2010-an: Dekade kemajuan hak dan kebebasan LGBTQ+ di dunia hiburan

Sumber gambar, Netflix
Era 2010-an telah menjadi dekade di mana hak dan kebebasan LGBTQ+ telah membaik secara signifikan di barat. Setidaknya, secara superfisial. Apakah kemajuan ini diimbangi oleh perubahan sikap yang lebih mendasar terhadap orang-orang LGBTQ+, dan apakah itu terlihat dalam budaya populer?
Sepuluh tahun yang lalu, Lady Gaga menjadi bintang global pada saat tangga lagu pop "disterilkan" secara politis.
Lady Gaga adalah pejuang keras untuk hak-hak LGBTQ+, baik di atas maupun di luar panggung, tetapi dukungannya yang vokal untuk komunitas queer, dan biseksualitasnya tidak menghambat keberhasilannya.
Mencuatnya nama Gaga bukan hanya soal kostum eksentrik dan wig aneh. Brian O'Flynn menulis di The Guardian: "Apa yang Gaga lakukan untuk generasi saya adalah apa yang dilakukan Bowie 20 tahun sebelumnya. Dia memperkenalkan kembali queer pada masyarakat yang sedang nyaman berada pada keseharian heteronormatif."
Satu dekade kemudian, saat Gaga sudah berhasil juga di film dan TV, seberapa queer-kah masyarakat umum?
Pop jadi makin queer
Dalam satu dekade terakhir ini, musik sudah ada pada titik paling queer sejak 1980-an. Bintang pop gay baru bermunculan, termasuk Troye Sivan dari Australia, yang album terbarunya, Bloom 2018, secara eksplisit membahas seks gay.
Ada pula vokalis Years & Years yang sama-sama blak-blakan, Olly Alexander, yang selalu menonjolkan sifat queer-nya di panggung maupun di depan umum.
Sementara itu, penyanyi Afrika Selatan Nakhane mengeksplorasi konflik antara agama dan seksualitas dalam musiknya. Musisi Inggris MNEK dinominasikan untuk Piala Grammy, bekerja dengan Beyoncé, dan menempatkan identitas queer-nya di pusat debut albumnya, Language (2018), yang menerima sambutan hangat.
Dekade ini juga memunculkan musisi gay yang lebih mapan seperti Jake Shears, Will Young dan Adam Lambert. Mereka mengeksplorasi seksualitas dengan lebih bebas daripada yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
"Sejak mulai berkarier, saya berpikir dan berharap bahwa apa pun yang saya lakukan akan memudahkan seseorang, entah di mana," kata Shears kepada BBC Culture.
"Soal gay ini akan selalu membuat beberapa orang tidak menganggap saya serius... Tapi saya selalu memperlakukan penulisan lagu, penampilan, dan produksi saya sebagai sesuatu yang sangat berharga."

Lampu sorot tak hanya dinikmati para pria queer. Penyanyi dan aktris biseksual Janelle Monaé membuat mahakaryanya pada tahun 2018, Dirty Computer, yang sangat lesbian dari awal hingga akhir.
Penyanyi soul asal Inggris Sam Smith, yang memenangkan Oscar pada 2016, baru-baru ini mengaku sebagai non-biner. Kim Petras dari Jerman telah menjadi sensasi pop global transgender pertama, yang mengadakan tur di seluruh dunia. Hayley Kiyoko dari Amerika digambarkan sebagai "Yesus lesbian" dengan lagunya yang seksi.
Bahkan musik rap, sebuah genre yang secara tradisional merayakan maskulinitas dan keberanian laki-laki heteroseksual, pun telah menjadi lebih queer.
Pada 2012, Frank Ocean menulis surat emosional, menjelaskan bahwa cinta pertamanya adalah seorang lelaki. Artis rap queer lainnya termasuk Azealia Banks, mengidentifikasi dirinya sebagai biseksual, dan Angel Haze, yang panseksual (istilah yang digunakan oleh mereka yang menolak jenis kelamin biner).
Tahun ini, rapper Lil Nas X mengakui bahwa dirinya gay saat memecahkan rekor Mariah Carey untuk lagu yang paling lama bertahan di urutan pertama tangga lagu AS. Lagunya adalah Old Town Road yang diputar di mana-mana.
"Musik rap menjadi lebih queer adalah salah satu momen budaya besar pada dekade ini," kata Amelia Abraham, penulis Queer Intentions: A (Personal) Journey Through LGBTQ+ Culture.
"Karena rap itu rasanya seperti garis depan yang tak terpikirkan bisa jadi tempat di mana queer menceritakan kisahnya," kata Amelia.
