Shanghai tawarkan sejumlah daya tarik bagi ekspatriat

Shanghai

Sumber gambar, Thinkstock

Keterangan gambar, Shanghai telah menjadi daya tarik bagi tenaga kerja asing selama 150 tahun terakhir.

Pada mulanya, Shanghai tampak kurang menarik bagi warga Amerika Serikat, Andrea Duty.

Ketika suaminya, Chris, berkata bahwa perusahaannya menawarkan penempatan di kota itu, ia bahkan tak mau membicarakannya.

“Reaksi pertama saya: jelas tidak,” kenang Duty beberapa bulan kemudian, sambil mengunyah keju impor dari Spanyol di sebuah bar di Shanghai.

Dua bulan setelah kepindahan mereka, pasangan tersebut jatuh cinta pada Shanghai, dan, seperti banyak orang asing, bisa membeberkan alasannya hampir tanpa henti.

Shanghai adalah kota paling kosmopolitan dan paling besar di Cina, dan glamornya sudah lama menjadi daya tarik bagi orang asing dari seluruh penjuru dunia. Selama lebih dari 150 tahun, orang-orang dari luar negeri menjadikan Shanghai sebagai rumah mereka. Baik dulu maupun sekarang, kesempatan yang mendorong mereka menetap.

  • <link type="page"><caption> Kenapa Singapura disebut utopia oleh ekspatriat?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2015/07/150708_vert_cap_singapura" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Shanghai batasi kepemilikan rumah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/10/101007_chinaproprty" platform="highweb"/></link>

Tetapi kesulitan ekonomi di Cina belakangan membuat lebih sedikit ekspatriat menetap di negara itu. Laporan-laporan menunjukkan jumlah orang asing di Shanghai sekitar 255.000 tahun lalu, atau turun 2% dibandingkan tahun 2014.

Gelembung ekonomi

Pertumbuhan ekonomi turun di bawah 7% tahun lalu, pasar saham mengalami gejolak dan kalangan orang kaya Cina mencari berbagai cara untuk mengeluarkan uangnya dari negara itu.

Selama beberapa tahun terakhir sebagian perusahaan asing bersikap lebih pesimistik terhadap operasi mereka di Cina, dan mulai mengganti orang asing di jajaran atas dengan warga Cina didikan luar negeri.

Pada 2014, jumlah ekspatriat yang berpindah dari Cina mencapai dua kali lipat dibanding yang masuk, menurut hasil studi UniGroup Relocation.

Meskipun setiap orang menunggu gelembung ekonomi pecah, ibu kota keuangan Cina ini tetap saja sangat menarik bagi pekerja yang mencari penempatan menantang di luar negeri.

Orang asing masih memandang Shanghai sebagai peluang baik untuk menunjang karier yang tak dapat dilakukan di tempat asal, atau untuk mendapatkan uang lebih cepat.

Bagi banyak orang, dua alasan tersebut sudah cukup.

Menghasilkan uang

Polusi

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Polusi udara menjadi faktor negatif di antara nilai plus yang ditawarkan Shanghai.

“Ekspatriat di sini mempunyai peluang menarik karena ini adalah kota yang masih tumbuh, dan banyak di antara mereka pindah ke sini,” kata Duty, seorang juru masak Amerika yang tengah menulis buku tentang kue-kue daerah Prancis.

Sebagian besar ekspatriat berpendapat bahwa biaya hidup di Shanghai tidak mahal -mungkin karena pendapatan mereka lebih tinggi.

Di Cina, orang asing berpendapatan rata-rata US$158.000 per tahun, sekitar Rp2,1 miliar, jadi lebih besar dibandingkan rata-rata pendapatan global US$104,000, setara dengan Rp1,3 miliar, sebagaimana terungkap dalam survei Expat Exporer keluaran HSBC 2015.

Banyak kalangan profesional menempati posisi di jajaran manajemen, dan digaji tinggi untuk pindah ke sini, meskipun terdapat hambatan kultural dan polusi udara yang memburuk. Sebagian bahkan ditawari kompensasi bahaya polusi.

Namun selama beberapa tahun terakhir, tingkat polusi udara semakin memburuk di Shanghai. Pada hari-hari tertentu, kualitas udara dipandang 'sangat tak sehat' tetapi tak sampai mencapai tingkat 'berbahaya' seperti yang dialami penduduk Beijing.

Tetapi kehidupan serba gemerlap dan banyak kenyamanan di Shanghai punya sisi negatif, seperti terungkap oleh survei baru-baru ini yang dilakukan oleh konsultan korporasi ECA International.

Nah dari segi biaya hidup, Shanghai ternyata melampaui kota-kota metropolitan lain di Asia dan tercatat sebagai kota paling mahal bagi ekspatriat di benua Asia.

