Mengapa jumlah sutradara perempuan di seluruh dunia sangat sedikit?

Sumber gambar, Albert L. Ortega/Getty Images
- Penulis, Harriet Constable
- Peranan, BBC Culture
Jumlah sutradara perempuan yang berkarya di industri perfilman masih sangat sedikit. Banyak faktor pemicunya kini tengah disiasati dan para perempuan memimpin upaya besar tersebut.
"Terkadang wanita tidak bisa meminta kuasa, jadi mereka harus merebutnya. Oke? Saya ingin Anda mengingat itu, "kata Alex Levy, karakter di drama baru Apple TV, The Morning Show.
Levy, yang diperankan oleh Jennifer Aniston, berada di tengah-tengah krisis karier. Sementara rekannya, dimainkan oleh Steve Carrell, telah dipecat dari program televisi itu karena skandal seksual.
Levy menutup telepon dengan frustrasi lalu berpaling kepada putrinya. Ia lantas menyampaikan kalimat yang seolah merupakan rangkuman kemarahan kolektif perempuan yang diabaikan selama beberapa generasi.
Sangat pas, The Morning Show, serial yang berpusat pada dinamika pergeseran kekuatan gender, diciptakan sejumlah perempuan belakang layar.
Mimi Leder adalah satu dari tiga sutradara perempuan dalam program televisi ini. Ia menyutradarai setengah dari seri pertama.
Selain memainkan peran, Jennifer Aniston dan Reese Witherspoon, juga menjabat produser eksekutif dalam serial ini.
Keberadaan tiga perempuan dalam kursi penting memunculkan efek riak kesetaraan dalam seluruh proses produksi.
Leder berkata kepada The Hollywood Reporter, "The Morning Show terdiri dari 50% perempuan dan orang dengan kulit berwarna serta 50% laki-laki. Ada kesetaraan gender di acara kami."
Inisiatif The Morning Show itu bukan hal unik. Kajian dari Pusat Studi Wanita dalam Pertelevisian dan Perfilman San Diego State University menunjukkan hal itu.
Penelitian tersebut menyeut bahwa film yang disutradarai perempuan mempekerjakan penulis, editor, sinematografer, dan komposer perempuan dalam persentase yang lebih besar ketimbang film dengan sutradara laki-laki.
Aktris dan sutradara Eva Longoria, yang akan mengarahkan dua film pada tahun 2020, adalah contoh dari kecenderungan ini.
"Saya selalu memulai dengan mengisi slot untuk perempuan dan orang kulit berwarna terlebih dahulu, maka jika tidak ada pilihan, saya akan mencari di tempat lain..."
"Jadi alih-alih secara tidak sadar mengabaikan perempuan atau orang kulit berwarna, saya secara sadar merekrut mereka," kata Longoria kepada The Guardian.

Sumber gambar, Apple TV
Merujuk statistik, peran besar perempuan dalam sebuah Hollywood kini memang dibutuhkan. Di AS, dari 250 film terlaris di dalam negeri pada tahun 2018, persentase keterlibatan sutradara perempuan hanya 8%.
Angka itu sebenarnya 1% di bawah persentase dalam perbandingan yang sama pada 1998. Jika Anda mempersempit komparasinya menjadi 100 film terlaris Hollywood, angkanya turun menjadi hanya 4%.
Dalam 90 tahun penyelenggaraan Academy Awards, hanya lima wanita yang pernah dinominasikan untuk sutradara terbaik.
Di antara mereka, hanya ada satu perempuan yang pernah memenangkan anugerah Oscar itu, yaitu sutradara The Hurt Locker, Kathryn Bigelow, pada tahun 2010.
Situasi itu terjadi bukan karena kurangnya perempuan berbakat di industri perfilman. Di seluruh dunia ada tren peningkatan jumlah sutradara perempuan yang terlibat proyek film yang lebih besar dan lebih berbobot, baik di Hollywood, Bollywood, dan Nollywood.
The Wedding Party, film terlaris di Nigeria tahun 2016, disutradarai sutradara perempuan Kemi Adetiba.
Di Cina, perempuan menyutradarai tiga dari 10 film terlaris tahun 2018, yang salah satunya menghasilkan keuntungan box office sebesar 1,36 miliar yuan atau Rp2,8 triliun.