Musisi-musisi terkenal yang bisa mengakui dan secara terbuka mengeksplorasi sebagai queer dalam pekerjaan mereka adalah langkah maju.
Nampaknya queer bisa dipasarkan. Tapi apakah menguntungkan? Penulis budaya pop Alim Kheraj tidak yakin. "Semua visibilitas LGBTQ ini [telah] menempatkan representasi queer pada puncak budaya baru. Itu hanya bisa dianggap sebagai kemenangan," tulisnya di GQ tahun lalu.
"Namun demikian, kemenangan manis masih diwarnai dengan kebenaran pahit: queer, tampaknya, masih belum bisa dijual."

Sumber gambar, Reuters
Kheraj mengamati bahwa Kiyoko adalah satu-satunya artis queer terbuka yang masuk dalam peringkat 40 teratas di tangga lagu Billboard Hot 100 AS pada tahun 2018. Penjualan album Sam Smith mulai turun ketika penyanyi itu menjadi lebih terbuka tentang kehidupan queer-nya. Masih harus dilihat bagaimana mereka bisa laku secara komersial sekarang, setelah mengaku sebagai non-biner.
Para bintang sekutu LGBT+ berbicara
Para sekutu LGBTQ+ dalam dunia musik kini lebih vokal daripada sebelumnya. Pada 2012 rapper Macklemore merilis Same Love, lagu pro-LGBT yang menjadi soundtrack kampanye pernikahan sesama jenis di Amerika.
Dia membawakan lagu bersama Madonna di Grammy Awards 2014, bergabung di atas panggung bersama pasangan sesama jenis. Madonna, yang sudah lama jadi sekutu LGBTQ+, diancam akan dikirim ke penjara oleh pemerintah Vladimir Putin karena berpidato pro-gay di St Petersburg pada 2013.
Bintang-bintang pop seperti penyanyi country Kacey Musgraves dan bintang pop Texas Kelly Clarkson berusaha mengubah hati dan pikiran bahkan warga selatan AS yang konservatif dengan dukungan aktif mereka untuk hak-hak LGBTQ +.
Tahun ini, kebangkitan politis Taylor Swift memasukkan nama organisasi LGBTQ+, GLAAD, dalam lagunya, You Need to Calm Down, dan mendorong para penggemarnya untuk melobi demi mendukung legislasi kesetaraan.
Tetapi melihat artis-artis LGBTQ+ yang berjuang secara finansial, sering kali terlihat bahwa musisi-musisi heteroseksual (atau mereka yang tidak mengakuinya) lebih diuntungkan daripada artis-artis yang terang-terangan mengaku LGBTQ+.
Itu dibuktikan dengan komersialisasi gerakan Pride secara bertahap. Acara Pride yang didominasi oleh penampilan bintang pop besar dan terkenal seperti Ariana Grande dan Britney Spears. Penggemar pop LGBTQ+ juga mulai melawan 'queer-baiting', di mana kritikus menilai artis menggoda audiens dengan sedikit petunjuk tentang seksualitas mereka.
Halsey dan Miley Cyrus adalah contoh artis yang dipaksa menyangkal tuduhan bahwa biseksualitas mereka adalah 'taktik pemasaran'.
Ketika pertanyaannya adalah tentang bagaimana musik pop melayani mereka yang LGBTQ+, atau tidak, Abraham menjawab, "Saya pikir perlu ada lebih banyak ruang untuk nuansa dalam diskusi".
Pada tingkat paling dasar, ia menyarankan, kita perlu mempertimbangkan: "Apakah ini cukup baik dalam hal representasi budaya? Atau apakah ini terlalu menyenangkan atau dirancang untuk mereka yang [bukan LGBTQ +]? "
Tetapi apakah industri musik tempat untuk nuansa, atau pernyataan yang melampaui gerakan permukaan semata?
Bagaimanapun, Little Mix dipuji karena menantang dengan mengibarkan bendera LGBTQ+ di sebuah konser di Dubai, di mana homoseksualitas ilegal. Tetapi fakta bahwa grup tersebut bisa tampil di sana, ketika artis-artis yang secara terbuka LGBTQ+ tidak akan bisa, menunjukkan bahwa pasar mengalahkan moral.
TV membuat LGBTQ+ memegang kendali
Bukan hanya industri musik yang menawarkan gelombang baru representasi queer. Laporan Where We Are on TV GLAAD tahun ini mengungkapkan bahwa ada lebih banyak karakter LGBTQ+ di televisi daripada sebelumnya.
