Cerita bagaimana bisnis kopi bisa bertahan selama pandemi Covid-19

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, William Park
- Peranan, BBC Future
Ketika banyak orang terpaksa bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19 melanda tahun ini, kebiasaan menyeduh kopi pada pagi hari membuat sejumlah individu dapat tetap mengecap kenormalan. Namun, jika Anda penikmat kopi, ada banyak orang yang berperan di balik secangkir minuman tersebut.
Tahun ini tidaklah mudah bagi pelaku industri kopi, termasuk 25 juta petani kecil yang menanam 80% dari seluruh kopi di dunia.
Secara keseluruhan, ada 125 juta orang bergantung pada kopi untuk membuat dapur mereka tetap mengebul setiap hari, mulai dari transportasi, memanggang biji kopi, sampai menjual produk akhir. Barista dan pemilik kedai kopi adalah beberapa di antara banyak orang yang menutup usaha mereka saat lockdown diberlakukan. Beberapa di antaranya tidak pernah membuka lagi kedai mereka.
Namun, meskipun kondisi kerja luar biasa sulit akibat pembatasan sosial terkait Covid-19, para konsumen tetap bisa memperoleh minuman favorit mereka berkat upaya para produsen kopi dan rantai pemasok.
Mengapa beberapa bagian industri kopi tetap langgeng sedangkan lainnya sulit bertahan? Dan bagaimana para produsen dan pengecer berinovasi untuk terus mengantarkan kebutuhan kafein para penikmat kopi?
- Hari Kopi: Dari kopi luwak asal Indonesia sampai manfaat kesehatan minum kopi, inilah 13 fakta tentang kopi
- Sekitar 60% dari 124 spesies kopi dunia akan punah, apa yang harus dilakukan?
- Gara-gara penyakit ini, seluruh dunia jadi bisa susah minum kopi
- Kereta api dan jejak penjajahan Belanda di Priangan: dari tanam paksa hingga plesiran
Brasil, selaku negara produsen kopi terbesar di dunia, mengalami tahun yang luar biasa. Panen kopi lazimnya naik-turun dari tahun ke tahun lantaran jenis kopi premium yang mayoritas ditanam di Brasil—arabica—punya siklus dua tahunan. Walau ada beragam upaya agar penghasilan tahunan lebih konsisten, masih terdapat penurunan produksi kopi saat arabica sedang tidak musim panen.
Akan tetapi, 2020/2021 bakal menjadi tahun terbaik dalam catatan produksi kopi di Brasil karena negara itu memproduksi 67.9 juta karung kopi, yang setiap karungnya berbobot 60 kilogram. Jumlah itu lebih banyak tiga juta karung jika dibandingkan produksi arabica tahun sebelumnya
Salah satu produsen kopi, Daterra, juga mengalami peningkatan produksi. Kepala agronomi Daterra, João Reis, memprediksi panen tahun ini "luar biasa" dalam hal kuantitas maupun kualitas karena kondisi cuaca begitu baik. Bagi Reis, masalah yang ditimbulkan pandemi adalah memanen kopi.

Sumber gambar, Getty Images
Reis mengamati berita penutupan berbagai usaha di Asia pada awal tahun dan memulai persiapan. Dia bergantung pada tenaga kerja migran dari bagian timur laut Brasil, yang tinggal di mess Daterra.
Karena ada aturan jarak sosial, dia bersiap mengurangi jumlah pekerja migran yang tinggal di lahan pertanian hingga setengah. Dampaknya, panen akan perlu waktu lebih lama.
Dengan kondisi demikian, Reis berharap upaya panen bisa berlangsung aman sebelum hujan merusak biji-biji kopi yang sudang matang. Harapan Reis terwujud, panen lancar dan hujan tidak mengguyur. Panen tahun ini dutargetkan mencapai 6.000 ton (sekitar 100.000 karung), katanya. "Pada 2019, kami memenuhi 70.000 karung kopi."
"Dampak Covid pada produksi kopi relatif ringan," ujar José Sette, direktur eksekutif Organisasi Kopi Internasional.
Sejumlah pemerintah bergerak melindungi para pekerja dengan menetapkan produksi kopi sebagai kegiatan ekonomi yang penting.
Sehingga, meskipun ada kesulitan mendapatkan tenaga kerja migran yang memadai, negara produsen kopi sekecil Ethiopia, yang mengekspor sekitar empat juta karung kopi per tahun, secara umum mampu melanjutkan produksi kopi sebagaimana telah direncanakan.
"Namun, soal konsumsi, ketidakpastiannya lebih besar," wanti-wanti Sette. "Kami tidak tahu bagaimana keadaan ekonomi global setelah kejutan ini. Ketika sokongan pemerintah tak lagi memungkinkan, kita mungkin mengalami pengangguran besar-besaran," lanjutnya.