Survei itu memang hanya membandingkan barang-barang konsumen dan jasa, dan tidak mencakup perumahan atau pendapatan. Tapi penelitian-penelitian lain juga menunjukkan bahwa kota berpenduduk lebih dari 24 juta itu bisa menjadi salah satu kota paling mahal di dunia.

Biaya hidup terjangkau

French Concession

Sumber gambar, Max TalbotMinkin

Keterangan gambar, Kawasan French Concession di Shanghai menjadi tempat berkumpul warga metropolis.

Kecuali mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang kenyamanan rumah seperti produk-produk susu atau produk pertanian segar, biaya hidup di Shanghai sebenarnya bisa terjangkau, setidaknya jika dibandingkan dengan Hong Kong.

Makan siang di restoran-restoran Barat biasanya kurang dari US$10 atau sektiar Rp130.000 dan uang sebesar itu juga sama dengan ongkos naik taksi di kota. Jika kita menggunakan sistem kereta bawah tanah yang jaringannya luas dan modern, biaya yang diperlukan tak lebih dari Rp15.000 atau setara US$1.

“Bagi kami, biaya untuk makan turun, juga biaya pangan, dan biaya transportasi… Saya benar-benar mendapati lebih nyaman dari segi finansial dibandingkan tinggal di London atau di New York,” kata Duty.

Tak hanya pendapatan mereka lebih tinggi dibandingkan ketika tinggal di Barat, tetapi -kecuali polusi udara- gaya hidup juga membaik.

Keluarga Duty sekarang membayar sewa bulanan hampir sama dengan sewa yang mereka bayar di London, tetapi apartemen mereka di Shanghai jauh lebih luas yang terdiri dari dua lantai. Ruang tamu dan dapurnya juga sudah dilengkapi dengan perabot.

Mencari rumah tergolong cepat dan mudah bagi keluarga Duty, tetapi ada perangkap bagi pencari rumah karena banyak agen tak bisa diandalkan dan sebagian iklan yang ditawarkan ternyata palsu.

Agen real estatr biasanya disarankan oleh rekan kerja atau teman yang pernah tinggal di Shanghai.

Semakin mahal

Kota Shanghai

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Shanghai tercatat sebagai pusat keuangan dunia.

“Ini tempat hebat bagi orang asing,” kata Carlby Xie, direktur riset Cina untuk perusahaan properti Colliers International.

Secara keseluruhan, getaran yang ada adalah kosmopolitan dan modern, dan sikap umum terhadap orang asing adalah ramah.

Perumahan, bagaimanapun juga, adalah kekhawatiran terbesar bagi orang asing, dan harga sewa bervariasi tergantung pada lokasi.

Secara umum, sebagaimana disimpulkan oleh Colliers, biaya sewa sekitar US$29 (Rp375.000) per meter persegi, tetapi ekspatriat sering membayar lebih tinggi karena bagi mereka, lokasinya penting, kata Xie.

Bagaimanapun kaum profesional warga asing yang sudah lama tinggal di Shanghai mengeluh karena pengeluaran meroket hanya dalam beberapa tahun.

Berakhir sudah era ketika apartemen satu ruang tidur yang modern dan terletak di tengah kota sewanya tak lebih dari 3.000 yuan (sekitar US$450)) per bulan. Harga sewa sekarang dua kali lipat, tergantung lokasi.

Bekas wilayah French Concession di tengah kota Shanghai merupakan salah satu lokasi paling populer, yang menawarkan rumah-rumah besar mewah dengan dinding segitiga, puncak menara dan menara.

Studio kecil di sini sewanya mencapai US$1.200 per bulan atau bahkan lebih mahal lagi. Bagi orang asing golongan muda yang belum punya banyak pengalaman kerja, biaya sewa bisa menelan dua pertiga dari gaji mereka, kata Xie.

Bawa anak-anak

Kereta cepat

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dengan kereta cepat, kota-kota lain di Cina dengan mudah bisa dicapai dari Shanghai.

Dari kawasan French Concession, beberapa stasiun dari sana akan membawa kita ke Puxi, tempat gedung pencakar langit mewah dan mahal saling berjejal. Di kawasan ini keluarga sering biasa tinggal di apartemen dengan layanan lengkap yang dekat dengan sekolah-sekolah swasta internasional.

Sekolah banyak yang tersedia tetapi mahal.

Biaya pendidikan bagi seorang anak mulai sekitar US$1.500 atau sekitar Rp20 juta per bulan, tergantung pada usia dan sekolah. Sedang apartemen dengan layanan lengkap yang ruangannya cukup untuk mengakomodasi keluarga kecil, mematok harga sewa mulai sekitar US$3.500 per bulan, atau sekitar Rp45 juta.

Namun demikian, sebagian besar dari pengeluaran tak dibayar langsung ekspatriat.