Netflix menampilkan jumlah karakter LGBTQ tertinggi di antara semua layanan streaming, dengan acara-acara seperti Orange is the New Black, Queer Eye, Grace and Frankie, Sex Education, dan Sense8 yang memukau pemirsa selama dekade terakhir.
TV adalah media di mana penulis dan aktor queer bisa mendapat lebih banyak kontrol. Misalnya, penulis/aktor Ryan O'Connell, drama komedinya yang berjudul Special mengeksplorasi pertemuan antara queer dan disabilitas.
Russell T Davies, pencipta Queer as Folk, memimpin dengan penggambaran kehidupan gay. Dramanya tahun 2015 yang berjudul Cucumber memicu percakapan signifikan tentang kekerasan anti-queer, dengan episode mengejutkan di mana tiba-tiba tokoh utamanya, Lance, dibunuh rekannya sendiri.
Tahun lalu Hugh Grant berperan sebagai anggota parlemen yang tidak mengaku gay, Jeremy Thorpa, dengan Ben Whishaw sebagai kekasihnya dalam A Very English Scandal. Tahun ini, drama distopia BBC/HBO, Years & Years, dipuji karena narasinya dalam penggambaran kehidupan imigran queer.
Pusat kekuatan Gay TV, Ryan Murphy, memulai dekade ini dengan memusatkan alur cerita queer dalam serial musik sekolah menengah Glee. Dia mengakhirinya dengan drama ballroom drag revolusioner Pose.
Murphy juga memadukan narasi LGBTQ+ ke dalam American Horror Story dan The Politician, sambil membawa kisah The Assassination of Gianni Versace ke layar kita.
Abraham mengatakan bahwa para pekerja kreatif LGBTQ+ yang boleh membentuk narasi mereka sendiri adalah katalis utama di balik acara TV yang bergerak melewati stereotip usang dekade sebelumnya.
"Saya pikir salah satu perubahan terbesar adalah membiarkan orang menceritakan kisah mereka sendiri, dan benar-benar memahami nilai yang diberikan," katanya.
"Pose, yang diciptakan oleh Ryan Murphy, memberi contoh yang bagus dengan membawa penulis trans seperti Janet Mock ke ruang tulis, dan saya pikir itu benar-benar terbayar. Lihat betapa menakjubkannya serial itu!"
RuPaul's Drag Race adalah contoh lain pertunjukan yang mendorong batas acara yang dicipakan oleh queer. Dipersembahkan oleh ikon drag RuPaul Charles, acara ini telah melambungkan drag ke arus utama, mengubah budaya LGBTQ + selamanya dan memperkenalkan istilah baru seperti 'shade' dan 'tea' ke dalam leksikon arus utama.
Acara yang berpusat pada LGBTQ memang penting, tapi ada juga peningkatan perwakilan queer dalam acara 'biasa'. Salah satu episode Black Mirror 2016, San Junipero, mengeksplorasi cinta antara dua perempuan queer yang sering bepergian. San Junipero dipuji sebagai salah satu episode televisi terbaik dekade ini.
Kisah cinta romantis Patrick dan David di sitkom Kanada, Schitt's Creek; kisah ketika Mac mengaku gay di komedi ASIt's Always Sunny in Philadelphia; dan The Handmaid's Tale's mempekerjakan dua karakter utama lesbian, dengan alur cerita mereka sendiri yang terpisah, adalah momen-momen menonjol lainnya.
Tapi sama pentingnya dengan representasi queer, bisa dibilang, adalah hak bagi para pemain queer untuk tidak harus mewakili seksualitas mereka. Sama-sama menggembirakan melihat bagaimana aktor gay sekarang 'diizinkan' untuk memainkan peran non-gay.
Russell Tovey, Jonathan Groff dan Zachary Quinto adalah beberapa yang telah berhasil menghindari stereotip peran. Jim Parsons dari The Big Bang Theory, yang menikah dengan rekannya Todd Spiewak pada tahun 2017, adalah aktor TV dengan bayaran tertinggi di tahun 2018. Sementara itu, tahun ini Andrew Scott dinobatkan jadi heteroseksual pujaan hati di Fleabag, meskipun telah mengaku gay secara terbuka pada tahun 2013.
Film masih tertinggal
Di layar lebar, gambar yang lebih kompleks (atau menyedihkan) muncul. Indeks Tanggung Jawab Studio 2019 GLAAD menemukan bahwa representasi LGBTQ dalam film studio besar naik 5% pada tahun 2018 daripada tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, film yang menampilkan karakter gay berjumlah sama dengan film yang menampilkan karakter lesbian.
