travel.










