Bagaimana film-film Disney membentuk cara pandang penontonnya

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Richard Gray
- Peranan, BBC Worklife
Kemungkinan besar, sistem kepercayaan Anda saat ini dipengaruhi oleh bertahun-tahun menonton film animasi.
Generasi yang kini sudah menjadi pekerja, adalah generasi pertama yang tumbuh besar dengan animasi panjang pada awal perkembangan mereka.
The Little Mermaid pertama kali keluar 30 tahun lalu, dan kurang dari enam bulan kemudian dirilis di video untuk dilihat di rumah. Ini adalah terobosan penting bagi Disney, yang biasanya menunggu beberapa tahun sebelum merilis film di VHS.
Film-film 1990-an selanjutnya, termasuk Beauty and the Beast,Aladdin, Lion King, Pocahontas, dan dua film Toy Story pertama, juga dirilis dalam video sekitar setahun setelah rilis bioskop mereka.
Dan kemudian datang DVD. DVD animasi pertama Disney adalah rilis ulang The Little Mermaid pada 1999. DVD tidak perlu digulung ulang dan lebih tahan lama meskipun berulang kali ditonton. DVD adalah "pengasuh elektronik" yang sempurna.
Apakah Anda bersiul saat bekerja? Atau lebih suka terus berenang? Mungkin juga Anda sedang mencoba menyesuaikan kekuatan kosmik fenomenal dalam ruang hidup yang mungil dan asyik.
Jika salah satu frasa ini tak asing di dalam kesadaran Anda, sepertinya Anda adalah anak Disney. Anda dibesarkan dengan cerita riang gembira untuk menyibukkan Anda, sementara orang tua Anda menikmati satu jamnya yang berharga tanpa harus mengawasi Anda.

Sumber gambar, Getty Images
Tetapi apakah campur aduk moralitas, stereotip, dan percikan sihir Disney berdampak jangka panjang pada generasi orang dewasa ini, yang pada suatu hari, melahap film-film ini saat anak-anak? Dan mungkinkah itu memengaruhi perilaku rekan kerja Anda di kantor atau bahkan mempengaruhi karier masa depan Anda?
"Disney cukup meresap dalam budaya modern kita," kata Martyn Griffin, seorang pakar persepsi budaya pekerjaan dan organisasi di Durham University di Inggris.
"Video rumahan yang ditonton berulang kali memaparkan anak-anak pada ide-ide dalam film-film Disney. Jika mereka melakukan ini sejak usia muda, pasti akan berdampak. "
Dilihat dari permukaan, kartun ini adalah hiburan yang tidak berbahaya. Tapi beberapa peneliti telah menyuarakan keprihatinan tentang hal-hal yang tanpa disadari terkandung dalam film-film Disney.

Sumber gambar, Getty Images
Mungkin kritik yang paling umum adalah penggambaran stereotip gender, ras dan budaya di masa lalu. Lagu pembuka Arabian Nights pada film Aladdin, misalnya, berisi baris "di mana mereka memotong telingamu jika mereka tidak menyukai wajahmu" ketika dirilis pada 1993. Disney kemudian mengubah liriknya.
Dampak abadi stereotipe
Para peneliti membagi bagaimana Disney menggambarkan perempuan menjadi beberapa era yang berbeda.
Pertama adalah era domestik, ketika karakter wanita seperti Snow White, Sleeping Beauty dan Cinderella digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang tugasnya beres-beres dan butuh diselamatkan oleh laki-laki.
Kemudian datanglah fase puber dan pemberontak seperti Ariel di The Little Mermaid, Princess Jasmine di Aladdin, Pocahontas, dan Mulan. Selama periode ini, perempuan Disney tampak lebih mandiri, berusaha untuk membebaskan diri dari ikatan masyarakat. Tapi Ariel juga mengorbankan suaranya demi bersama pria yang dicintainya.
"Simbolisme di sini sangat kuat," tulis Mia Adessa Towbin dan rekan-rekannya di departemen studi keluarga di Colorado State University dalam penelitian mereka. "Untuk memenangkan cinta sang pangeran, dia harus kehilangan pikiran dan kecerdasannya, kemandirian dan identitasnya."
Meskipun cerita ini awalnya ditulis oleh Hans Christian Andersen, para peneliti mengatakan bahwa cerita ini menjadi metafora yang tepat untuk banyak pahlawan perempuan Disney: "tidak ada yang mendengarkan kata-kata mereka".
The Little Mermaid dan lima film berikutnya juga menunjukkan tren lain: karakter perempuan berbicara lebih sedikit. Meskipun mereka adalah karakter yang ada di judul, waktu perempuan berbicara hanya 32% di The Little Mermaid, 24% di Pocahontas dan 23% di Mulan. Di Aladdin, karakter wanita hanya punya 10% dari dialog.