Selama dekade terakhir, film-film bertema LGBTQ + seperti Dallas Buyers Club, God's Own Country, Carol and A Single Man telah memenangkan pujian kritis.
Moonlight, disutradarai oleh Barry Jenkins, meraih kemenangan mengejutkan atas La La Land untuk film terbaik 2018 Oscar dengan penggambaran indahnya tentang cinta queer tokoh kulit hitam dan seksualitas remaja.
Matthew Todd, komentator LGBTQ + terkemuka dan penulis Straight Jacket: How to Be Gay and Happy, mengatakan bahwa film ini mengubah percaturan: "Film itu benar-benar menunjukkan efek buruk dari rasa malu budaya dan homofobia pada kehidupan pria gay. Memberi tempat bagi kehidupan pria gay kulit hitam, adalah hal yang tak terhindarkan dalam budaya adalah transformatif. "
Tapi film-film ini masih jarang dibintangi aktor LGBTQ+, yang membuat penonton queer merasa tidak nyaman. Seorang pria yang mengaku gay secara terbuka tidak pernah memenangkan aktor terbaik Oscar. Tapi pada 2019, tiga dari empat penghargaan akting diberikan kepada aktor heteroseksual (Rami Malek, Olivia Colman dan Mahershala Ali) karena memainkan peran LGBTQ+.
Film 2017, Call Me by Your Name dibintangi oleh aktor heteroseksual Timothée Chalamet dan Armie Hammer sebagai sepasang kekasih. Penonton pun terbelah, ketika sebagian dari mereka menyebutnya sebagai "pembersihan" queer.
Film biografi Freddie Mercury (2018) Bohemian Rhapsody dituduh menghapuskan seksualitas penyanyi itu demi disukai oleh khalayak luas.
Ada juga reaksi negatif terhadap aktor cisgender yang memainkan karakter trans. Eddie Redmayne memerankan artis Lili Elbe di tahun 2015 dalam film nominasi Oscar, The Danish Girl. Film ini mengundang protes, seperti ketika Scarlett Johansson diusulkan berperan sebagai pemain trans dalam biopic kejahatan Rub & Tug tahun lalu. Johansson kemudian mengundurkan diri dari peran tersebut.
Di bidang casting ini, setidaknya, Abraham mengatakan bahwa sinema sedang membaik, meskipun lambat. "Saya sangat meragukan Eddie Redmayne akan dipilih berperan di Danish Girl jika film itu dibuat hari ini."
Sinema queer juga tampaknya memiliki fokus yang tidak proporsional pada penderitaan dan kematian, beberapa orang menyebutnya sebagai peran 'Kuburkan para gay'. Pada 2013 James Rawson menyebut tingginya angka kematian karakter gay dalam film sebagai "Sindrom Kematian Mendadak Gay".
Pada tahun 2018, Benjamin Lee menulis bahwa sinema LGBTQ+ membutuhkan lebih banyak "akhir yang bahagia".
"Sebagai juri untuk festival film gay, saya diingatkan pada kesuraman yang melambangkan bioskop LGBTQ+," katanya. "Apakah terpisah oleh kematian, homofobia atau pembubaran hubungan, benang merahnya adalah bahwa karakter LGBT menderita oleh sesuatu."
Sama seperti di televisi, sinema LGBTQ+ paling kuat ketika diciptakan oleh queer.
Contohnya drama Prancis 2017 Beats per Minute, yang menggambarkan krisis AIDS pada 1990-an dan memenangkan hampir semua pujian universal dan empat penghargaan di festival film Cannes.
Robin Campillo dan co-penulis skenario Philippe Mangeot memanfaatkan pengalaman pribadi mereka dengan kelompok kampanye ACT UP dalam mengembangkan cerita. Atau film 2017 lainnya, Battle of the Sexes, yang dibuat bekerja sama dengan legenda tenis Billie Jean King, yang menceritakan kisah kemenangan bintang itu melawan chauvinisme laki-laki Bobby Riggs ketika ia berdamai dengan homoseksualitasnya.
Dan kemudian ada Rocketman 2019, sebuah film yang didasarkan pada kehidupan Elton John. Menurut laporan, John dan suaminya David Furnish telah mencoba membawanya ke layar selama dua dekade. Diproduksi oleh Furnish, film ini lolos dari kritik 'penghapusan queer' yang menimpa Bohemian Rhapsody.
Cengkeraman kapitalisme?
Ada ketegangan yang sudah lama terjadi antara queer dan 'arus utama', yang sering dipandang sebagai kekuatan depolitisasi dan heteronormativitas.