Sumber gambar, Kevin Winter/Getty Images
Jika ada banyak perempuan berbakat yang ingin membuat film, mengapa jumlah mereka benar-benar aktif tidak banyak?
Dame Heather Rabbatts, Ketua Time's Up UK, sebuah kelompok yang didirikan pada tahun 2018 oleh beberapa aktris paling terkenal di Hollywood dalam menanggapi gerakan #MeToo, memberikan dua alasan.
"Orang cenderung merekrut yang memiliki citra seperti diri mereka sendiri," ujarnya. Mayoritas sutradara adalah laki-laki dan mereka mempekerjakan laki-laki.
Kedua, kata Rabbats, "Perempuan belum melihat banyak panutan perempuan yang berprofesi sebagai sutradara."
Dengan kata lain, karena sutradara hampir bisa disebut pekerjaan yang sangat laki-laki, banyak wanita mungkin baru saja sadar pada kenyataan bahwa mereka juga memiliki ruang yang sama untuk mengerjakan hal itu.
"Semakin banyak perempuan dalam bidang ini, akan semakin besar pula dorongan terhadap perempuan lain untuk percaya bahwa mereka juga dapat melakukan ini," ujar Rabbats.
Salah satu sutradara papan atas Hollywood yang membuka jalan dan berbicara untuk pembuat film perempuan lainnya adalah Ava DuVernay.
Awal November lalu, ketika Academy Awards mendiskualifikasi film Lionheart yang disutradarai seorang perempuan dari kategori film internasional terbaik, DuVernay angkat bicara lewat akun Twitter miliknya.
"Kepada @TheAcademy, Anda mendiskualifikasi perwakilan pertama Nigeria untuk kategori feature internasional terbaik karena film ini berbahasa Inggris."
"Tetapi bahasa Inggris adalah bahasa resmi Nigeria. Apakah Anda melarang negara ini untuk bersaing memperebutkan Oscar dalam bahasa resminya?" kata DuVernay.
Sebagai tanggapan, sutradara film tersebut, Genevieve Nnaji, mengucapkan terima kasih kepada DuVernay. "Film ini mewakili cara kami berbicara sebagai orang Nigeria," tulisnya.

Sumber gambar, Mark Davis/WireImage/Getty Images
Meski jelas ada banyak hambatan yang dihadapi sutradara perempuan, aktris Victoria Emslie yakin pada kekuatan perempuan untuk mengatasi persoalan ini, sekaligus mendorong perubahan.
"Ada bagian yang kita semua bisa mainkan untuk mengubah pembicaraan, tapi jika Anda memiliki hak istimewa, Anda berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk melakukan ini dan membuka jalan bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama," katanya kepada BBC Culture.
Tantangan lain berkaitan pada alasan rumah produksi yang menyebut sulit menemukan sutradara perempuan.
"Kami mendengar alasan yang sama muncul berulang kali, salah satu yang palin sering adalah 'Di mana semua perempuan itu?'"
Respons Emslie Primetime terhadap persoalan ini adalah dengan meluncurkan Primetime, basis data global untuk perempuan di belakang kamera.
"Sebagai seseorang yang selalu menerima tantangan memecahkan masalah, saya ingin alasan itu tidak lagi terdengar," katanya.
Titik kritis
Saat ini terdapat beberapa inisiatif di seluruh dunia yang diarahkan untuk meningkatkan jumlah sutradara, penulis, produser dan sinematografer perempuan.
Salah satu solusi penemuan bakat baru adalah Free the Work, diluncurkan oleh sutradara Alma Har'el pada Oktober 2019, yang ia gambarkan sebagai persilangan antara Spotify dan kanal IMDb.
Platform ini menyusul Free the Bid, yang diluncurkan Har'el lebih dari satu dekade lalu ketika dia menyadari bahwa perempuan dikecualikan dari peluang untuk menyutradarai iklan.
Inisiatif awal Ha'rel itu sangat sukses karena meningkatkan jumlah sutradara perempuan di beberapa agensi hingga 400%.
"Kami akan melakukan strategi yang sama untuk film," kata Har'el saat berbicara di sebuah acara selama penyelenggaraan BFI London Film Festival. Dalam ajang itu, ia mempromosikan film terbarunya, Honey Boy.
Sejumlah upaya lain adalah The Topple List, sebuah lembar pengolah data Google berisi pembuat film perempuan, berkulit hitam dan difabel.
Platform lainnya adalah Film Fatales, sebuah komunitas global untuk para pembuat film perempuan untuk menemukan peluang dan berkolaborasi.
Melobi adalah taktik lainnya. Pada tahun 2019, sebagai tanggapan terhadap statistik yang menunjukkan bahwa perempuan hanya mengarahkan 4% dari film-film top selama sedekade terakhir, Time's Up dan The Annenberg Inclusion Initiative meluncurkan gerakan bertajuk 4% Challenge.
Dua kelompok ini meminta produser dan aktor untuk berkomitmen pada proyek film yang dikepalai perempuan selama dalam 18 bulan. Tujuannya, untuk meningkatkan persentase keterlibatan sutradara perempuan.
Beberapa studio besar seperti Working Title dan Universal kini telah menandatangani ikrar, yang disebut Dame Rabbatts menggembirakan tersebut.
"Situasi memang tidak akan berubah dalam semalam, tetapi kita semua merasa bahwa industri perfilman merespons secara positif," tuturnya.