Sumber gambar, Getty Images
Carmen Fought dan Karen Eisenhauer, ahli bahasa di North Carolina State University yang analisisnya menghasilkan angka-angka ini, juga menemukan karakter laki-laki dalam film-film yang disebutkan itu, menjadi bos karakter perempuan.
Porsinya jauh lebih banyak daripada ketika para perempuan menjadi bos para laki-laki. Ketika perempuan melakukannya, mereka lebih sopan daripada pria. Tingkat ketidakpastian dalam dialog karakter perempuan juga dinilai meningkat.
Bagi para kritikus, temuan itu memberi pesan kuat kepada anak-anak kecil untuk memelihara stereotip gender lama. Dan ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa kesan ini akan abadi.
Peneliti kehidupan keluarga Sarah Coyne di Universitas Brigham Young terinspirasi oleh kekhawatiran konsumsi putrinya sendiri terhadap Disney.
Penelitiannya menemukan bahwa anak perempuan berusia sekitar dua tahun yang terpapar pada putri-putri Disney menjadikan mereka terpengaruh pandangan stereotip untuk perempuan yang lebih besar, dan kepercayaan diri yang rendah bertahun-tahun kemudian.
Menjelekkan orang yang sakit mental
Disney juga dikritik soal bagaimana mereka menggambarkan kesehatan mental.
85% dari 34 fitur animasi Disney yang dirilis sebelum 2004 mengandung referensi penyakit mental, seringkali dengan cara yang bertujuan untuk merendahkan atau meminggirkan karakter, menurut para peneliti psikologi di University of Calgary.
Mereka memperingatkan bahwa ini bisa berakibat "implikasi bagi pemirsa anak yang akan belajar berprasangka" pada mereka yang dianggap punya masalah kesehatan mental.
Tim peneliti yang sama juga memperingatkan bahwa tingginya prevalensi penyebutan "kejahatan" di film-film Disney juga dapat membuat anak-anak belajar untuk "menjelekkan orang yang terlibat dalam perilaku yang dianggap 'buruk' jika mereka menonton film berulang kali.
Fred Zimmerman, seorang ekonom perilaku di University of California, Los Angeles, menduga bahwa hal itu memberi kontribusi terhadap masalah sosial yang lebih luas saat ini.
"Film-film Disney hampir selalu menghadirkan pertempuran antara Kebaikan and Kejahatan," kata dia. "Mau tak mau orang pun bertanya-tanya, apakah pemahaman ter-Disney tentang dunia ini sebagai perjuangan antara orang baik dan orang jahat, adalah bagian dari masalah polarisasi politik dan pengucilan sosial saat ini."

