Dampak Brexit, ekspatriat di Inggris rugi

Warga Inggris

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Banyak warga Inggris tak menduga hasil referendum menunjukkan mayoritas pemilih ingin keluar dari Uni Eropa.

Ketika ekspatriat asal Amerika Serikat Katie Sidell membayar cicilan pinjaman biaya kuliah di negara asalnya, gajinya yang ia terima di London berkurang banyak.

Sidell, 29, yang tinggal di London adalah salah satu dari banyak ekspatriat yang mengalami dampak buruk akibat hasil referendum di Inggris yang memutuskan keluar dari Uni Eropa.

Ia sudah merasakan dampak dari penurunan 10% nilai tukar mata uang pound sterling terhadap dolar Amerika.

“Ini adalah perubahan besar,” katanya. “Hampir semua dari kita mengirim uang ke Amerika Serikat.”

Jika pemerintah Inggris melaksanakan hasil referendum dengan menarik diri dari Uni Eropa dan menolak prinsip pergerakan bebas, maka warga Uni Eropa yang tinggal di Inggris terancam paling dulu menghadapi dampaknya.

  • <link type="page"><caption> Kepercayaan konsumen turun tajam setelah Brexit</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160708_majalah_dampak_brexit" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Dampak berantai ekonomi Inggris keluar dari Eropa</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160627_dunia_inggris_ekonomi" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Pasca Brexit: UE tetap jaga komitmen kongsi dagang dengan Cina</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160711_dunia_unieropa_cina" platform="highweb"/></link>

Tetapi bagi puluhan ekspatriat nonwarganegara Uni Eropa di Inggris, keputusan keluar dari blok itu menimbulkan kekhawatiran besar yang sebelumnya tak dipikirkan.

Banyak di antara mereka mengalami penurunan nilai gaji karena gaji mereka dalam bentuk mata uang “tuan rumah”, tetapi harus membayar kredit rumah atau pinjaman lain dalam bentuk mata uang “negara asal mereka”.

Stabilitas

Pound
Keterangan gambar, Nilai mata uang pound mengalami penurunan berarti terhadap dolar Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, Kanada, Australia dan negara-negara lain di luar zona Uni Eropa, mata uang mereka tetap kuat. Artinya, pinjaman sebesar US$1.000 sekarang sama dengan £750 (Rp13juta) padahal tahun lalu sama dengan £640 (Rp11 juta).

Sebagian ekspatriat yang lain khawatir akan stabilitas pekerjaan dan izin tinggal mereka, dan bertanya-tanya apakah mereka mereka benar-benar disambut untuk bekerja di Inggris.

Jika perekonomian buruk, mereka terancam kehilangan pekerjaan sehingga kehilangan peluang untuk tinggal dan bekerja di negara itu.

Banyak ekspatriat non-Eropa bekerja di sektor keuangan dan perbankan di London.

Beberapa perusahaan di sektor itu sudah berancang-ancang untuk memindahkan karyawan ke kota lain di Eropa dan sebagian bahkan sudah memperingatkan tentang pemutusan hubungan kerja.

Sebagai contoh, HSBC, mengatakan kepada BBC bahwa perusahaan perbankan itu akan memindahkan 1.000 karyawan dari London ke Paris jika Inggris menindaklanjuti hasil referendum.

Dan pucuk pimpinan JP Morgan, salah satu bank terbesar di dunia yang mempekerjakan 16.000 orang di Inggris, termasuk 4.000 orang di Bournemouth, pada awal Juni mengeluarkan peringatan bahwa bank itu mungkin akan memangkas jumlah karyawan di Inggris dan mengalihkan pekerjaan di kota-kota lain di Eropa.

Kalangan ekspatriat yang paling banyak terpengaruh adalah mereka yang terikat kesepakatan kompensasi di Inggris dan bekerja untuk perusahaan yang memperlakukan mereka sama dengan karyawan warga negara Inggris.

Demikian dikatakan oleh Kate Fitzpatrick, konsultan mobilitas global di perusahaan sumber daya manusia, Mercer di London.

“Ekspatriat yang tercatat sebagai karyawan reguler yang kebetulan punya tanggungan keuangan di luar Inggris kemungkinan akan mengalami dampak terberat,” katanya.

Menyusun rencana

Pound
Keterangan gambar, Pound turun ke titik terendah selama 30 tahun terakhir.

Sebagian ekspatriat merancang rencana untuk mengamankan gaji mereka dengan menegosiasikannya di negara asal.

Jika nilai tukar mata uang pound tetap rendah terhadap dolar AS, ekspatriat asal Amerika, Ben Weinberger, mempertimbangkan untuk meminta bonus dari perusahaan Amerika tempatnya bekerja untuk menutupi penurunan 10% karena gajinya dalam pound yang sekarang mengalami penurunan sebasar itu.

“Istri saya berkata, ‘karena perusahaan Anda meraup keuntungan dari perbedaan nilai mata uang, mungkin Anda sebaiknya meminta bonus’,” katanya.

Meskipun ia belum benar-benar merasakan dampak, Weinberger menyisihkan uang lebih banyak untuk biaya perjalanan ke luar negeri yang sekarang lebih mahal karena penurunan pound.

Mereka yang telah lama bekerja di Inggris, tetapi tidak disponsori oleh perusahaan multinasional merupakan pihak yang lebih khawatir akan apa yang akan terjadi.

