Para ekspat kadang kesulitan kembali ke negara asal

Sumber gambar, Getty
Ketika Anna Wickham kembali dari kerja 14 bulan di Filipina dan Vietnam, ia mengira akan bisa langsung menyesuaikan kembali dengan irama hidup di kota asalnya, Oklahoma City.
Namun hingga enam bulan kemudian, Wickham masih dalam tahapan menyesuaikan diri.
Menjalani kembali ritme dan gaya hidupnya yang dulu ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
“Meninggalkan satu kota adalah mudah, tapi masuk kembali ke ekosistem sosial di kota asal lebih sulit,” kata Wickham yang sekarang menjalankan perusahaan pemasaran digital di Oklahoma City.
Wickham adalah satu dari generasi nomaden digital, istilah yang mengacu ke orang-orang yang bekerja saat mereka melakukan perjalanan di luar negeri.
Sepintas terlihat mengasyikkan, berada di negeri-negeri eksotis dan pada saat yang sama bisa mendapatkan penghasilan.
Tapi tak semua orang sukses menjadi nomaden digital. Persoalan datang biasanya ketika kembali ke kota asal, seperti yang dialami Wickham.
“Kalau seseorang bisa mengatasi masalah itu, ya tentu saja sangat menggembirakan. Tapi itu tak selalu mudah,” kata Sean Truman.
Truman adalah direktur layanan klinis di Saint Paul, Minnesota, AS, yang secara khusus memberikan advis kepada ekspatriat atau nomaden digital yang punya masalah saat kembali ke negara asal.
Kesepian

Sumber gambar, Victoria Watts Kennedy
Salah satu kenyataan yang perlu diketahui bagi para calon nomanden digital adalah, perasaan gembira bisa menetap dan bekerja di kota atau negara lain, bisa dengan cepat hilang.
Pada akhirnya akan datang periode isolasi di mana seseorang merasa sendiri dan tak ada dukungan sosial yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ini, kata Truman.
Memang ada Skype dan Facetime, tapi layanan komunikasi video semacam ini sering kali tak cukup.
Kehadiran fisik tak tergantikan dengan komunikasi video.
Banyak nomaden digital yang mengurangi frekuensi perjalanan (dan bekerja) di luar negeri dan pada akhirnya pulang kampung.
Misalnya Taylor Pearson yang banyak menghabiskan waktu di Brasil, Vietnam, dan Thailand namun kini kembali menetap di New York.
“Muncul kesadaran pada akhirnya tak banyak yang bisa diselesaikan ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain,” kata Pearson.
Satu hal yang ingin ia lakukan adalah keinginan untuk membina hubungan percintaan secara lebih permanen.
Hubungan dengan keluarga dan teman

Sumber gambar, Euvie Ivanova
Sulitnya menjalani kehidupan seperti sebelum menjadi nomaden digital mungkin disebabkan karena lemahnya perencanaan.
Sering kali mereka hanya beberapa bulan saja di tempat baru, padahal tadinya mereka ingin di sana selama beberapa tahun.
Atau berencana menetap di luar selama sepuluh tahun, tapi kemudian kembali hanya setelah beberapa tahun.
Padahal sebelum pergi, apartemen dan isinya sudah dijual.
Nah, pulang dan mendapatkan kembali itu semua ternyata tak mudah, melelahkan baik secara fisik maupun mental.
Wickham perlu waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan surat izin mengemudi dan membeli perlengkapan untuk apartemennya.
Ini belum termasuk ongkos sosial, upaya yang dilakukan untuk terhubung kembali dengan teman dan sanak saudara.
Wickham memberi advis: sangat penting untuk tetap membina hubungan baik dengan kawan-kawan di kota asal ketika berada di luar negeri.
Melihat potensi masalah seperti ini, makin banyak nomaden digital yang mengadopsi gaya hidup hibrida: tetap bekerja di luar negeri tapi juga menyempatkan waktu beberapa bulan berada di kota asal.
Victoria Watts mengambil jalan tengah ini setelah selama lebih dari tiga tahun menjadi nomanden digital.
Watts sekarang berada di London dan selalu mencoba fleksibel terkait jadwal kerja dan bepergian, meski pendekatan ini memerlukan perencanaan yang matang.
“Setiap masalah selalu ada jalan keluarnya,” kata Watts.
<italic>Versi bahasa Inggris tulisan ini</italic>: <italic><link type="page"><caption> The problem expats find with returning home</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20160706-the-problem-expats-find-with-returning-home" platform="highweb"/></link></italic>, <italic>dan artikel-artikel lain sejenis bisa Anda baca di </italic><italic><link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link></italic>.










