Bagaimana sebuah foto ikonik bisa menjadi penanda zaman

Sumber gambar, Lana H Haroun
- Penulis, Sophia Smith Galer
- Peranan, BBC Culture
Setelah sebuah foto seorang demonstran di Sudan menjadi viral, Sophia Smith Galer mencoba mencari tahu apa saja elemen yang membuat foto tertentu punya daya tarik yang besar.
Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata 'ikon'? Liz Hurley dalam balutan gaun Versace? David Bowie? Atau mungkin gambar Kristus yang disalib dari abad 12?
Tiga contoh tersebut — sebuah foto terkenal, seorang musisi ternama dunia dan sebuah karya seni religius — adalah ikon. Tapi contoh yang terakhir adalah bentuk asli ikon; kata itu diambil dari bahasa Yunani, eikōn, yang berarti 'citra' atau 'keserupaan'.
Ikon adalah gambaran gaya potret dari figur-figur penting seperti Kristus atau Perawan Maria yang pertama muncul dalam abad-abad awal penyebaran Kristen.
Ikon, yang dibuat pada masa saat orang-orang tak banyak dilukis, bukan sekadar hal indah untuk dilihat. Ikon-ikon ini adalah gambaran kuat yang mendorong seseorang untuk berdoa dan patuh.
Setiap fitur yang digunakan — dari mulai warna, benda apa yang dipegang subjek ikon, posisi tubuh mereka — punya makna penting yang mungkin bagi kita tak lagi relevan di era media massa.

Sumber gambar, Noah Seelam/AFP/Getty Images
Tapi kemudian foto Alaa Salah, yang melakukan protes di Sudan, menangkap imajinasi dunia. Sepekan sejak muncul, foto tersebut telah menjadi simbol revolusi Sudan dan menjadi mural di banyak tembok di dunia Arab.
Jika dibedah, maka detail seni ikonografis dari berabad-abad lalu bisa ditemukan di karya foto jurnalisme era smartphone tersebut. Bagaimana sebenarnya sebuah foto bisa menjadi ikonik?
Mendobrak aturan
Apa yang membuat Alaa Salah dan foto ini menjadi begitu kuat? Bagi Dr Julia Tatiana Bailey, kurator di seni modern dan kontemporer di Galeri Nasional, Praha, foto tersebut mengingatkan akan foto Jonathan Bachman yang mengambil gambar Ieshia Evans di protes Black Lives Matter di Baton Rouge, Louisiana.
"Saya rasa di dunia kita yang kaya akan citra dan media, kita akan terpana dengan autentisitas, gambar-gambar spontan yang sebenarnya sejalan dengan tema visual yang biasa kita lihat sebagai sesuatu yang tertata."
Dr Tina Rivers Ryan, seorang sejarawan seni dan kurator di Albright-Knox Art Gallery di Buffalo, New York, melihat ada kekuatan dalam postur Salah. "Gerakan tegak ke atas menyiratkan ada aliran energi ke satu titik terpusat — sebuah simbol yang jelas bagi revolusi untuk mendapatkan fokus dan momentum, dan Salah adalah inti metaforik (selain juga, inti sebenarnya)."
Bagi Ryan foto ini mengingatkan akan gaya khas seorang orator dari era klasik, dengan mulut terbuka dan jari yang mengacung, "sementara tangan di perutnya berfungsi untuk membumikan retorikanya, sebagai sesuatu yang tulus atau 'datang dari nurani.'"