“Jika kita ditempatkan oleh perusahaan dan menduduki posisi eksekutif, kita berhak mendapatkan paket dan perusahaan membayar biaya perumahan dan lain sebagainya, jadi kita bisa menabung banyak,” ujar Xie.

Kalau pun perusahaan tak memberikan paket, biaya pendidikan dan biaya sewa tak sampai menguras rekening. Setidaknya 25% ekspatriat di Cina berpenghasilan US$300.000 per tahun, proporsi tertinggi di negara mana pun yang pernah disurvei oleh HSBC.

"Tak peduli jika mereka adalah warga Jerman, Inggris, Australia atau Singapura, mereka semua datang ke Shanghai untuk mencari uang. Sebagian dari mereka tinggal selama dua hingga lima tahun, tergantung pada kemampuan mereka beradaptasi, dan ketika mereka sudah mempunyai cukup tabungan, mereka pulang kampung dan menanamkan modal di real estate.”

Pekerjaan dan regulasi

Para manajer, bankir, insinyur, profesi IT, arsitek, desainer dan pekerja yang terampil dan berpengalaman yang merupakan warga asing akan selalu menemukan pekerjaan bergaji tinggi di Shanghai.

Pemasaran, penjualan, hubungan masyarakat, dan merek adalah sektor-sektor yang tak memerlukan banyak pengalaman.

Pencarian di situs LinkedIn dan SmartShanghai akan menampilkan hasil pencarian untuk posisi-posisi yang tak melibatkan pihak pencari bakat.

Preferensi diberikan kepada mereka yang bisa berbiara dalam bahasa Mandarin dasar dan jika kita berusaha mendalami bahasa ini maka akan membuahkan hasil, tak hanya ketika mencari pekerjaan.

Penduduk Shanghai benar-benar sangat membantu dan sering terkesan jika orang asing bisa berbahasa Cina sekalipun minim.

Jika Anda benar-benar pindah ke Shanghai dan mendapatkan pekerjaan di sini, jangan buru-buru berkemas. Proses pengajuan visa bisa sangat meletihkan, meskipun perusahaa yang menanganinya.

Untuk mendapatkan visa Z, yang memungkinkan warga asing bekerja secara sah di perusahaan di Shanghai, maka diperlukan sejumlah dokumen dan sertifikat, mulai dari akta kelahiran hingga tes kesehatan, termasuk tes kesehatan untuk infeksi menular seksual.

Permohonan ini dapat memakan waktu beberapa bulan dan peraturan sering berubah.

Menikmati Shanghai

Banyak ekspatriat di Shanghai menumpang kereta bawah tanah yang penuh sesak untuk ke kantor, memakan semangkuk sup dumpling dari warung untuk makan siang atau menyaksikan pria-pria manula memutar otak dalam permainan catur versi Cina di taman-taman umum.

Namun yang juga membuat kota ini begitu populer di kalangan orang asing adalah kenyamanan yang mereka nikmati di kampung halaman ternyata tak susah didapat di Shanghai. Kita tahu tak perlu pergi jauh untuk mencari Starbucks dan makanan Italia yang sedap.

"Ini adalah perpaduan yang benar-benar bagus antara Timur dan Barat," kata Maura Cunningham, warga asli Philadelphia, AS, yang tinggal di Shanghai selama dua tahun untuk menyelesaikan disertasinya.

Ia menghabiskan 50% dari anggaran per bulan US$2.000 untuk sewa apartemen dan menyesuaikan pengeluaran selebihnya berdasarkan kemampuannya. Bahkan dengan anggaran terbatas, Cunningham bisa menggunakan Shanghai sebagai pangkalan untuk menjelajahi tempat-tempat lain di Cina dan di Asia.

Dengan menggunakan kereta cepat, diperlukan waktu lima jam untuk sampai di Beijing, dan satu jam untuk mencapai kota-kota besar lain di kawasan Delta Sungai Yangtze.

Jepang bisa ditempuh dalam waktu dua jam dengan pesawat tanpa harus mengeluarkan biaya besar, dan dengan uang sekitar US$300, pulau-pulau tropis di Asia Tenggara mengundang kita untuk menyelam dan menenggak minuman koktail di pantai berpasir.

Cunningham mungkin tak mampu berinverstasi di properti ketika pulang kampung ke Amerika Serikat, tetapi pekerjaannya di Shanghai dan kemampuan bahasanya mengantarkannya menjadi staf program di Komite Nasional Hubungan Amerika Serikat-Cina.

Faktor umum yang mendorong ekspatriat berpindah ke Shanghai adalah mengembangkan karier dan mendongkrak pendapatan. Namun sebagian besar dari mereka benar-benar menikmati tinggal di sini.

"Saya berada di sana hanya dua tahun, tetapi saya merindukannya. Saya merasa di rumah sama seperti di Philadelphia,” kata Cunningham.