Sumber gambar, Getty Images
Kelebihan yang tersembunyi
Tetapi ada juga banyak potensi efek positif menonton film-film Disney. Satu studi menunjukkan bahwa menonton karakter Disney membantu satu sama lain mengilhami anak-anak untuk membantu teman mereka.
Penelitian lain oleh Coyne mengungkapkan bahwa film-film Disney penuh dengan perilaku "prososial", seperti berbagi, membantu orang lain, memberikan pujian atau dukungan. Dia dan koleganya menemukan bahwa film-film Disney mengandung rata-rata satu perilaku prososial setiap menit, atau sekitar tujuh kali lebih banyak dari program televisi anak-anak lain di AS.
Griffin percaya bahwa pesan yang dipelajari oleh anak-anak dari film dapat dibawa ke tempat kerja. Ada kemungkinan orang yang duduk di dekat Anda di kantor punya prinsip yang dibentuk oleh Disney.
Dia mempelajari bagaimana gambaran pekerjaan dalam film-film Disney dan itu mungkin berperan pada keengganan tenaga kerja muda bergabung dengan tempat kerja tradisional.
Generasi millenial menuntut fleksibilitas yang jauh lebih besar dari pengusaha daripada generasi sebelumnya, lebih bersedia untuk berganti pekerjaan dan perusahaan, dan seringkali lebih memilih wirausaha daripada dikekang kontrak penuh waktu.
"Dalam film-film awal, pekerjaan selalu digambarkan sebagai hal buruk yang mengerikan," kata Griffin. "Para karakter sering dipisahkan dari orang tua mereka dan dihukum di dunia kerja, seperti Putri Salju yang mengisi ember cuci dan bekerja keras di rumah dan Cinderella yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga."
"Tanggapan Disney adalah mengatakan 'bersiullah saat bekerja' lalu semuanya akan beres karena seorang pangeran akan datang dan menyelamatkanmu," katanya. "Itu berlangsung di film selama bertahun-tahun."
"Di tempat kerja modern, itu adalah pandangan yang berbahaya, yaitu ketika Anda terus dieksploitasi karena Anda pikir nantinya semuanya akan jadi baik-baik saja."
Para manajer juga biasanya digambarkan sebagai orang yang manipulatif dan mengerikan, misalnya saudara tiri jelek Cinderella.
Ini mungkin juga menjelaskan ketidakpuasan kaum millenial yang adalah anak-anak selama akhir 1990-an, terhadap pekerjaan.
Disney sendiri tidak menanggapi BBC yang berulang kali meminta wawancara atau tanggapan untuk artikel ini. Tetapi dalam film-film terbaru Disney, banyak peneliti telah memperhatikan perubahan yang nyata. Griffin, misalnya, mengatakan bahwa kini karier digambarkan lebih positif dan sebagai sesuatu yang dicita-citakan.
"Zootopia adalah film Disney yang memberi contoh bagus tentang pekerjaan," kata Griffin.
"Ada kelinci yang ingin menjadi perwira polisi dan dia ditertawakan, tetapi di sepanjang film dia berusaha membuktikan dirinya. Film-film terbaru juga memberi pesan untuk mendekati teman demi membantu mencari jati diri dan membantu soal tempat kerja. Itu pesan yang sangat positif. "
Karakter perempuan dalam Frozen, Brave dan Moana juga mewakili era Disney yang baru: mandiri, dan bersemangat. Mereka kuat, mengendalikan hidup mereka sendiri dan tidak lagi membutuhkan karakter pria untuk menyelamatkan mereka.

Sumber gambar, Getty Images
Tetapi sementara Brave dan Moana dianggap benar-benar memberontak dari tipikal putri Disney, ada perdebatan soal pahlawan perempuan Frozen.
"Perusahaan berusaha mengikuti perkembangan zaman dengan mengacu pada kesetaraan dan representasi gender," kata Ingvild Kvale Sørenssen, yang mempelajari hubungan anak-anak dengan Disney di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia.
"Bagaimana hal ini memengaruhi [anak-anak jangka panjang] kita tidak tahu, tetapi representasi itu penting, keberagaman itu penting. Dan bisa bermimpi dan membayangkan diri sendiri sebagai karakter, dan bahkan hanya demi dihibur, bukanlah hal yang buruk. "
Mungkin yang paling disambut adalah pembuatan ulang animasi Disney klasik seperti Aladdin dan Mulan.
Awal bulan ini Disney mengumumkan memilih penyanyi dan aktris R&B Halle Bailey untuk peran Ariel dalam versi live-action The Little Mermaid. Keputusan ini mendapat reaksi keras dari beberapa penggemar, tetapi mendapat banyak tepuk tangan.
"Pembuatan ulang Disney dari karya-karya era sebelumnya sangat berdampak bagi anak-anak kulit berwarna dan untuk keragaman global," kata Shearon Roberts, yang mempelajari perubahan wajah kesadaran sosial Disney di Xavier University of Louisiana di New Orleans.
"Disney pada dekade ini menawarkan kepada anak-anak perempuan untuk meraih mimpi mereka di luar kastil dan meraih kemampuan mereka secara penuh.
"Itu juga pesan untuk anak laki-laki. Perempuan dan anak-anak perempuan bukan hanya objek kasih sayang, tetapi sekutu dalam menyingkirkan kejahatan, dan membuat dunia lebih baik untuk semua. "

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Bagaimana Disney membentuk cara kita memandang dunia di laman BBC Worklife