Sumber gambar, Getty Images
Bagi audiens Barat, gambar ini mungkin menguatkan — atau mendobrak — stereotipe akan status perempuan di dunia Barat. Bailey menyebut bahwa, "foto Salah dan Evans sesuai dengan politik gender dan rasial di dunia liberal Barat, yang punya keinginan untuk melihat perempuan kulit berwarna dalam posisi kuat dan dihormati, untuk melawan sejarah panjang ikonisasi pria kulit putih yang kaya."
Tapi toh pada akhirnya, orang-orang Sudanlah yang membagikan foto itu di internet, dan mejadikan foto itu sebagai pusat perhatian orang; dan sebagian besar makna penting foto itu muncul dari orang Sudan, sebelum menjadi penting bagi orang-orang yang tak tahu soal budaya Sudan.
Pose Salah yang kuat itu tidak mengingatkan akan pose klasik seorang orator, seperti yang disebut Ryan, tapi pose itu juga mengingatkan akan Kandaka — nama yang diberikan untuk seorang ratu di kerajaan Kushite kuno yang kini dikenal dengan nama Nubia — dan ada beberapa relief dari abad 1 yang menggambarkan ratu-ratu tersebut dalam pose yang mirip dengan Salah.
Maka foto Salah tersebut masuk ke sosok penting dalam identitas budaya Sudan. Anting-anting emas Salah berbentuk bulan juga memperkuat status sosok ratu yang berdaya dan ideal.
Dan bukan hanya Salah yang menangkap perhatian orang, ada lautan tangan orang-orang yang terangkat dan merekam Salah menyanyi dengan smartphone mereka. Ada banyak simbol dalam foto ini yang menandai awal baru bagi anak muda di Sudan, sampai-sampai kita pusing dibuatnya — dan inilah yang membuat foto tersebut menjadi begitu kuat.
Waktu dan tempat yang tepat
Saat Alberto Korda membawa Leica M2-nya ke sebuah misa pada satu hari di Havana pada 1960, dia tahu bahwa dia akan mengambil foto-foto dari tokoh paling penting di era itu — Fidel Castro. Che Guevara; bahkan Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir ada di sana.
Tapi dia tidak tahu bahwa dia akan mengambil foto yang akan membuat Guevara menjadi sebuah tokoh dunia.

Sumber gambar, François ANCELLET/Gamma-Rapho via Getty Images
Foto yang kemudian terkenal sebagai Guerrillero Heroico (Gerilyawan Heroik) berasal dari versi yang lebih besar dan tidak dipotong.
Di foto aslinya, di sisi kiri Guevara ada pohon kelapa dan ada foto pria lain di sisi kanannya. Karena foto itu diambil pada pemakaman setelah terjadi serangan di Havana, maka Guevara mengenakan pakaian militer resmi, termasuk topi baret bintangnya yang terkenal.
Saking lekatnya foto ini dalam pikiran kita — dan mungkin menjadi poster di kamar kita saat remaja — maka kita membayangkan Guevara selalu memakai topi baret itu, tapi sebenarnya tidak.
Jadi, Korda tak hanya mengambil foto yang menunjukkan keunggulan militer si subjeknya, tapi saat dipotret, Guevara juga sedang melihat ke arah massa, dan dia sedang bersiap-siap berpidato.
Dia bukanlah sosok gerilyawan yang tertawa dan mengisap cerutu yang kita lihat di foto-foto lain; tapi Guevara adalah sosok pria dengan tatapan yang kuat dan penuh makna.
Foto itu tak akan punya kekuatan yang sama jika tidak dipotong, atau jika Guevara melihat ke lensa dan jika dia tak mengenakan baret. Foto ini seolah citra abadi yang mewakili harapan, dan digabung dengan baret, foto ini seolah menjadi simbol janji perlawanan abadi terhadap kapitalisme.
Tapi sebenarnya bukan foto ini saja yang menjadikan Guevara sebagai ikon.
Ubah foto menjadi lebih bermakna — dan tunggu sampai subjeknya meninggal
Jika Anda tak tahu foto Korda yang terkenal itu, maka mungkin Anda mengenalnya dari versi poster tahun 1967 karya seniman Irlandia, Jim Fitzpatrick, yang mengolah foto tersebut.
Ikon bukan hanya terbatas pada foto jurnalistik saja; tak ada tuntutan untuk membuat semuanya 100% sesuai fakta, terutama jika seorang seniman yang menghasilkan citra tersebut, dan bukan seorang wartawan.
Yang terpenting, Fitzpatrick membuat karya tersebut tak lama setelah Guevara meninggal.
Menurutnya, "Saya pikir dia adalah salah satu pria terhebat yang pernah hidup dan saya masih tetap berpikir seperti itu. Dan saat dia dibunuh, saya memutuskan saya harus melakukan sesuatu, maka saya membuat poster. Saya merasa foto ini harus tersebar, atau dia tak akan dikenang secara layak, dia akan pergi ke mana pahlawan biasanya pergi, yaitu menjadi sosok anonim."

