Berpakaian santai di tempat kerja, sesantai apa?

Sumber gambar, iStock
“Kamu percaya mereka berpakaian begitu?” kata sekelompok professional di Silicon Valley berusia 30-an dan 40-an tahun kepada peneliti Laura Sherbin.
Mereka merupakan bagain kelompok kelompok fokus yang membicarakan persoalan-persoalan kesenjangan generasi di Silicon Valley.
Mereka sepertinya sangat frustrasi melihat gaya berpakaian rekan-rekan kerja mereka yang berusia 20-an.
“Pakaian itu saringan pertama,” kata Sherbin, yang merupakan direktur riset The Center for Talent Innovation, perusahaan konsultan berkantor di New York.
“Satu hal yang bisa dipakai dari gaya berpakaian adalah: kurangnya rasa hormat terhadap linkungan sekitar.”
Beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan yang mengubah kebijakan berpakaian, dari penggunaan pakaian formal ke kebebasan memilih pakaian sendiri ke tempat kerja.
Kecenderungan pada pakaian santai ini berkembang di berbagai wilayah dan bidang pekerjaan, kata konsultan yang berkantor di California, Jacob Morgan, yang juga menulis buku The Future of Work.
Bankir dan pengacara mulai lebih sering melonggarkan dasi mereka sementara pakaian santai seperti kaus oblong -dipopulerkan oleh pendiri Facebook Mark Zuckerberg- mulai jadi standar di industri teknologi.
“Dulu kita hidup di dua dunia terpisah, kerja dan rumah,” kata Morgan. “Seiring menyatunya kedua hal ini, kita mulai berpakaian dengan lebih santai.”
Namun para pegawai yang kelewat jauh dalam menerapkan pakaian santai ini bisa menimbulkan persoalan di perusahaan yang ingin mempromosikan budaya kerja yang lebih profesional atau memamerkan kompetensi mereka kepada para klien.
Itu kenapa banyak perusahaan seperti Walmart dan Starbucks terus memelihara gaya berpakaian mereka, meskipun ketika mereka sedang memperdebatkan untuk lebih luwes dalam soal gaya berpakaian secara umum.
“Jika Anda bekerja di bisnis eceran atau di restoran, Anda akan bertatap muka dengan orang yang akan melakukan 'penghakiman' tentang kualitas produk atau layanan berdasarkan kepribadian para pegawai,” kata Edward Yost, kepala personalia pada Society for Human Resource Management.
Beritahu apa yang bisa diterima

Sumber gambar, iStock
Selain baik bagi bisnis, petunjuk mengenai pakaian kerja juga dapat memberi kejelasan bagi para pegawai.
Kurangnya petunjuk mengenai apa yang bisa dipakai dapat menjadi tantangan bagi para pegawai yang ingin berpakaian dengan pantas ketika mereka bekerja.
“Lebih longgar bahasa yang digunakan dalam kebijakan berpakaian, lebih besar tanggungjawab pegawai dalam memilih pakaian mereka,” kata Yost.
Ia mengatakan, ketimbang menyatakan secara khusus apa saja yang bisa dipakai, banyak perusahaan kini yang punya panduan umum meminta para pegawai untuk 'berpakaian secara pantas'.
Namun, kata Yost, ini serupa seperti mendefinisikan apa itu seni, tergantung pada siapa yang melihat.
Sherbin mengatakan ketika orang menemukan masalah ketika berusaha berpakaian lebih santai, biasanya karena mereka tak sepenuhnya paham, atau semata-mata sibuk saja.
“Punya banyak keleluasaan dalam berpakaian bisa menyulitkan untuk memutuskan apa pakaian yang tepat untuk dipakai,” katanya.
Mereka biasanya melihat ada orang yang berpakaian santai lalu tak mendapat teguran, kemudian mereka akan menjadikan orang itu sebagai patokan.
“Jika ini jam enam pagi dan saya sedang berpikir apa yang akan saya pakai hari ini, saya bisa berpikir, ‘Dia pakai pakaian seperti itu hari itu, rasanya saya juga bisa’.”
Berterus terang tentang apa yang diharapkan bisa juga membawa kejelasan kepada pegawai yang mungkin tak sadar bahwa orang bisa saja menghakimi mereka berdasarkan apa yang mereka pakai.
“Jika ada sesuatu yang seharusnya saya pakai, katakana saja kepada saya,” kata Sherbin. “Jangan bikin itu jadi ujian tersembunyi sambil diam-diam menghakimi bahwa yang saya memilih cara berpakaian yang salah.”
Tambahan lagi, tanpa kebijakan resmi, para manajer akan tertimpa beban untuk menilai apa saja yang pantas, dan ini bisa menyulitkan, khususnya ketika menyangkut jenis kelamin dan budaya yang berbeda.
Misalnya, seorang manajer laki-laki mungkin merasa segan untuk menegur pegawai perempuan yang memakai gaun tanpa lengan atau kemeja yang dikancingkan terlalu rendah.
Menghadirkan citra

Sumber gambar, iStock
Ketimbang memecahkan masalah pakaian kerja yang kelewat santai dengan membuat standar berpakaian setelan jas dan dasi, para ahli mengusulkan agar perusahaan memikirkan tentang kebijakan berpakaian sebagai cermin dari keseluruhan budaya dan nilai-nilai perusahaan.
“Buatlah panduan yang bisa menjadi sarana latihan yang berguna,” usul Sherbin. Ini akan membantu perusahaan untuk memutuskan citra seperti apa yang ingin ditampilkan kepada pelanggan utama mereka.
Yost mengusulkan agar perusahaan-perusahaan memulai dengan filosofi organisasi mereka. Untuk perusahaan yang banyak menghadapi klien, akan menolong untuk menamplikan citra yang ingin dihadirkan kepada klien.
“Jika Anda mengelola toko alat-alat selancar, oke-oke saja memakai celana pendek dan kaus Billabong yang Anda jual di toko Anda," kata Yost.
Sekali sebuah perusahaan punya panduan, mereka harus menyampaikan ini sebagai bagian dari pelatihan umum, kata Sherbin.
Ia mengusulkan memulai dengan pegawai di hari pertama mereka. Masukkan panduan berpakaian saat orientasi pekerjaan, dan jangan biarkan pakaian kerja jadi persoalan sejak hari pertama.
Untuk menekankan pesan ini, Shebin mengusulkan untuk mendiskusikan cara berpakaian sebagai bagian dari diskusi yang lebih luas tentang perilaku professional di tempat kerja.
Contohnya, perusahaan bisa memasukkan penampilan sebagai bagian dari pelatihan kepemimpinan secara umum, selain topik seperti komunikasi dan kehadiran.
“Banyak perusahaan yang oke-oke saja dengan menerapkan sikap, ‘lakukan karena itu ada di dalam buku panduan',” kata Sherbin.
Namun lebih baik jika mereka memberi pegawai konteks yang lebih luas kenapa penampilan itu penting. “Idealnya pesannya adalah, ‘jika Anda ingin menampilkan sikap professional, begini caranya’.”
<italic>Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris <link type="page"><caption> Have we taken casual workwear too far?</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20160120-have-we-taken-casual-workwear-too-far" platform="highweb"/></link> dan tulisan-tulisan sejenis di <link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link></italic>.