Tetapi tentu saja ada sesuatu yang diam-diam radikal tentang kisah-kisah queer yang diceritakan dalam ruang-ruang ini. Pemirsa dari segala usia dan identitas telah jatuh cinta pada 'Fab 5', lima pria gay yang membantu orang lain melakukan perbaikan diri dalam acara Netflix Queer Eye.
Sementara itu film Love, Simon (2018) melanggar batas justru karena fakta bahwa itu adalah sekolah menengah yang benar-benar normal (dan bahkan sedikit membosankan) yang kebetulan mengeksplorasi cinta sesama jenis. Todd setuju bahwa karena konvensional, itu justru menjadi aset.
"Saya menonton Love, Simon dua kali, dan itu adalah pengalaman yang sangat emosional bagi penonton muda dan tua yang belum pernah menonton film seperti itu dengan protagonis gay sebelumnya."
Opera sabun juga memainkan peran utama dalam menormalkan orang LGBTQ+. Seperti yang dicatat Todd: "format yang menembus arus utama dan dilihat oleh keluarga pinggiran kota dan 'orang biasa' di seluruh negeri, berperan sangat vital."
Acara realitas di TV memiliki dampak yang serupa. Dari anggota keluarga Kardashian Caitlyn Jenner dan Andy Cohen di Bravo, hingga kontestan gay di The Voice, Dancing with the Stars, The Great British Bake Off, dan Conchita Wurst membuat Eurovision lebih queer daripada sebelumnya. Kini orang LGBTQ+ di layar kita dalam berbagai format sekarang menjadi hal yang umum untuk dilihat.

Sumber gambar, Steve Granitz
Popularitas pertunjukan teater queer baru pun meluas secara eksplisit seperti The Inheritance dan Everybody's Talking About Jamie, serta keberhasilan penjualan tiket Teater Nasional Inggris yang membangkitkan lagi Angels in America baik di London maupun New York. Ini semua menunjukkan bahwa ada permintaan luas atas cerita-cerita queer.
Tetapi nyatanya, peningkatan representasi budaya di AS dan Inggris berlawanan dengan apa yang dialami langsung oleh banyak orang LGBTQ+.
Sepuluh tahun terakhir mungkin ada kebebasan legislatif baru, tetapi ini telah disambut dengan pukulan balasan. Misalnya, peningkatan dalam kejahatan rasial di kedua sisi Atlantik.
Abraham mengatakan bahwa, meskipun baru-baru ini kisah LGBTQ+ dirangkul, ia khawatir dengan tak terhubungnya layar dan kehidupan sehari-hari.
"Apakah orang akan merasa nyaman dengan hal-hal seperti, melihat orang trans di jalan atau kasih sayang sesama jenis di sebuah pub, yang bertentangan dengan kenyamanan ruang tamu mereka?" katanya.
"Untuk semua kemajuan representasi yang kita lihat, jalan menuju penerimaan masih sangat panjang."
Selama dekade terakhir, perwakilan komunitas LGBTQ+ dalam budaya populer telah meningkat secara eksponensial. Tapi dari musik ke film, sering kali orang non-LGBTQ+ yang mendapatkan keuntungan.
Tulisan di New York Times tahun 2018 menyatakan bahwa kita telah memasuki "zaman twink" (istilah untuk pria muda, kurus, kulit putih, yang dipinjam dari kamus gay) yang digunakan untuk menjelaskan kebangkitan aktor seperti Timothée Chalamet.
Tetapi tampaknya tidak adil ketika Chalamet berdiri di karpet merah mengenakan harness, pakaian dengan akar budaya BDSM gay, dan menjadi nominasi Oscar untuk peran gay. Sementara itu, aktor queer tak mendapat kesempatan yang sama.
Demikian pula, ada sesuatu yang salah ketika Taylor Swift memecahkan rekor rekaman streaming dengan lagu-lagu seperti You Need To Calm Down, dengan video musik yang menampilkan 'skuad' LGBTQ, sementara artis queer berjuang demi karier yang layak secara komersial.
Ketika kapitalisme memperketat cengkeramannya pada cerita-cerita queer, kita harus memperhatikan dengan seksama jenis-jenis kisah LGBTQ+ yang dipasarkan.
Siapa yang mendapat manfaat dengan cara cerita ini disampaikan?
Budaya terkini memang tampak merangkul kisah-kisah LGBTQ+, tapi jika gagal merangkul pekerja LGBTQ+ juga, maka kebangkitan queer dekade ini mungkin akan berakhir menjadi 'hanya fase'.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul The decade that saw queerness go mainstream pada laman BBC Culture.