Sumber gambar, PAUL FAITH/AFP/Getty Images
Penggunaan warna merah di sini pun sudah diperhitungkan. Banyak kritikus yang membahas 'Pengkristusan' Che Guevara; karena warna merah yang biasanya identik dengan komunisme juga sejalan dengan pengorbanan dan pertumpahan darah.
Bahkan foto Guevara setelah dia meninggal pun dibanding-bandingkan dengan tubuh kurus Yesus setelah disalib. Namun berbeda dari foto Korda, ikon karya Fitzpatrick memang bertujuan untuk mengenang Guevara.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Andy Warhol atas karya seni ikoniknya akan Marilyn Monroe, tak lama setelah Monroe meninggal, dengan mengadaptasinya dari sebuah foto publisitas untuk salah satu filmnya.
Coco Dávez, seorang seniman Spanyol yang banyak mengerjakan seni Pop ikon modern, melihat kekuatan dari dua karya tersebut. Menurutnya, kedua karya itu mengubah status para subjeknya.
"Che Guevara bukan sosok yang tak relevan sebelumnya, tapi di sini dia menjadi ikon; untuk Warhol dan karya Marilyn Monroe-nya, ini seolah menjadi ikon-meta. Dia sudah menjadi ikon, tapi karya ini membuatnya menjadi ikon-super."

Sumber gambar, Robert Alexander/Getty Images
Warhol menggunakan gambar Marilyn dengan cara yang cerdas, dengan beberapa kali mengadaptasinya; dalam lukisan dyptich yang terkenal itu, replikasi wajahnya menekankan statusnya sebagai selebritas dan betapa sosoknya direproduksi secara massal di seluruh dunia.
Warna-warna yang dihasilkan tidak realistis, begitu pula citra dua dimensi wajahnya; dia tampak berjarak, jauh dari jangkauan, bukan lagi aktris manusia yang posternya ada di mana-mana, tapi kini telah menjadi ikon agung yang melebihi Hollywood.
Dengan cara yang sama, Gold Marilyn Monroe memparodikan rambut pirang dan riasan wajahnya, memainkan beberapa penanda ikonik yang diasosiasikan oleh dunia pada Marilyn, tapi Warhol mengelilingi Marilyn dengan emas seperti layaknya seorang Madonna Byzantium.
Pilih subjek yang sudah menjadi pahlawan
Setelah melihat Marilyn Monroe dan Che Guevara, sulit untuk melihat karya Hope dari seniman Shepard Fairey yang menggambarkan Obama tanpa menyadari ada sesuatu yang mirip di sana.
Karya Fairey hampir merupakan kombinasi dari dua karya sebelumnya; ada unsur Pop-art dari Warhol dan tatapan jauh dari guerrillero karya Korda. Bagi Dávez, ikon adalah "karakter yang sudah dibayangkan oleh dunia."
Karya ini menjelaskan apa yang membuat citra Obama begitu kuat dalam imajinasi Amerika. "Sebuah citra yang sudah populer di politik diambil dan kemudian karakternya diubah menjadi karya seni," kata Dávez.