Banyak ekspatriat di Inggris memegang visa kerja karena punya pasangan warga negara Uni Eropa, bukan disponsori oleh perusahaan, kata Sidell, warga Amerika yang bersuamikan warga Jerman.

Setelah hak-hak yang didapat sebagai warga negara Uni Eropa yang tinggal di London terancam dihapus, Sidell khawatir ia mungkin harus berjuang sendiri untuk mendapatkan visa kerja.

Jaminan pekerjaan

London

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Pasar properti di London diperkirakan akan tetap bergairah meskipun Inggris keluar dari Uni Eropa.

Beberapa orang lainnya mengambil langkah-langkah untuk mengamankan uang.

Setelah bekerja di London selama dua tahun, agen real estat Jon Sterling berencana untuk pindah ke Los Angeles sementara tetap menjalankan bisnis di Amerika Serikat dan Inggris.

Dijelaskan oleh Sterling, kepindahannya itu akan membantunya menghindari ketidakstabilan pound tetapi bisnis real estatnya tetap berjalan di London.

“Saya tak akan menunggu sampai ada reorganisasi,” katanya. Ia sendiri akan menyewakan apartemennya di London dan pindah pertengahan tahun ini. “Saya menjual barang-barang saya Kamis ini.”

Adapun mereka yang sedianya baru akan mulai bekerja di Inggris juga khawatir menghadapi ketidakpastian masa depan pekerjaan di negara itu.

Hal itu akan menyulitkan perekrutan, kata Owen Darbishire, profesor muda dari Said Business School, Universitas Oxford.

Sebagai ekspatriat, perlu dipertimbangkan apakah sekarang waktu yang tepat untuk pindah ke Inggris dan apakah pekerjaan itu masih tetap ada dalam waktu dua atau tiga tahun mendatang. Demikian nasihat Darbishire.

“Perusahaan-perusahaan akan menemui kendala menarik orang untuk menerima perubahan finansial ini."

Dia memperkirakan jika instabilitas berlanjut, banyak calon ekspatriat yang punya kualifikasi tinggi akan memilih pusat-pusat keuangan lain, termasuk Dublin dan Frankfurt, kota-kota yang tak menggunakan mata uang pound untuk gaji karyawan.

Sementara itu, banyak perusahaan Inggris kini perlu meyakinkan pekerja Inggris yang bekerja di luar negeri untuk perusahan-perusahaan mereka bahwa mereka dapat melakukan transisi mulus seandainya mereka memilih pulang.

“Mereka lebih khawatir waktu penugasan mungkin menghambat kepulangan mereka,” kata Darbishire.

Bukan waktu untuk panik

Protes menentang Brexit

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Ribuan orang mengikuti protes menentang hasil referendum Brexit atau Inggris keluar dari Uni Eropa.

Sterling, agen real estat, menangguhkan seluruh perekrutan di Inggris. Sebagai contoh, ia tak mendatangkan pengembang piranti lunak dari San Prancisco untuk memperkuat timnya di Inggris.

Ia mencari calon karyawan dari luar Inggris dan akan menggajinya dengan mata uang yang lebih stabil. Pada akhirnya nanti, dua karyawan akan direlokasi ke luar Inggris.

"Ada negara-negara Eropa yang dapat kita jadikan kantor," katanya.

Meskipun muncul kekhawatiran dan ketidakpastian, banyak ahli ekonomi menyarankan agar orang tidak panik. Perusahaan multinasional yang besar sudah terbiasa menangani kejatuhan mata uang dan biasanya sudah mempunyai kebijakan untuk melindungi para karyawan, kata Kate Fitzpatrick, konsultan Mercer.

Ini terbukti berdasarkan pengalaman di Brasil, Nigeria dan Rusia yang mengalami penurunan nilai mata uang lebih dramatis, tambahnya.

Dan sebagian besar perusahaan sudah mempunyai ketentuan menyangkut pemerataan pajak, kenaikan tunjangan dan membagi gaji ke dalam dua mata uang ketika menghadapi persoalan serupa.

"Kami cenderung menyarankan agar perusahaan menunggu dan secara retroaktif membuat penyesuaian," kata Fitzpatrick.

“Kini masih terlalu dini."

Ditambahkannya, banyak perusahaan yang berkantor di Inggris dan merekrut ekspatriat akan mengalami tren para karyawan meminta gaji dalam bentuk mata uang negara asal.

Tentu saja bagi sebagian orang ada sisi positifnya, memanfaat keuntungan dari mata uang pound yang rendah terhadap investasi di negara asal.

Ekspatriat asal Amerika, Ben Weinberger berencana menjual rumahnya di Amerika daripada membayar cicilan.

Dengan cara tersebut, ia mengeruk keuntungan dari pertambahan nilai rumah yang akan ia gunakan untuk membeli properti di London, yang dikenal sangat mahal, selagi mata uang pound menguntungkannya.

"Tiba-tiba saya punya daya beli yang lebih besar," katanya.

<italic>Versi bahasa Inggris tulisan ini</italic>: <italic><link type="page"><caption> The expats who became 10% poorer overnight</caption><url href="http://www.bbc.com/capital/story/20160629-the-expats-who-became-10-poorer-overnight" platform="highweb"/></link></italic>, <italic>dapat Anda baca di <link type="page"><caption> BBC Capital</caption><url href="http://www.bbc.com/capital" platform="highweb"/></link></italic>.