Apa yang salah dari pemikiran insinyur Google James Damore?

Sumber gambar, Leon Neal/Getty Images
- Penulis, Angela Saini
- Peranan, BBC Capital
Google memecat insinyurnya, James Damore setelah dalam memo yang ditulisnya ia menyebut bahwa kesenjangan gender terkait dengan fakta biologis. Namun sebetulnya faktor sosial dan budaya merupakan penyebab yang mungkin lebih menjelaskan, tulis Angela Saini.

Dalam salah satu bukunya yang paling berpengaruh, Charles Darwin membuat sebuah observasi mengenai perempuan.
Sejauh yang dapat dikatakannya, perempuan tampaknya sangat kurang dalam setiap aspek kehidupan dibandingkan laki-laki:
"Perbedaan yang paling besar dalam kekuatan intelektual kedua seks (ditunjukkan) oleh pria yang mencapai keunggulan yang lebih tinggi, dalam apapun yang dilakukannya, dibandingkan apa yang dapat dicapai perempuan," tulisanya dalam Descent of Man yang dipublikasikan pada 1871.
Apa yang dapat menjelaskan perbedaan ini?

Sumber gambar, Getty Images
Dia mengasumsikan bahwa perempuan pasti inferior secara biologis. Tentu saja, dia mengabaikan bukti yang berlimpah di sekitarnya bahwa perempuan tidak memiliki kebebasan dan kesempatan yang sama seperti laki-laki.
Peneliti, arsitek dan politisi perempuan jelas sekali jarang ditemui di era Victoria di Inggris, dan masyarakat pada jaman itu juga tidak memberikan hak memilih kepada perempuan, mengingkari hak perempuan menikah untuk dapat memiliki properti, atau sekolah hingga level universitas.
Darwin jatuh ke perangkap yang gampangan saat menafsirkan ketidaksetaraan struktural sebagai perbedaan biologis
Dia bias. Sejenius apapun Darwin sebagai peneliti, dia tetap saja dibutakan oleh prasangka jika terkait perempuan. Namun, bagaimanapun, dia seorang pria jaman Victoria.
Sekarang dasar-dasar untuk seksisme yang mengerikan jah lebih sedikit, namun banyak yang masih gagal dan jatuh ke perangkap yang sama ketika berbicara tentang perbedaan gender.
Google dan kesenjangan gender
Sebuah memo yang sekarang menjadi terkenal yang ditulis oleh seorang pria muda insinyur perangkat lunak, James Damore, pada bulan ini menyebutkan bahwa kesenjangan representasi gender di beberapa perusahaan berbasis teknologi dan peran yang lebih penting di perusahaan tempatnya bekerja, Google, mungkin karena faktor biologi.
"Begitu kita menyadari bahwa tidak semua perbedaan dibangun secara sosial atau akibat diskriminasi, akan trbukalah mata kita," tulis Damore.

Sumber gambar, Getty Images
Respon balik dengan cepat muncul dan Damore kemudian diberhentikan dari perusahaan. Respon dari seluruh dunia muncul bergelombang, baik mengkritik Damore maupun yang membelanya. Pada Kamis (10/8), CEO Google Sundar Pichai tiba-tiba membatalkan sebuah pertemuan perusahaan mengenai kontroversi tersebut akibat kekuatiran adanya ancaman kekerasan lewat internet terhadap Damore.
Namun ilmu mengenai perbedaan gender hanya dapat dimengerti bersama dengan faktor-faktor sosial yang menciptakan kesenjangan, dan dengan pengertian bahwa bias itu dapat mengingkari apa yang dikatakan para peneliti kepada kita.
Insinyur Google itu berspekulasi mengenai apakah "keadaan alami manusia" dapat menjelaskan mengapa hanya ada sedikit perempuan di teknologi, melupakan bahwa Silicon Valley telah dilanda wabah kasus-kasus seksisme, kekerasan seksual dan diskriminasi.
Survei terbaru menemukan bahwa sebanyak 60% perempuan pernah menjadi target perlakuan seksual yang tidak diinginkan oleh atasan mereka. Dengan ukuran apapun, masalah Silicon Valley dengan perempuan melampaui 'keadaan alami' mereka.
Bagaiamanapun, seperti sikap kita ke Darwin, begitupun ke Damore: dia tidak sendirian membuat kesalahan seperti ini. Stereotip gender mendarah daging di banyak kita sejak kita dilahirkan. Dari mainan yang diberikan kepada kita dan cara kita ditangani dan dikomunikasikan, manusia terus menerus diperlakukan berbeda tergantung gendernya.
Riset dan prasangka

Sumber gambar, Getty Images
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak sejauh usia lima tahun telah menerima sebuah konstelasi asumsi mengenai perilaku sosial yang dianggap sesuai gender mereka.
Dalam sebuah eksperimen, para peneliti menunjukkan ke anak-anak gambar orang-orang melakukan kegiatan sehari-hari, untuk melihat bagaimana mereka mengingat kembali gambar-gambar tersebut setelahnya. Saat ditunjukkan sebuah gambar anak perempuan menggergaji pohon, sebagian salah mengingat dengan mengatakan bahwa gambar itu menunjukkan seorang anak laki-laki.
Merontokkan prasangka ini adalah salah satu tantangan terbesar dalam tempat kerja yang didominasi laki-laki.
Salah satu masalah stereotip adalah cenderung memperkuat status quo masyarakat, menjaga ketertiban sosial sebagaimana adanya. Umum diketahui bahwa pemimpin cenderung mempekerjakan dan mempromosikan orang-orang yang mengingatkan mereka akan diri mereka, yang membuat organisasi yang didominasi laki-laki jadi makin jauh dari suatu keragaman.
Sementara itu, yang berusaha mengubah status quo bisa mendapati diri mereka kena sanksi. Sebuah penelitian terbaru di AS menemukan bahwa perempuan dan kaum minoritas yang bersikap menghargai keragaman dinilai lebih buruk oleh pemimpin mereka. Para peneliti berspekulasi apakah ini karena pandangan mereka dikaitkan ke gender atau ras mereka, yang memicu stereotip gender dan ras di pikiran orang.
Mungkin butuh beberapa generasi untuk membasmi seksisme struktural. Ada triknya, bagaimanapun, agar perubahan terjadi lebih cepat. Uji bias implisit dapat membantu orang-orang mengidentifikasi prasangka bawah sadar mereka. Bersikap terbuka tentang upah juga membantu baik perempuan dan laki-laki menyadari dengan cara kuantitatif apakah mereka sedang diperlakukan tidak adil. Mekanisme yang dapat menjadi pendekatan lebih langsung, seperti diskriminasi positif dan kuota, dapat mengubah keseimbangan lebih cepat,kendati tidak mengatasi masalah prasangka yang lebih dalam.
Tidak semua orang senang dengan inisiatif-inisiatif seperti itu. James Damore mengakui bahwa memonya ke pekerja Google sebagian muncul karena merespon program keragaman perusahaan, yang menurutnya 'tak adil dan memecah-belah.' Tulisnya: "Kita belum pernah bisa mengukur dampak dari pelatihan Bias Bawah Sadar yang justru memiliki potensi berakibat buruk atau perubahan yang keliru."
Pada akhirnya, perjuangan terbesar menuju kesetaraan adalah di pikiran kita. Cara terbaik untuk menanggulangi seksisme dan bentuk prasangka lain adalah menantang diri kita untuk berpikir lebih hati-hati mengenai perbedaan yang kita lihat, dan bukannya menarik kesimpulan begitu saja.

Anda dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul What Google engineer James Damore got wrong di BBC Capital