Sumber gambar, Getty Images
Karya ini membuat foto pers biasa menjadi poster yang bisa diangkat di aksi-aksi demonstrasi dan ditempel di tembok-tembok.
'Hope' menggunakan skema warna bendera AS, atau mungkin kombinasi dari warna-warna Demokrat dan Republikan; menurut Ryan, gambar itu mewakili "persatuan negara lewat Obama… menggantikan warna kulitnya dengan biru, merah, dan putih — warna-warna bendera Amerika — dan juga tak menonjolkan identitas rasial Obama sambil menguatkan patriotismenya, mempermainkan asumsi bahwa orang kulit berwarna bukan orang Amerika."
Karena terkesan datar dan tanpa gradasi warna, ikon karya Fairey sangat mengingatkan akan Pop art dan melawan "kecurigaan akan 'elitisme' Obama" dengan mengasosiasikannya ke karya yang populer dan mudah dicerna."
Karya akan seorang pemimpin sulit untuk dibuat, dan citra ikonik seperti itu mungkin tak akan sukses dengan presiden AS yang tak punya karakter seperti Obama.
Bagi Bailey, "Audiens Barat sudah menjadi sangat sinis akan lukisan pemimpin politik. Anda bisa melihatnya di tempat-tempat seperti Suriah dengan potret Assad, di Korea Utara dengan Kim Jong-il.
Tapi cemoohan baru-baru ini akan lukisan Donald Trump karya Jon McNaughton menunjukkan betapa aneh dan konyolnya kini lukisan seperti itu terhadap audiens Barat.
Selain itu, kita sulit untuk tidak melihat betapa si pelukis tak punya pemahaman akan ironi bahwa gaya yang digunakannya untuk menampilkan Trump itu kebanyakan diasosiasikan dengan seni yang dibuat dalam era diktator."
Sang seniman harus menghormati objek karyanya
Anda tak harus menyukai seseorang untuk menghormati mereka — atau, subjek Anda tak perlu tahu akan apa yang sedang Anda lakukan dengan kamera atau kuas untuk mengubah mereka menjadi ikon.
Winston Churchill tak terlalu senang saat fotografer Yousef Karsh berusaha mengabadikannya pada 1941; setelah dengan sopan meminta Churchill untuk berhenti merokok, Karsh harus mengambil cerutu dari mulut Churchill untuk mengambil fotonya.
Menurut Karsh, Churchill terlihat "begitu marah dan agresifnya, sampai-sampai dia seolah bisa menelan saya bulat-bulat. Dan pada saat itulah saya mengambil fotonya."
Meski foto itu tidak menunjukkan sisi terbaik Churchill, tapi kemarahannya di situ membantu membuat foto ini menjadi gambar yang kuat.

Sumber gambar, Camera Press
Foto ini, menurut Dávez, adalah sesuatu yang rumit. Ikon-ikonnya selalu terhubung dengan sosok pahlawan pribadi.
"Saat saya bekerja di media dan mengambil foto, orang-orang yang tak dekat dengan saya, maka Anda menjadi orang yang membantu menyampaikan suatu cerita. Tapi saat seni menjadi sesuatu yang bebas, saat Anda bebas melukis apa yang mau Anda lukis, seperti yang saya lakukan di Faceless, maka saya memilih. Saya memilih orang-orang yang terhubung dengan saya."
Churchill bukanlah orang yang secara personal dia pilih untuk dimasukkan dalam citra ikonografis orang-orang Inggris. Tapi banyak orang yang menganggap Churchill sebagai seorang ikon — dan banyak yang akan merujuk ke foto ini.
Pada masa awal penyebaran Kristen, seniman yang melukis ikon-ikon harus sangat religius, atau malah para pendeta.
Pembuatan ikon dianggap mirip dengan berdoa, selain juga penghormatan akan subjek lewat pemujaan yang dilakukan terhadap hasil akhir karya tersebut; para pembuatnya punya cinta yang mendalam terhadap karakter Injil yang mereka lukis.
Alberto Korda adalah seorang komunis yang tak pernah meminta royalti akan penggunaan foto Che Guevara yang diambilnya, dan Jim Fitzpatrick juga menganggap Guevara sebagai tokoh idola.
"Di masa depan, kita semua akan terkenal selama 15 menit".
Kutipan terkenal Warhol ini seolah lebih menyatakan sinisme daripada idealisme. Tapi pemahaman dan rasa hormatnya terhadap seorang sosok bintang seperti Monroe terlihat jelas dalam cara Warhol mengolah karyanya.
Fotografer Edward Steichen mengatakan bahwa "potret tak dibuat di dalam kamera tapi di kedua sisinya."
Dalam hal ikonografi modern — baik lukisan maupun foto — ada kebenaran dalam pernyataan itu. Jika bukan karena kepribadian unik dari subjek atau ikonografer berbakat yang ada di tempat dan waktu yang tepat — maka foto-foto tersebut akan hilang dalam tumpukan kekayaan visual era ini.

Anda bisa membaca versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris di How to create an iconic image di laman BBC Culture