Sumber gambar, Getty Images
Italia dihuni banyak pecinta kopi. Sebagai salah satu negara pertama di Eropa yang memberlakukan karantina wilayah, para konsumen kopi harus cepat beradaptasi mendapatkan minuman harian mereka. Tercatat penjualan kopi grosir meningkat 23% pada pekan pertama 'lockdown' di Italia.
Renata Bracale dari Universitas Molise serta Concetta Vaccaro dari lembaga riset sosioekonomi Censis di Roma membandingkan pembelian grosir mingguan warga Italia dengan penjualan komoditas serupa tahun 2019.
Metodenya tidak sempurna lantaran penjualan tahun-ke-tahun bisa naik-turun disebabkan beragam alasan. Namun, dibandingkan dengan pertumbuhan wine dan bir yang hanya mencapai satu digit, kopi bisa melampaui angka itu karena orang-orang Italia tak bisa absen minum kopi.
Bagaimanapun, gambaran bagi kafe dan kedai kopi tidak seindah itu. Leonardo Leli, seorang pemanggang kopi di Bologna langsung tahu bahwa Covid-19 akan menyebabkan usahanya berantakan. Leli, yang bermukim di kawasan pusat wabah Covid-19 di Italia utara, menjual 90% biji kopinya ke kedai kopi, restoran, dan hotel. Semua tempat itu adalah yang pertama tutup saat pandemi melanda.
"Kami menganggur dengan gudang penuh bahan mentah," kata Lelli.
Dia tak sendirian. Reis mengatakan beberapa klien Daterra memilih biji kopi yang lebih murah atau menunda pemesanan selagi menunggu pandemi usai.
Karena kekurangan pilihan untuk menjual biji kopinya, Leli memutuskan untuk memberikan sebagian kepada para pekerja garis depan dan menjual sebagian secara online.
Pengecer online tampak bisa bertahan selama karantina wilayah. Kopi telah menjadi barang belanja online terlaris sebelum 2020 dan prevalensi langganan dan kemitraan antara layanan pengantaran dan kedai kopi waralaba menjamin konsumen bisa terus menikmati kopi.

Sumber gambar, Getty Images
Ketika masyarakat terkungkung di rumah dengan sedikit alasan kuat untuk meninggalkan rumah, membuat minuman kopi adalah satu cara rehat sejenak. Kegiatan itu menjadi semacam cara memuaskan diri sendiri, kata Francesco Visioli, yang menekuni studi senyawa aktif pada bahan pangan di Universitas Padua, Italia, dan turut menulis makalah terkini mengenai gaya hidup selama pandemi.
"Menghabiskan sepanjang hari bekerja di depan layar, melakukan tugas yang sudah lama terlupa, menelpon ibu, teman, atau siapa saja boleh jadi meningkatkan kebutuhan sesuatu yang memberi kepuasan, membangkitkan energi."
Tidak seperti wine atau bir, kopi tidak mesti diminum sembari kongko bersama teman-teman di bar.
"Banyak orang di Italia tidak menjadikan minum kopi untuk bersosialisasi," kata Visioli. "Sebagai contoh terkini, saya rehat pada 10:30, turun, menyeberang jalan, memasuki kedai kopi kecil, minum kopi espresso, ke toko roti, membeli roti, dan kembali ke rumah. Semuanya serba sendiri."

Sumber gambar, Getty Images
Mengonsumsi kopi di rumah menurunkan tingkat kumpulan orang yang minum di bar, restoran, dan kafe di seluruh dunia, dari Brasil hingga Bali, Indonesia. Namun, negara-negara yang membuka kafe lebih awal mengalami lonjakan.
"Sebelum pandemi, Asia adalah pasar kopi di dunia yang paling cepat bertumbuh," kata Sette.
Tren ini tidak berubah selama pandemi. Pasar kopi Asia bertumbuh antara 4% hingga 5% per tahun, kata Sette. Adapun kawasan lainnya di dunia bertumbuh antara 2-2,5% per tahun.
Meski demikian, bukan berarti pasar Asia tak mengalami dampak pandemi.
"Ada sedikit penurunan pada masa awal, khususnya di China. Banyak kedai kopi harus tutup saat fase awal. Namun semuanya tampak bangkit lagi dan kita kembali ke kenormaln—apapun maknanya kini."

Sumber gambar, Getty Images
Dan di pasar kopi yang mengalami pukulan terberat, ada tanda-tanda kebangkitan.
Untungnya bagi Leli, pembatasan sosial di Italia dilonggarkan pada Juni dan dia bisa membuka usahanya lagi.
"Transisinya tidak rumit. Salah satu keuntungan terbesar menjadi pengrajin adalah kelenturan," kata Leli.
Setelah tiga bulan kehilangan 90% dari pemasukan biasanya, kondisinya mulai membaik.
"Hari ini penghasilan kami nyaris mencapai taraf sebelum lockdown," katanya.
Di industri yang segala sesuatunya berubah cepat, mulai dari tempat orang membeli kopi hingga cara mereka mengonsumsinya, ada beberapa hal yang mencerahkan.
"Perdagangan online berkembang banyak dan kini sangat mudah bagi konsumen untuk menggunakannya," kata Leli.
Perubahan ini bisa mengubah industri kopi yang selama ini kita tahu.
Anda bisa membaca versi bahasa Inggris tulisan ini dengan judul How the coffee trade survived Covid-19 dalam BBC Future