Sumber gambar, Jonathan Ford
Salah satu tantangan adalah memikat studio untuk memberi kesempatan untuk sutradara perempuan yang baru akan pertama kali memimpin proyek film.
Menurut Martha M Lauzen, profesor dan Direktur Eksekutif Pusat Studi Wanita di Televisi dan Film di San Diego State University, stereotip tentang keterampilan dan ambisi perempuan adalah penghalang yang kuat untuk masuk ke industri ini.
"Selama perempuan dianggap berisiko, mereka akan dipekerjakan dengan tingkat yang lebih rendah daripada rekan-rekan laki-laki mereka," katanya.
Sebagai tanggapan, Dame Rabbatts berkata, "Yang kami coba lakukan adalah berkata bahwa mempekerjakan sutradara perempuan untuk pertama kali merupakan lompatan iman."
"Namun Anda memang harus memiliki keyakinan kepada para kandidat sutradara perempuan itu, seperti yang Anda lakukan kepada laki-laki," tutur Lauzen.
Menurut Lauzen, keseriusan rumah produksi terhadap gerakan 4% Challenge sangat penting.
"Tanpa kemauan besar untuk berubah dari para pemangku kepentingan utama perfilman, yaitu studio, agen pencanri bakat, dan asosiasi, tidak ada obat sukarela yang akan efektif," kata dia.
Peluang perempuan menjadi sutradara
Meningkatnya platform streaming dan popularitas serial multi-episode tampaknya membuka peluang bagi para pembuat film perempuan di seluruh dunia.
Di India, beberapa film Netflix akan dipimpin perempuan, termasuk Guilty, disutradarai dan ditulis oleh Ruchi Narain, serta Ghost Stories yang disutradarai Sooni Taraporevala.
Menurut Dame Rabbatts, ada faktor pelengkap yang memungkinkan perubahan terjadi. "Persaingan di saat suara para perempuan berbakat memberi kita momen yang tepat," ujarnya.
Ketika penyedia layanan streaming berniat memperluas jangkauan ke Afrika Utara dan Timur Tengah, termasuk mencari lebih banyak konten original, sutradara perempuan di Arab mungkin juga akan meraih peluang itu.
Sebuah laporan tahun 2016 oleh Institut Film Doha menunjukkan, film independen Arab dua kali lebih mungkin disutradarai perempuan. Namun mereka film mereka jarang masuk ke jaringan bioskop utama.
Meski begitu, Netflix akan memberi mereka platform yang sama sekali baru.

Sumber gambar, Times Up
Beberapa festival film secara khusus mempromosikan sutradara perempuan, di antaranya Cairo International Women's Film Festival in Egypt, the Barcelona International Women's Film Festival, China Women's Film Festival in Hong Kong, Ndiva Women's Film Festival di Ghana dan Seoul International Women's Film Festival di Korea Selatan.
Di Prancis, organisasi Le Collectif 50/50 bekerja untuk memastikan bahwa film yang disutradarai laki-laki dan perempuan mendapat hak setara di semua festival film.
Peningkatan kesempatan yang luas adalah yang dibutuhkan sutaradara perempuan, menurut Dame Rabbatts.
"Untuk mengubah budaya dengan cara yang berkelanjutan, dibutuhkan serangkaian intervensi di berbagai tingkatan yang kemudian membawa Anda ke titik kritis. Semua ini menciptakan perubahan," katanya.
Setelah menyebut 2018 sebagai 'tahun perhitungan' dan 2019 sebagai 'tahun tindakan', Rabbatts berkata, 2020 harus menjadi 'tahun perubahan'.
"Bahaya yang Anda hadapi ketika membuat gerakan adalah saat Anda mengendurkan tekanan atau berpikir bahwa Anda punya lebih banyak inisiatif baru."
"Bukan seperti itu. Anda harus tetap fokus pada apa yang Anda coba lakukan. Ini bukan hanya tentang bagaimana membuat sutradara wanita diakui, tapi bagaimana mereka bisa bertahan dalam persaingan tersebut," kata Rabbatts.
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris diBBC Culturedengan judulWhy aren't there more women film directors?











